Mengapa Moskow Tak Terburu-buru Memediasi Konflik Israel-Palestina?

AP
AS dan Prancis telah menawarkan diri untuk memediasi ketegangan terbaru yang muncul antara Israel-Palestina. Namun anehnya, Rusia tak terlalu buru-buru mau ikut campur, terutama karena disibukkan oleh negosiasi di Suriah. Mengapa Moskow menjaga jarak?

Konflik di Israel yang mengadu pemerintah Yahudi dengan Palestina sejak akhir Perang Dunia II, muncul menjadi salah satu agenda global utama. Konflik ini juga telah berkali-kali gagal dimediasi secara internasional.

Kunjungan Menlu AS John Kerry, yang mengelilingi wilayah tersebut dalam waktu singkat, tak menurunkan ketegangan. Dalam kunjungannya, Kerry juga bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Raja Yordania Abdullah II, serta disertai dengan rencana untuk memasang kamera pemantau di di Masjid al-Aqsa Mosque di Yerusalem. Namun, pihak Palestina bertanya: siapa yang akan memantau kamera tersebut?

Prancis juga berinisiatif campur tangan: Paris mengusulkan untuk menggelar pembicaraan damai dengan 19 negara lain, termasuk Arab Saudi, Norwegia, Irlandia, Tiongkok, dan Liga Arab. Prancis juga mendesak agar pengawas internasional ditempatkan di Yerusalem. Dalam hal ini, Israel menentang dengan keras.

Reaksi beragam terhadap rencana mediasi yang diajukan AS dan Prancis juga memicu spekulasi bahwa profil tegas Rusia dalam lingkup urusan regional dapat menawarkan solusi alternatif. Selain itu, jauh sebelum Kesepakatan Oslo pada 1993, Rusia, bersama AS, merupakan sponsor Konferensi Madrid 1990, yang kini sudah dilupakan namun memberi panduan untuk diskusi lebih jauh atas perselisihan Israel dan Palestina, dan masih merupakan fondasi hukum yang sah.

Apakah mediasi internasional, termasuk keterlibatan Moskow, mampu menciptakan penyelesaian? Troika Report mewawancarai Daniela Grudsky-Eckstein, seorang diplomat senior dalam bidang politik di Kedutaan Israel untuk Rusia di Moskow.

“Kita telah menyaksikan gelombang kekerasan yang terjadi dalam tiga minggu terakhir, di mana Palestina menghasut orang-orang untuk turun ke jalan dan membawa senjata. Itu tak memberi banyak harapan. Kita membutuhkan proses damai. Terdapat inisiatif diplomatik yang berbeda dan kami menyambut inisiatif tersebut. Kami menyampaikan pada mitra kami, pada AS, Prancis, dan lain-lain, bahwa kami saat ini butuh bicara langsung dengan Palestina. Garis antara Yerusalem dan Ramallah tak melalui New York atau wilayah internasional lain. Kita harus melakukan negosiasi satu-lawan-satu untuk menyelesaikan semua masalah, dan mencari cara untuk menenangkan situasi.”

— Apakah pemerintah Israel punya rencana untuk mengangkhiri kekerasan?

“Saya harus menjelaskan kebijakan Israel: tak ada perubahan status Temple Mount (Haram al-Sharif). Israel mengakui pentingnya tempat tersebut. Mereka menegaskan kembali komitmen mereka untuk tidak mengubah status Hara al-Sharif. PM Israel Netanyahu menawarkan negosiasi langsung dengan bantuan mitra kami, dalam kasus ini ialah Menlu AS Kerry, namun kami juga menyambut siapa pun yang ingin membantu terciptanya proses negosiasi.”

— Bisakah Moskow memosisikan diri secara proporsional dalam kuartet ad hoc yang dibentuk untuk membahas penyelesaian konflik di Suriah (yang terdiri atas PBB, AS, Uni Eropa, dan Rusia) dan meniupkan nafas baru dalam upaya untuk mencari solusi?

“Rusia merupakan salah satu sahabat Israel. Kami menyambut semua inisiatif. Dalam kasus ini, kuartet Rusia, AS, PBB, dan Uni Eropa memainkan peran positif.”

“Kami rasa Rusia punya peran penting dalam kuartet ini.”

Namun, Moskow sepertinya menahan diri dalam konflik Israel-Palestina. Mengapa? Grigory Kosach, pakar politik dunia Arab sekaligus profesor di The Russian State University for the Humanities, menyampaikan pada Troika Report:

“Rusia dapat memainkan peran yang lebih penting dalam penyelesaian konflik karena ia punya saluran komunikasi untuk berdiskusi dengan Israel dan berbagai kelompok masyarakat Palsetina, dari Mahmoud Abbas hingga HAMAS. Namun, Rusia beranggapan kedua pihak bertanggung jawab atas konflik tersebut dan menempatkan mereka pada pijakan yang sama."

“Hal ini tak beralasan. Apakah Moskow harus bilang bahwa Israel tak seharusnya lunak terhadap aktivis sayap kanannya yang ngotot bahwa jurisdiksi Tepi Barat tak bisa dinegosiasikan karena merupakan lokasi Judeo dan Samaria, kerajaan Yahudi kuno? Tentu. Haruskah Moskow mengingatkan Palestina bahwa penggunaan teror untuk mencapai tujuan mereka sungguh sia-sia? Ya, sudah selayaknya. Namun Moskow terlalu lemah untuk terlibat proaktif dalam konflik ini.”

Alasan lain Moskow menjaga diri dari kekerasan yang tengah berlangsung di negeri tersebut, dengan momok intifada ketiga di garis cakrawala, diungkapkan oleh Sergei Filatov, kontributor majalah International Affairs yang berbasis di Moskow, pada Troika Report. Dalam pandangannya, Moskow tak bisa melibatkan diri dalam mediasi isu Israel-Palestina karena disibukkan oleh upaya untuk menyelesaikan konflik Suriah. Hingga penyelesaian konflik Suriah belum ditandatangani, Moskow sulit mengalihkan perhatiannya pada masalah regional lain.

Namun, kesempatan Rusia untuk memainkan peran yang lebih kuat dalam konflik Israel-Palestina mungkin akan muncul dengan sendirinya. Bukan rahasia jika pemerintahan Obama melakukan upaya penyeimbangan yang aneh: menyembunyikan keengganannya terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu (yang bersahabat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin) dan di saat yang sama mengalihkan kecurigaan bahwa AS 'membuang' Israel dari posisinya sebagai mitra strategis terlama di wilayah tersebut.

Namun, pejabat dan pakar Israel telah mengingatkan sejak lama bahwa AS akan menjauhkan diri dari Tanah Suci tersebut, dan kesepakatan nuklir dengan Iran sepertinya menjadi bukti nyata bahwa hal ini telah terjadi.

Di bawah perubahan keseimbangan kekuatan regional dan sekutu, Rusia memiliki kredibilitas untuk terlibat dalam mediasi konflik Israel-Palestina. Namun mungkin tidak akan dilakukan hingga masalah Suriah terselesaikan. Dan hal itu masih perlu menunggu waktu.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More