Bagaimana Nilai-Nilai Ideologi Rusia Berubah Selama Berabad-abad?

Sejarah
GEORGY MANAEV
Dalam sejarahnya, orang-orang Rusia telah mengalami banyak tantangan. Ideologi dan kepercayaan terhadap sesuatu yang lebih besar dari realitas mereka sering menjadi pendorong yang menginspirasi orang-orang Rusia untuk meraih pencapaian besar. Dalam tulisan ini, kami membahas ideologi Rusia selama 5 abad terakhir dan seterusnya.

Abad ke-16: Roma Ketiga

Pada pertengahan abad ke-15 Kekaisaran Bizantium jatuh, tetapi tepat sebelum itu terjadi Sofya Paleolog, putri kaisar terakhirnya, pergi ke Moskow untuk menikahi Pangeran Agung Ivan. Beberapa dekade kemudian, cendekiawan dan biarawan Philotheus dari Pskov (1465–1542) muncul dengan konsep Moskow sebagai “Roma Ketiga". Yang pertama adalah Roma sendiri; yang kedua - Konstantinopel; dan yang ketiga - Moskow, yang sekarang menjadi benteng terakhir Kristen Ortodoks yang tersisa.

Moskow mewarisi lambang Bizantium yaitu elang berkepala dua, yang merupakan simbol pelestarian iman "sejati". Konsep ini berakar pada ide-ide eskatologis, menggambarkan Moskow sebagai “Kekaisaran Ortodoks terakhir", diperintah oleh raja yang saleh dan bijaksana yang juga sebagai kepala Gereja Ortodoks. Ideologi ini bekerja dengan baik untuk ideologi Tsarisme yang didirikan oleh Ivan yang Mengerikan.

Abad ke-17: Simfoni gereja dan negara

Pada 1589, ketika Ayub menjadi Patriark pertama Moskow, Gereja Ortodoks Rusia memperoleh kemerdekaannya dari Patriark di Konstantinopel. Pada pertengahan abad ke-17, ketika Patriark Nikon memulai reformasi gerejanya, ia dan Tsar Alexis menggunakan konsep Bizantium “simfoni” - persatuan kekuatan gerejawi dan sekuler. Sementara reformasi Nikon akhirnya menyebabkan perpecahan di dalam Ortodoks Rusia, dan Patriark akhirnya dicabut kekuasaannya, pada akhir abad ke-17 Gereja berada di posisi kuat secara finansial dan ideologis.

Abad ke-18: Pelayanan terhadap negara, kesetiaan kepada Tsar

Pyotr yang Agung menciptakan ideologi negara baru selama reformasinya, memberlakukan perubahan yang menjangkau seluruh Rusia. Setelah mengunjungi Eropa, ia mengumumkan hukum yang mewajibkan setiap bangsawan untuk melayani negara, mematuhi perintah Tsar tanpa syarat, dan pada saat yang sama mematuhi hukum sipil, yang merupakan dasar negara. Ketika Petrus diproklamasikan sebagai kaisar, ia menghapuskan jabatan Patriark, dan sekali lagi memusatkan kekuatan sekuler dan religius di tangan Tsar.

Abad ke-19: Ortodoksi, Autokrasi, dan Kebangsaan

"Untuk Iman, Tsar, dan Tanah Air" adalah moto semi-resmi dan seruan bagi para tentara Rusia selama perang Napoleon - juga 'jawaban' untuk moto republik Perancis "Liberté, égalité, fraternité". Pada 1833, Menteri Pendidikan Sergey Uvarov memperkenalkan tritunggal Ortodoksi, Autokrasi dan Kebangsaan - jelas merupakan perluasan makna dari moto militer tersebut di atas.

Ideologi resmi ini menyatukan ide-ide nasional sebelumnya, dan didukung oleh Tsar Nikolai I dan banyak kaum intelek Rusia. Triad menyerukan: 1) pelestarian iman Ortodoks dan perlindungan Gereja; 2) kesetiaan kepada negara dalam bentuk Autokratis, di mana Tsar adalah penguasa tertinggi dan pemimpin dari tanah dan orang-orang; 3) pelestarian tradisi nasional dan hak sipil yang setara untuk semua negara di Rusia. Ketiganya tetap menjadi ideologi resmi sampai kejatuhan kekaisaran pada 1917.

Abad ke 20: Persatuan kaum pekerja

Bolshevik harus menyusun ideologi yang sama sekali baru bagi rakyat Rusia. Di era baru ini, Ortodoksi digantikan oleh ide-ide komunis, dengan Lenin, Marx, dan Engels mengambil tempat kosong dari Tritunggal Mahakudus, yang dilarang bersama dengan semua agama. Setelah kematiannya, Lenin menjadi pemimpin abadi ("Lenin lived, Lenin lives, Lenin will live forever!"), dan Partai Komunis menjadi tubuh yang menyatukan semua orang di dunia ("Pekerja dari semua negeri, bersatu!"). Partai juga mewujudkan kekuatan rakyat, dan Autokrasi secara resmi dihapuskan. Namun begitu, kenyataannya kekuasaan tetap berada di tangan seorang pemimpin tunggal, sama seperti sebelumnya.

Konsep "kebangsaan" diubah menjadi tujuan Uni Soviet sebagai negara internasional yang mempersatukan negara-negara berbeda dalam mewujudkan dunia yang bebas dan adil ("Uni Soviet adalah benteng perdamaian"). Tidak seperti tritunggal, ideologi baru ini memiliki ambisi global - untuk waktu yang lama, Uni Soviet memiliki misi revolusi sosialis dunia.

Abad ke-21: Kesatuan, Patriotisme, Kemerdekaan

Ideologi Komunisme menemui jalan buntu ketika krisis ekonomi dan politik tahun 1980-an mengguncang Uni Soviet, sehingga ia pun runtuh. Ideologi Soviet yang usang dibuang ke tong sampah, dan Federasi Rusia yang baru lahir menghabiskan bertahun-tahun tanpa ideologi resmi sampai Vladimir Putin mengambil alih. Ideologi Rusia saat ini hampir sepenuhnya didasarkan pada ucapan dan nilai-nilai Putin, dan ide paling utamanya adalah kesejahteraan rakyat Rusia. Tujuan ini, menurut Putin, dapat dicapai dengan menggunakan tiga konsep.

Pertama - persatuan orang-orang Rusia (partai politik yang berkuasa disebut Partai Rusia Bersatu) - yang merupakan perwujudan dari konsep "kebangsaan". "Kesatuan kami adalah fondasi terkuat untuk pembangunan masa depan," kata Putin pada 2018 dalam pidato tahunannya kepada Majelis Federal.

Kedua adalah patriotisme, yang "harus didasarkan pada sejarah orang-orang Rusia" dan diperkuat oleh "pengembangan cara hidup sehat yang meliputi latihan fisik dan olahraga" untuk "mencapai hasil teratas dan meraih kemenangan".

Ketiga, semua ini tidak dapat dilakukan tanpa kebijakan luar negeri yang tegas: "Rusia adalah negara dengan lebih dari seribu tahun sejarah, dan hampir selalu menikmati hak istimewa untuk melancarkan kebijakan luar negeri independen," kata Putin. Ia juga menekankan berulang kali bahwa dunia saat ini adalah multipolar, dan tidak akan kembali ke masa bipolar Perang Dingin. Singkatnya, ideologi Rusia hari ini adalah versi modern dan maju dari triad abad ke-19 sebagai ideologi nasional terlama dalam sejarah Rusia dalam beberapa waktu terakhir.