Kenapa Orang Korea di Sakhalin dan Asia Tengah Tak Suka Satu Sama Lain?

Orang Korea Sakhalin telah mengembangkan kombinasi masakan yang unik.

Orang Korea Sakhalin telah mengembangkan kombinasi masakan yang unik.

Poon Gregory/TASS
Saya tak akan lupa bagaimana pada tahun 1980-an salah seorang teman saya terkejut ketika mengetahui betapa dalamnya rasa ketidakpercayaan antara dua kenalannya yang sama-sama merupakan orang Korea Soviet. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai anggota komunitas yang sama: satu dari Uzbekistan, sementara yang lain dari Sakhalin, dan perbedaan tersebut sangat penting untuk dicamkan.

Sekitar setengah juta penduduk yang tinggal di Asia Tengah menganggap diri mereka sebagai orang Korea. Sebagian besar dari mereka — 90 persen bekas warga Korea Soviet — tinggal di negara-negara pecahan Uni Soviet, terutama Kazakhstan dan Uzbekistan. Komunitas besar Korea lainnya — tujuh persen atau sekitar 35 ribu jiwa — dapat ditemukan di Pulau Sakhalin, di bagian Timur Jauh Rusia. Kedua kelompok tersebut secara dramatis memiliki sejarah yang berbeda.

Orang Korea di Asia Tengah adalah keturunan petani Korea yang mulai pindah ke negara ini pada tahun 1860-an karena tertarik dengan tanah subur yang berlimpah. Pada awal 1900-an, mereka bergabung dengan sejumlah aktivis anti-Jepang yang mendapat suaka di Rusia.

Hingga 1937, para pemukim Korea ini tinggal di daerah sekitar Vladivostok, yang di beberapa area, etnis Korea mencakup sekitar 95 persen populasi. Mereka memiliki sistem sekolah mereka sendiri, surat kabar dan penerbitan sendiri, begitu pula dengan toko-toko.

Pada 1937, populasi Korea Soviet dari Timur Jauh Rusia dipindahkan secara paksa ke Asia Tengah, yang kemudian menjadi pusat geografis utama komunitas itu. Relokasi 1937 mempercepat asimilasi. Saat ini, mayoritas orang Korea di Asia Tengah tidak bisa berbicara bahasa Korea.

Warisan Jepang

Orang Korea Sakhalin mendapati diri mereka sebagai bagian dari Uni Soviet dalam keadaan yang sangat berbeda. Mereka tidak pernah berniat bermigrasi ke Rusia, tetapi tanah tempat mereka tinggal secara tiba-tiba berpindah tangan setelah Perang Dunia Kedua.

Pada 1905 – 1945, wilayah selatan Sakhalin merupakan bagian dari Kekaisaran Jepang. Sejak akhir 1930-an, etnis Korea mulai pindah ke daerah ini untuk mencari pekerjaan di industri pertambangan, perikanan, dan kayu. Semakin banyak pekerja dikirim (kerap kali secara paksa) sebagai bagian dari kampanye mobilisasi tenaga kerja di tahun 1940-an. Akibatnya, pada 1945 terdapat sekitar 25 ribu warga Korea di pulau itu.

Ketika pulau tersebut berpindah tangan dan Rusia mengambil alih Sakhalin selatan, penduduk Jepang segera diusir dan dikirim kembali ke Jepang. Namun, penduduk Korea tidak dibiarkan pergi — sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka.

Apa yang Membuat Mereka Berbeda?

Orang-orang Korea Sakhalin berbeda dengan orang Korea di Asia Tengah dalam banyak hal. Banyak dari mereka yang fasih berbahasa Korea — bagaimanapun juga, kebanyakan dari mereka adalah imigran generasi kedua dan ketiga, sementara yang di Asia Tengah berasal dari generasi ketujuh atau kedelapan dari para imigran. Mereka juga berhasil menjaga budaya mereka dengan lebih jelas. Perkawinan campur di kalangan mereka bahkan terbilang baru, yaitu pada pertengahan 1980-an.

Di masa lalu, hubungan antara orang Korea di Asia Tengah dan Sakhalin kerap penuh ketegangan. Politik memainkan peran utama dalam hal itu, sesuatu yang agak mengejutkan.

Orang Korea di Asia Tengah berhasil melestarikan tradisi kuliner mereka.

Orang-orang Korea di Asia Tengah, terlepas dari semua ketidakadilan yang mereka hadapi pada akhir 1930-an, cenderung cukup pro-Komunis dan umumnya pro-Soviet.

Sebaliknya, orang Korea dari Pulau Sakhalin, hingga tahun 1970-an dan 1980-an, tetap terasing dan mencurigai rezim Soviet. Tentu saja ini bukan satu-satunya alasan yang menciptakan ketegangan. Perbedaan dalam budaya, nilai, dan tradisi (pada umumnya orang-orang lebih konservatif di Sakhalin) juga memainkan peran penting.

Meski demikian, perbedaan-perbedaan tersebut kian dilupakan. Generasi baru tak lagi peduli dengan hal-hal semacam itu.

And quiet flows the Han adalah sebuah blog mengenai interaksi historis dan kontemporer antara orang Rusia dan orang Korea. Secara umum, tapi tak selalu, penulis menghindari penulisan isu politik, dan tema utamanya adalah kehidupan sehari-hari, budaya dan kehidupan individu. Dalam blog ini, Dr. Andrei Lankov mengeksplorasi bagaimana budaya Rusia hadir di Korea. Ia membahas migrasi, pernikahan antarbudaya hingga masakan.

Dr. Andrei Lankov, lahir 1963, merupakan sejarawan dengan spesialisasi Korea. Ia juga dikenal akan tulisan jurnalistiknya mengenai sejarah Korea. Ia telah menerbitkan sejumlah buku (empat di antaranya dalam bahasa Inggris) mengenai sejarah Korea. Setelah mengajar sejarah Korea di Universitas Nasional Australia, ia kini mengajar di Universitas Kookmin di Seoul.

Tahukah Anda bahwa hingga hampir Uni Soviet “tutup usia”, tak banyak rakyat Negeri Tirai Besi yang mengenal Korea Selatan? Hubungan diplomatik antara Seoul dan Moskow baru tercipta pada September 1990, ketika Uni Soviet sendiri berada di ambang kehancuran.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More