Mencegah Kemenangan Bolshevik: Misteri Misi Rahasia Penulis Kondang Inggris di Tengah Revolusi Rusia

Novelis dan dramawan Inggris Somerset Maugham.

Novelis dan dramawan Inggris Somerset Maugham.

Getty Images
Kebanyakan orang mungkin mengenal karya drama dan novel Maugham. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa sang penulis kondang pun bekerja sebagai mata-mata Inggris di Rusia pada 1917. Ia membawa misi yang menakutkan dan yakin bahwa jika ia memiliki lebih banyak waktu, ia bisa mencegah kemenangan Bolshevik dalam Revolusi Rusia.

Penulis novel Theatre dan The Razor's Edge Somerset Maugham adalah agen Badan Intelijen Rahasia Inggris selama Perang Dunia I. Ia dipercaya melakukan misi rahasia ke Rusia, yang tugasnya masih menjadi misteri hingga kini.

Perjalanan ke Rusia pada 1917 bukanlah pengalaman pertama Maugham sebagai agen rahasia untuk Intelijen Inggris. Saat itu, ia sudah bekerja beberapa tahun untuk badan yang kemudian dikenal sebagai MI-6. Setelah misi pertamanya di Swiss pada 1915, ia ingin berhenti karena alasan pribadi — ia bercerai dan kekasih laki-lakinya dikirim keluar dari Inggris. Namun, menurut salah satu penulis biografinya, Maugham tertarik dengan kehidupan agen rahasia karena ia suka memanipulasi situasi demi meraih tujuan tertentu.

Meski demikian, ketika ia ditawari pergi ke Rusia, Maugham tak yakin. Seperti yang ia kenang kemudian, Maugham merasa tak cocok untuk tugas tersebut. Namun pada akhirnya, keinginan “untuk melihat tanah Tolstoy, Dostoyevsky, dan Chekov” mengalahkan keraguannya, dan ia menerima tawaran tersebut.

Misi yang Mustahil

Berdasarkan informasi yang tersedia mengenai misi Rusianya, Maugham diberi tugas yang sangat menakutkan. Seperti yang ia katakan, ia seharusnya “merancang sebuah skema yang akan membuat Rusia tetap terlibat dalam perang dan mencegah kaum Bolshevik, yang didukung oleh Blok Sentral, merebut kekuasaan.” Pada saat itu, perang tersebut tak populer di Rusia, dan kaum Bolshevik menuntut perdamaian dengan segera, yang merupakan slogan utama dalam kampanye propaganda mereka.

Vladimir Lenin tengah bersantai sambil berjemur, 1918.

Untuk menjalankan misi tersebut, Maugham dibayar sekitar 21 ribu pound sterling, yang saat ini setara dengan sekitar 408 juta rupiah. Ada pula sejumlah orang Ceko yang berperan sebagai penghubung. Ada harapan bahwa Maugham bisa memobilisasi dan mengandalkan ribuan tentara Cekoslowakia yang pada saat itu terjebak di Rusia. Pada tahun berikutnya, unit-unit tersebut menjadi salah satu kekuatan militer utama yang menantang rezim Soviet yang baru.

Vodka, Kaviar, dan Kekecewaan

Maugham berhasil menjalin kontak dengan Perdana Menteri Pemerintahan Sementara Rusia Aleksandr Kerensky. Setiap minggu, Maugham mentraktir Kerensky dan menteri-menterinya di salah satu restoran terbaik di Petrograd, ‘Medved’ (Si Beruang), menjamu mereka dengan vodka dan kaviar.

Aleksandr Kerensky, pemimpin revolusioner Rusia. Menteri Perang tahun 1917.

Itu semua tak berlangsung lama. Maugham mulai merasa kecewa terhadap Rusia. “Obrolan tanpa akhir, padahal tindakan lebih dibutuhkan; kebimbangan, sikap apatis, padahal apati hanya menciptakan kehancuran, protes yang mengebu-gebu, ketidaktulusan dan sikap setengah hati saya temukan di mana-mana, itu semua membuat saya kecewa terhadap Rusia dan orang-orang Rusia,” kenangnya kemudian.

Namun, ada seorang pria yang sangat Maugham sukai. Boris Savinkov adalah salah satu pemimpin organisasi teroris di Rusia prarevolusi yang pada 1917 bekerja untuk pemerintah. Maugham menggambarkannya sebagai “salah satu pria paling luar biasa” yang pernah ia temui. Savinkov tak bersimpati terhadap Bolshevik dan tidak memiliki ilusi kepastian pemimpin mereka, Vladimir Lenin. Savinkov diduga berkata, “Lenin akan berdiri di depan tembok dan menembak saya, atau saya akan berdiri di depan tembok dan menembaknya.”

Rencana untuk Mengalahkan Tentara Merah

Jika kita membaca memoar Maugham, jelas bahwa dia benar-benar percaya terhadap kemampuannya untuk mengakhiri kejayaan Bolshevisme di Rusia, dan 20 tahun kemudian ia mengeluhkan kurangnya waktu yang ia miliki untuk memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya.

Keyakinannya, ditambah dengan ketertarikan Maugham terhadap pemimpin teroris Savinkov, membuat beberapa penulis berpikir bahwa sang agen merencanakan pembunuhan terhadap Lenin. Yang lain menduga bahwa ia mendalangi pemberontakan Ceko pada 1918. Maugham tak hanya menjalin hubungan dengan Ceko, tetapi — selama tinggal di Rusia — ia kebetulan mengunjungi tempat-tempat yang di situ akhirnya terjadi pemberontakan.

Jenderal Kornilov dan Boris Savinkov, pemimpin Partai Sosialis Revolusioner.

Maugham dikirim kembali ke London tak lama sebelum pemberontakan Bolshevik di Petrograd meletus pada akhir Oktober. Beberapa informasi mengenai niatnya yang sesungguhnya di Rusia bisa saja terungkap dari arsipnya, tetapi sang penulis menghancurkan sebagian besar arsip tersebut sebelum kematiannya. Pada saat yang sama, pengalaman agen rahasianya ia tuangkan dalam koleksi cerita berjudul Asheden: Or the British Agent, yang diterbitkan pada 1928.

Misinya di Rusia adalah tugas terakhirnya untuk Badan Intelijen. Setelah kembali ke Inggris, ia mengabdikan dirinya untuk menulis, tapi akhirnya menetap di Riviera Prancis dan menjalin hubungan dengan banyak tokoh di masa itu, seperti Winston Churchill dan Herbert Wells.

Maugham meninggal tahun 1965 pada usia 90, tapi ia tak dikubur. Sesuai surat wasiatnya, abunya ditaburkan di sekitar perpustakaan yang dinamai sesuai namanya di King's School di Canterbury.

Pepatah menyebutkan bahwa sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Berikut beberapa koleksi peralatan dan senjata khusus mata-mata yang pernah disita oleh agen-agen kontraintelijen Soviet dan Rusia serta petugas penjaga perbatasan dari mata-mata asing.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More