Pertemuan Reagan dan Gorbachev Mencegah Pecahnya Perang Dunia III

Sejarah
NIKOLAY SHEVCHENKO
Meski negosiasi kedua pemimpin negara adidaya sempat buntu dan bahkan saling ejek, mereka berhasil mencegah Perang Dunia III dan mengakhiri Perang Dingin.

Akhir 1970-an dan awal 1980-an bukanlah waktu terbaik dalam hubungan Soviet-Amerika: Uni Soviet mengirim pasukan ke Afghanistan dan Amerika Serikat (AS) bekerja keras untuk memberi Soviet "Perang Vietnam" mereka sendiri. Selain itu, tidak ada pertemuan antara pemimpin kedua negara adidaya sejak Presiden AS Jimmy Carter bertemu Pemimpin Soviet Leonid Brezhnev di Wina pada 1979.

Setelah wafatnya pemimpin Soviet Chernenko pada 1985, terjadi perubahan tak terduga dalam politik Soviet. Pada tahun yang sama, atas rekomendasi Andrei Gromyko yang berpengaruh, elit politik Soviet memilih Mikhail Gorbachev (yang saat itu berusia 54 tahun) sebagai Sekretaris Jenderal Uni Soviet yang baru.

Sang pemimpin baru Soviet itu memiliki ide-ide segar tentang kebijakan luar negeri Soviet, hubungan Soviet-Amerika, Perang Dingin, dan perlombaan senjata dengan AS. Gorbachev bersiap untuk melepaskan diri dari konsep strategis Mutually Assured Destruction (MAD — 'Kepastian Saling Menghancurkan'), yaitu sebuah teori yang menetapkan bahwa kedua negara adidaya nuklir itu aman, selama mereka memiliki hulu ledak nuklir yang cukup untuk benar-benar memusnahkan satu sama lain jika salah satu dari mereka meluncurkan rudal terlebih dahulu. Sebagai gantinya, Gorbachev membuka peluang untuk mengeksplorasi potensi gagasan "keamanan bersama", dengan berpikir bahwa Soviet dapat mengamankan diri dari serangan AS dengan membina kerja sama dengan musuh ideologisnya.

Di sisi lain Tirai Besi, Presiden ke-40 AS Ronald Reagan mengembangkan rencana untuk membatasi potensi nuklir Soviet dan mengamankan AS dari potensi serangan nuklir, dengan menggunakan teknologi yang memungkinkan militer AS menembak jatuh rudal nuklir yang mendekat dari ruang angkasa. Teknologi itu dikenal sebagai ‘Strategic Defense Initiative’ (SDI  'Inisiatif Pertahanan Strategis'), yang dijuluki "Star Wars" oleh media.

Pada pertengahan 1980-an, kedua belah pihak menyadari kebutuhan untuk menemukan jalan keluar dari perlombaan senjata yang sedang berlangsung antara Tirai Besi dan Paman Sam. Maka, Reagan dan Gorbachev menjadwalkan pertemuan di Jenewa pada 19 November 1985.

Muslihat Mantel

Banyak pengamat Amerika melihat Gorbachev sebagai pemimpin Soviet yang lebih moderat, liberal, dan dapat berkompromi daripada para pemimpin sebelumnya. Selain menyenangi gaya berpakaiannya, mereka juga menyukai isterinya yang menawan, Raisa, yang juga merupakan penasihat terdekat Gorbachev, meski tidak dalam kapasitas resmi sebagai ibu negara. Sementara, sejumlah pengamat Amerika lainnya meyakini bahwa Washington seharusnya tidak jatuh ke dalam perangkap dari apa yang mereka anggap sebagai kesan palsu.

Reagan, yang saat itu berusia 74 tahun, awalnya ragu dengan niat Gorbachev. Namun, ia akhirnya bersedia datang ke Jenewa, dengan ditemani istrinya Nancy. Presiden AS, yang berusia lebih tua, datang ke Jenewa untuk meyakinkan pemimpin Soviet yang lebih muda bahwa meskipun AS tidak mendapat keuntungan dari perlombaan senjata, negaranya pasti akan menang jika hal itu terus berlanjut, sebagaimana yang dikatakan Jack Matlock, mantan penasihat Reagan, yang kemudian menjadi Duta Besar AS untuk Rusia setelah Soviet runtuh.

Delegasi Soviet tiba di Jenewa pada 18 November 1985. Keesokan harinya, Gorbachev dan Reagan bertemu secara langsung untuk pertama kalinya.

Pada hari pertemuan, saat menunggu kehadiran Gorbachev di pagi yang dingin itu, Reagan melihat sang pemimpin Soviet turun dari mobil dengan mengenakan mantel hangat dan topi. Reagan segera melepas mantelnya dan bergegas menemui sang pemimpin Soviet dengan setelan jas elegan.

“Dalam banyak foto yang dipublikasikan, Presiden AS tampak energik, awet muda, dan kuat secara fisik dibandingkan Gorbachev yang mengenakan pakaian hangat. Perbedaan usia mereka tidak terasa sama sekali .… Naluri 'publisitas' Reagan muncul. Gorbachev dengan cepat menyadari hal ini dan ketika para delegasi Amerika tiba (setelahnya) di kediaman kami, dia juga menemuinya dengan setelan jas," tulis Anatoly Dobrynin, Duta Besar Soviet untuk AS pada saat pertemuan itu berlangsung.

Dinosaurus dan Bolshevik Keras Kepala

Yang mengejutkan, pertemuan itu tidak terlalu berhasil. Gorbachev curiga terhadap rencana Reagan untuk memusnahkan efek pencegahan MAD dengan beralih ke SDI dan memperingatkan sang pemimpin AS tentang potensi perlombaan senjata di ruang angkasa.

Reagan menegaskan, SDI tidak boleh dianggap sebagai senjata ruang angkasa, tetapi hanyalah sebuah teknologi pertahanan. Gorbachev juga tidak mempercayai janji Reagan untuk berbagi teknologi itu dengan Soviet setelah selesai dikembangkan.

Pada akhirnya, Gorbachev dilaporkan menyebut Reagan seorang konservatif dan "dinosaurus", sementara sang presiden AS menyebut sang pemimpin Soviet sebagai "Bolshevik keras kepala".

Meskipun hari pertama negosiasi berakhir dengan jalan buntu, para pengamat melihat sesuatu yang sudah lama tidak mereka lihat dalam hubungan Soviet-AS: kecocokan pribadi antara kedua pemimpin terlihat jelas. 

“Kecocokan pribadi antara satu sama lain terlihat jelas. Sikap yang santai, senyuman, dan niat yang tulus, semuanya terlihat,” tulis Sekretaris Negara Reagan, George P. Shultz.

Negosiasi antara Reagan dan Gorbachev terus berlanjut hingga akhirnya mencapai pemahaman bersama bahwa kedua belah pihak harus bekerja untuk menghentikan perlombaan senjata. Kedua pemimpin negara adikuasa pun sepakat mengeluarkan pernyataan bersama yang berfungsi sebagai dasar untuk apa yang akan segera menjadi akhir dari Perang Dingin.

Pesan utama dari pernyataan bersama tersebut berbunyi: “Para pihak, setelah membahas masalah keamanan utama dan menyadari tanggung jawab khusus Uni Soviet dan AS untuk memelihara perdamaian, telah sepakat bahwa perang nuklir tidak dapat dimenangkan dan tidak boleh terjadi sampai kapan pun. Menyadari bahwa konflik apa pun antara Uni Soviet dan AS dapat menimbulkan konsekuensi bencana, mereka menekankan pentingnya perang apa pun di antara mereka, baik nuklir maupun konvensional. Mereka tidak akan berusaha mencapai superioritas militer."

Presiden ASJoe Biden memiliki sejarah panjang dengan Rusia. Ia bahkan pernah menawarkan pekerjaan yang mustahil kepada Vladimir Putin.