Budaya Alternatif Soviet: Simbol Pemberontakan, Gaya Anak Muda Negeri Tirai Besi Era '80-an

Sejarah
AIZHAN KAZAK
Stilyagi, kelompok hippie, geng motor, anak punk, rocker, dan metalhead membentuk budaya alternatif yang kerap memicu kemarahan penguasa Soviet. Dengan bantuan seniman Aleksandr Petlura, yang memiliki koleksi terbesar segala hal mengenai Soviet di Moskow, dan sebuah buku berjudul “Hooligan of the 80s” karya Misha Buster, Russia Beyond akan mengulas pemuda-pemuda pemberontak Uni Soviet.

Budaya alternatif di Uni Soviet, sebuah negara yang terputus dari Barat oleh Tirai Besi yang terkenal, terdiri dari “pemberontakan terbuka kaum pemuda terhadap stagnasi ideologis dan budaya,” tulis Misha Buster, penulis Hooligan of 80s. Buku ini merupakan salah satu dari beberapa sumber yang mencatat kisah orang-orang yang hidup di hari-hari terakhir Uni Soviet. Tak ketinggalan, buku itu juga memiliki koleksi foto-foto pribadi yang unik.

Stilyagi (sebutan yang merendahkan bagi pengikut budaya alternatif), kelompok hippie, rocker, anak punk, dan metalhead hidup berdampingan hingga akhir 1980-an meski masing-masing kelompok memiliki tingkat popularitas yang beragam dalam berbagai periode.

Setiap kelompok memiliki tongkrongan yang populer. Attraktsiya, sebuah area di ulitsa Arbat di Moskow, menjadi magnet bagi para penari breakdance, sementara Restauran Zheltok di Lapangan Chistye Prudy populer di kalangan hippie. Kelompok-kelompok budaya alternatif kerap saling bertikai, tapi mereka terkadang bersatu melawan polisi, yang kemudian akan menangkap mereka semua.

Media Soviet menyebut mereka sebagai “nonkonformis” (atau menyimpang) yang dengan sengaja menolak mengikuti seluruh karakter terbaik warga Soviet yang rajin. Mereka bahkan disebut sebagai parasit pemalas dan fasis.

Banyak orang yang diwawancarai dalam buku Buster menyebutkan bahwa banyak anggota kelompok budaya alternatif ini pindah ke luar negeri, sementara beberapa orang berhasil memulai bisnis atau mendapatkan pekerjaan ‘normal’.

Stilyagi (1940-an hingga 1980-an)

Istilah stilyagi, yang sering diterjemahkan sebagai hipster, dandy, atau beatnik, adalah nama kelompok budaya alternatif pertama dari Uni Soviet. Lahir pada akhir 1940-an, mereka berjaya pada 1960-an selama periode Pencairan Khrushchev, yaitu ketika peraturan sensor cenderung lebih longgar (dibandingkan pada era Josef Stalin).

Bersikap apolitis dan memuja gaya asing, mereka mencoba menggunakan barang-barang bermerek luar negeri dan mendengarkan musik Barat. Mereka sangat menyukai swing dan boogie-woogie. Para perempuan mengenakan gaun dan sepatu hak tinggi, sementara pria memilih celana kotak-kotak sempit dan winklepicker berkilap.

Meski gaya mereka sedikit berubah dari waktu ke waktu, stilyagi selalu mengenakan warna-warna berani dan jaket cerah. Aleksandr Petlura mengatakan, “Menjaga sepatu berkilau sangatlah penting, dan mereka memiliki kebiasaan menyeka ujung sepatu mereka di belakang celana mereka, yang membuat kain menipis.”

Hippie (1960-an hingga 1970-an)

Setelah pemuda Soviet berkenalan dengan dunia Barat selama periode Pencairan Khrushchev, banyak subkultur umum lain menjadi populer di negara ini, termasuk hippie. Di permukaan, hippie di Uni Soviet sangat mirip dengan yang ada di Amerika Serikat. Namun, kaum hippie Amerika terutama memberontak melawan konsumerisme, sedangkan rekan-rekan Soviet mereka menentang negara konformis (suatu jenis pengaruh sosial saat individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada -red.), demikian tulis William Jay Risch dalam bukunya Soviet ‘Flower’ Children.

Hippie Soviet banyak menggunakan kata-kata slang dan kata-kata pinjaman dari bahasa Inggris, dan sangat terpengaruh oleh cerita-cerita rakyat. Mereka kerap menceritakan kisah hidup mereka, yang mereka buat sebagai alternatif dari berbagai anekdot. Kisah-kisah, yang disebut ‘telega’ (gerobak), kemudian disusun menjadi sebuah buku yang disebut 1001 Party Telega oleh Stepan Pechkin.

Kaum hippie Soviet, yang pada umumnya mengabaikan gagasan untuk bekerja, memilih untuk mencari nafkah dengan mengemis, kata Petlura. Mereka lebih suka meniru gaya berpakaian sesama hippie di Amerika Serikat, tambahnya.

Geng Motor (1980-an)

Budaya subkultur geng motor, sama seperti hippie, juga diadopsi dari Barat. Di Uni Soviet, ketika kebanyakan orang biasanya tak mampu membeli mobil, sepeda motor menjadi barang substitusi umum. Namun, hanya sebagian kecil pengendara motor Soviet yang benar-benar memiliki sepeda motor, tambah Petlura.

Banyak dari mereka menyebut diri mereka rocker dan kedua istilah itu sering kali dipertukarkan.

Mereka menyukai musik rok keras, yang didistribusikan secara ilegal di Uni Soviet. Anggota-anggota geng motor mencoba meniru rekan-rekan Barat mereka, tetapi kelangkaan jaket kulit asli di Uni Soviet memaksa mereka berimprovisasi. Beberapa anggota geng motor mencoba menjahit jaket kulit mereka sendiri, sementara sebagian besar mengenakan kulit palsu. Beberapa hanya menggunakan kain hitam polos sebagai gantinya.

Dalam buku Buster, yang terdiri dari beberapa wawancara dengan tokoh-tokoh penting pada masa itu, Feddy Begemot mengenang bahwa “jaket kulit pertamanya dijahit oleh adiknya Anya.” Para pengendara sepeda motor juga menyukai simbol-simbol seperti yang ditunjukkan rekan-rekan mereka di luar negeri. Namun, meski mereka menyukai bendera-bendera maritim, tengkorak, salib, dan simbol lainnya, mereka sangat menentang alkohol dan narkoba.

Penari Breakdance (1980-an)

Meskipun harus menembus Tirai Besi, gerakan breakdance populer di kalangan pemuda Soviet. Sebagian besar dari mereka mempelajari gerakan itu sendiri atau dengan mempelajarinya dari film-film Barat. Dalam sebuah wawancara untuk Hooligan of 80s, Mila Maximova mengenang bahwa banyak dari mereka lebih suka membuat ayunan lengan dan gerakan robot, sementara hanya beberapa orang yang benar-benar berhasil menguasai teknik berputar atau gerakan energik lain.

“Kami tahu nama mereka satu-satu, ada sekitar lima orang di Moskow,” tambahnya. Pada saat gerakan breakdance meraih popularitas sebagai bentuk perlawanan, para pemuda Soviet mengembangkan gaya berpakaian mereka sendiri. “Sepatu kets dan sarung tangan putih itu penting,” kata Maximova. Hampir tak mungkin menemukan sepatu putih karena sebagian besar sepatu yang tersedia di pasar berwarna coklat atau hitam. Penari breakdance kerap menggunakan pemutih untuk mengubah warna sepatu mereka.

Mereka juga menyukai celana tanggung yang “tidak terlihat seperti jin” dan berbagai aksesori tambahan, seperti rantai, bandana, gelang, dan aneka sweter dengan logo asing.

Sebuah proyek khusus yang didedikasikan untuk subkultur Soviet oleh Look at Me dan Adidas Originals menyebutkan bahwa para penari ini kemudian berhasil mendapatkan “papa luncur (skateboard) dan cat semprot.”

Metalhead (1980-an)

Dengan tumbuhnya popularitas musik asing yang dilarang, genre alternatif, termasuk heavy metal, menjadi tren di kalangan pemuda Soviet. Berbagai grup musik heavy metal, seperti Black Sabbath, Iron Maiden, Metallica, Judas Priest, dan Megadeth sangat populer di kalangan para pemuda pemberontak.

Nikolay Korshunov menulis dalam sebuah artikel untuk majalah Hooligan bahwa kaum metalhead Soviet menganggap subkultur mereka sangat serius dan akan mencoba dan menghentikan para peniru. Anak-anak muda, yang berpakaian seperti metalhead, akan dicegat di jalan dan diuji pengetahuannya seputar heavy metal. Mereka akan diminta menyebutkan setidaknya 15 grup musik heavy metal. Banyak penggemar baru yang gagal dalam ujian ini, kata Korshunov menambahkan.

Karena mendapatkan jaket kulit asli atau jin hampir tidak mungkin, banyak metalhead yang berimprovisasi.

“Kami tak perlu memakai pakaian Amerika,” kata Sergei Okulyar dalam Hooligan of 80s. “Kami perlu memiliki sesuatu yang milik kami sendiri, yang tampak mengintimidasi.”

Kadang, mereka membuat bandana dari tas tangan dan kemudian menjualnya kepada anak-anak punk atau metalhead lain.

Anak Punk (1980-an)

Dari segi gaya, anak punk  memang kurang seragam. Gaya pakaian mereka tergantung pada di bagian Uni Soviet mana mereka tinggal. Punk dari Siberia adalah turunan hippie, sementara punk dari Tallinn tak bisa dibedakan dengan rekan-rekan Eropa mereka. Punk Sankt Peterburg memimpin “gaya hidup setengah orang Bohemia”, dan mereka yang di Moskow menggabungkan gaya dari seluruh negeri.

Nihilisme batin kontras dengan penampilan luar mereka, yang terdiri dari gaya Mohawk berwarna cerah, tindikan, jaket, kaus bergambar grup musik favorit mereka, dan sabuk buatan tangan dengan paku keling.

Dalam buku Hooligan of 80s, Misha Clash mengatakan bahwa gaya pakaian mereka berubah menjadi “mantel kulit panjang, riasan gelap yang berat, dan ransel.”

Kehadiran mereka kerap berujung kekerasan dan berakhir dengan hancurnya jendela toko-toko besar. Ini akhirnya menyebabkan penangkapan dan detensi. Ada juga kisah tentang bocah-bocah punk yang berisik datang ke kantor catatan sipil dalam kondisi mabuk — sudah menjadi bagian dari budaya punk untuk meneriakkan kata-kata tidak senonoh saat menikah.

Pernahkah Anda penasaran kenapa orang Rusia gemar mengenakan setelan olahraga (Adidas)? Romantisme antara Adidas dan Rusia bermula pada era Uni Soviet. Kala itu, tak ada seorang pun yang menduga bahwa Adidas akan menjadi ciri khas dunia kriminal Rusia.