Krisis Suriah: Ujian bagi Hubungan Rusia-Turki

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bertemu dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan di Kremlin, Moskow, Rusia, 23 September 2015.

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bertemu dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan di Kremlin, Moskow, Rusia, 23 September 2015.

Reuters
Serangan udara Rusia untuk menggempur ISIS di Suriah telah menjadi ujian bagi hubungan bilateral antara Rusia dan Turki. RBTH meminta para ahli untuk menjelaskan ada apa sebenarnya di balik retorika anti-Rusia di Ankara dan bagaimana konflik ini dapat mempengaruhi kerja sama ekonomi antara kedua negara.

Sejak awal operasi udara militer Rusia, pesawat Angkatan Udara Rusia telah dua kali melanggar wilayah udara Turki, yaitu pada 3 dan 4 Oktober 2015. Moskow menjelaskan cuaca buruk sebagai alasan pelanggaran ini. Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Turki telah tiga kali memanggil Duta Besar Rusia Andrei Karlov untuk menjelaskan insiden tersebut.

Selama kunjungan duta besar Rusia ke Kementerian Luar Negeri Turki pada Selasa (6/10), kedua belah pihak sepakat untuk mengoordinasikan tindakan militer Rusia dan Turki demi menghindari insiden serupa di masa depan, demikian dikabarkan oleh Interfax.

Keesokan harinya, diadakan konsultasi bilateral antara Rusia dan militer Turki mengenai pelaksanaan mekanisme untuk mencegah insiden di wilayah udara di perbatasan Suriah-Turki, demikian hal ini disampaikan Kementerian Pertahanan Federasi Rusia. Hari ini, Kamis (15/10) delegasi militer Rusia datang ke Ankara untuk berkonsultasi dan mencari solusi demi menghindari peristiwa serupa di masa mendatang. 

Ankara Memperingatkan

Meski begitu, media Turki terus menulis mengenai “agresi Rusia”, dan para politisi Turki memperingatkan Moskow tentang konsekuensi yang serius dari insiden tersebut. Pada kunjungannya ke Brussels, Presiden Erdogan memperingatkan Moskow bahwa tindakan tersebut mungkin bukan cara terbaik yang dapat berdampak pada hubungan antara kedua negara.

“Serangan terhadap Turki berarti serangan terhadap NATO. Kita tahu bahwa kita memiliki hubungan baik dengan Rusia. Namun, jika Rusia kehilangan teman seperti Turki, yang selama ini telah bekerja sama dalam beberapa bidang — maka Rusia akan sangat merugi,”ujar presiden Turki.

Perdana Menteri Turki Davutoglu juga menyampaikan bahwa Turki sebagai anggota NATO tidak akan menoleransi pelanggaran keamanan baik di perbatasan maupun di wilayah udaranya.

“Retorika keras terhadap Rusia terlalu dibesar-besarkan,” komentar seorang pakar Turki dan peneliti senior Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional (IMEMO) Viktor Nadein-Raevsky. “Hal ini berkaitan dengan situasi politik yang tegang sebelum pemilu di Turki.”

Direktur Pusat Ilmiah Rusia-Turki dari Sastra Asing Perpustakaan Negeri Rusia Ilshat Saetov turut menyetujui pendapat tersebut, “Pernyataan mengenai Rusia ditujukan terutama pada pemilih di Turki agar di mata mereka, pemerintah dipandang seperti pembela muslim yang berjuang melawan Assad. Ditambah mereka yang berjuang dengan sekutu teroris Kurdi. Saya ingatkan, bahwa Suriah Kurdi memiliki hubungan dekat dengan Partai Pekerja Kurdistan yang mendukung Assad,” ujar sang pakar kepada RBTH.

Tak Akan Pengaruhi Hubungan Ekonomi

Insiden di perbatasan Turki-Suriah menimbulkan kekhawatiran pada perkembangan hubungan ekonomi antara kedua negara yang belakangan ini berjalan dengan positif. Namun, para ahli meragukan bahwa ketegangan ini akan mempengaruhi kerja sama ekonomi dan perdagangan.

“Hubungan antara Rusia dan Turki terdiri dari dua bagian, yaitu ekonomi dan politik secara terpisah,” ujar Ilshat Saetov. “Rusia tidak akan memblokir gas ke Turki dan Turki tidak akan berhenti menjual produk berteknologi tinggi dan sayuran hanya karena beberapa pernyataan. Bidang politik sangat berbeda, di sini kedua negara selalu memperlakukan satu sama lain dengan hati-hati meskipun terkadang terlihat berteman dekat karena sama-sama menyerukan retorika anti-Amerika.”

Menurut Viktor Nadein-Raevsky, kekhawatiran mengenai penurunan hubungan ekonomi telah ada sejak awal krisis Suriah ketika posisi Rusia dan Turki terpecah. “Melewati perbedaan pendapat mengenai Suriah, Moskow dan Ankara mampu membangun kerja sama ekonomi yang sukses. Omzet perdagangan antara kedua negara berkembang. Rusia melaksanakan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir berskala besar di Turki (Akkuyu Nuclear Power Plant) yang sekaligus akan reaktor nuklir pertama di negara itu. Adapun, nasib “Turkish Stream”, di sini ada banyak perbedaan yang bersifat ekonomi, banyak tuntutan dari sisi Turki,” ujar sang pakar.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More