Moskow Belum Siap Terima Osetia Selatan Menjadi Bagian Rusia

Penduduk setempat merayakan ulang tahun pertama deklarasi kemerdekaan Ossetia Selatan sambil mengendarai kendaraan di Tskhinvali, 26 Agustus 2009. Saat itu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa Rusia tidak akan mengubah keputusannya untuk mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan dari Georgia.

Penduduk setempat merayakan ulang tahun pertama deklarasi kemerdekaan Ossetia Selatan sambil mengendarai kendaraan di Tskhinvali, 26 Agustus 2009. Saat itu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa Rusia tidak akan mengubah keputusannya untuk mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan dari Georgia.

Reuters
Presiden Osetia Selatan menyebutkan ia berencana menggelar referendum untuk menggabungkan diri dengan Rusia. Namun, Moskow belum siap menyambut hal tersebut, demikian disampaikan narasumber yang dekat dengan Kremlin.

Presiden Osetia Selatan Leonid Tibilov berencana menggelar referendum untuk bergabung dengan Rusia. Seperti yang dilaporkan layanan pers kepresidenan, ia menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan utusan kepresidenan Rusia Vladislav Surkov di Tskhinvali pada Senin (19/10).

“Realitas politik saat ini membuat kami harus mengambil pilihan yang bersejarah,” kata Tibilov, menambahkan bahwa reunifikasi dengan Rusia merupakan mimpi warga Osetia Selatan sejak lama.

Konteks

Osetia Selatan adalah republik yang belum sepenuhnya diakui (kemerdekaannya dari Georgia baru diakui oleh Rusia, Nikaragua, Nauru, Tuvalu, dan Venezuela). Rusia mengakui kemerdekaan wilayah tersebut setelah 'perang lima hari' melawan Georgia pada 2008. Tibilov menyebutkan, warga Osetia Selatan sudah pernah mengadakan referendum untuk bergabung kembali dengan Rusia pada 1992 (99,89 persen menjawab mau bergabung dengan Rusia), sementara pada 2006, republik itu menggelar referendum lain untuk menjadi negara independen.

Isu Bermasalah

Namun, sepertinya Moskow tak menyambut pernyataan tersebut dengan serius dan tak berencana mendukung referendum tersebut.

“Moskow sudah puas dengan proses integrasi saat ini. Tak perlu memberi insentif baru bagi mereka,” kata mantan Wakil Kepala Direktorat Kebijakan Intenal Administrasi Kepresidenan Rusia sekaligus analis politik yang dekat dengan Kremlin Alexei Chesnakov pada RBTH.

Menurut Chesnakov, pernyataan Tibilov hanya berupa penyampaian keinginan Osetia Selatan, “namun bukan berarti perlunya segera menggelar referendum dalam waktu dekat”.

Leonid Slutsky, Kepala Komite Hubungan CIS, Integrasi Eurasia, dan Hubungan dengan Kompatriot di Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma), juga beranggapan bahwa kesepakatan aliansi dan integrasi yang ditandatangani pada Maret lalu sudah cukup.

Kesepakatan tersebut, secara khusus, mengatur tentang pengabungan penjaga perbatasan, polisi, dan tentara Rusia dan Osetia Selatan. Selain itu, “Rusia sudah berinvestasi secara maksimal terhadap perekonomian Osetia Selatan,” tambah Slutsky dalam wawancara dengan RBTH. Jumlah pemasukan dari Rusia dalam anggaran negara tersebut mencapai lebih dari 90 persen.

“Kami akan menghargai keinginan masyarakat, namun karena sulitnya situasi geostrategis, isu (bergabungnya Osetia Selatan dengan Rusia) ini terbilang problematik. Saya tak akan menyampaikan opini positif atau negatif terkait hal ini,” tutur Slutsky.

“Namun, sulit untuk berasumsi bahwa orang seperti presiden Osetia Selatan tak tahu tentang ini, dan tak berkonsultasi terkai hal ini dengan Rusia,” jelas Konstantin Zatulin, Direktur Institut untuk Negara-negara CIS.

Tibilov bukan satu-satunya pejabat papan atas yang membuat pernyataan semacam itu dari waktu ke waktu, dan semua orang sadar bahwa menyampaikan keinginan reunifikasi belum tentu merealisasikannya, kata Zatulin, karena ide ini sangat populer di kalangan masyarakat Osetia Selatan.

“Sulit untuk menilai mengapa Tibilov memutuskan menyampaikan hal tersebut sekarang. Namun saya bisa melihat perbedaan antara Osetia Selatan, yang ingin kembali bergabung dengan Rusia, dan Abkhazia, yang berharap untuk mendirikan negara merdeka,” kata sang pakar.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More