Bisakah Proyek ‘Pivot to Asia’ Rusia Sukses Tanpa Jepang?

August 22, 2015. Russian Prime Minister Dmitry Medvedev meets with participants of the Russian Youth Education Forum Iturup in the town of Kurilsk. The Russian Prime Minister came to Iturup, one of the Kuril Islands, during his visit to the Far Eastern Federal Distric

August 22, 2015. Russian Prime Minister Dmitry Medvedev meets with participants of the Russian Youth Education Forum Iturup in the town of Kurilsk. The Russian Prime Minister came to Iturup, one of the Kuril Islands, during his visit to the Far Eastern Federal Distric

Ria Novosti/Dmitry Astakhov
Pemimpin Jepang kecewa karena PM Rusia Dmitry Medvedev menginjakkan kaki di Pulau Iturup, Kepulauan Kuril, Timur Jauh Rusia, minggu lalu. Sejak direbut oleh Uni Soviet pada 1945, Kepulauan Kuril tetap menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. Hingga kini, Jepang mengklaim empat pulau paling selatan di kepulauan tersebut. Sebagai penolakan simbolis atas kunjungan Medvedev, menteri luar negeri Jepang menunda kunjungannya ke Moskow.

Kunjungan Medvedev dan pernyataannya bahwa Kuril merupakan bagian integral dan alami Rusia — “Ini adalah bagaimana kondisinya dan bagaimana seterusnya.”

Apa harga yang siap dibayar Moskow untuk mengalienasi Jepang terkait diskusi tingkat tinggi yang sangat diantisipasi? Vladimir Skosyrev, pengamat kebijakan luar negeri dari Nezavisimaya Gazeta di Moscow, menyampaikan hal ini pada Troika Report:

“Saya sedikit malu dengan langkah keras yang diambil Moskow. Tak mungkin Rusia menyerahkan kepulauan tersebut pada Jepang dalam waktu dekat. Saya tak melihat mengapa perdana menteri kita perlu mengunjungi Pulau Iturup di tengah kondisi ini. Kita menghadapi perseteruan dengan Barat. Jepang berada di posisi yang cukup bijak (terkait Rusia). Kami tertarik mendapat investasi Jepang. Kunjungan Presiden Putin ke Jepang dapat memperbaiki hubungan kita. Ini juga dapat mengurangi ketergantungan Rusia pada Tiongkok. Kunjungan Medvedev ke Iturup menunjukkan bahwa Moskow tak memperhitungkan hasil positif dari kunjungan Putin ke Jepang.”

— Sepertinya, proyek 'pivot to Asia' yang dilakukan Rusia didominasi oleh Tiongkok. Apakah srategi ini dapat sukses tanpa melibatkan Jepang secara positif?

“Saya rasa aksi ‘pivot to Asia’ ini bukan langkah yang benar-benar baik. Kita menjadi semakin bergantung pada Tiongkok. Kita harus mencari beberapa penyeimbang dari pengaruh Tiongkok. Jepang bisa menjadi salah satu pemain yang memungkinkan dalam permainan ini. Namun kita menolak berbagai kemungkinan untuk memperbaiki hubungan dengan Tokyo.”

Langkah Rusia berdasarkan pada premis bahwa, melihat kontroversi yang sangat sensitif, masuk akal untuk memisahkan bisnis dari politik, membiarkan penyelesaian sengketa wilayah untuk generasi selanjutnya.

Siapapun yang memiliki logika tentu akan menyampaikan beberapa pertanyaan mengenai masa depan hubungan Rusia dan Jepang yang penuh gejolak.

Dapatkah Rusia sukses melakukan strategi 'pivot to Asia' tanpa melibatkan Jepang secara positif? Jawabannya adalah: tidak.

Melihat potensi kerja sama Rusia-Tiongkok, dapatkah Jepang bertahan di pinggir proses integrasi yang berlangsung di Eurasia? Tidak.

Apakah keyakinan kelas politik Jepang bahwa pengembalian Kepulauan Kuril akan mengubur beliung Perang Dunia II dan membangun ikatan bilateral menuju perdamaian dan kemakmuran? Tidak.

Apakah pembuat kebijakan di Jepang berpikir bahwa - di luar bagaimana sikap pemimpin Moskow—penyerahan bagian dari wilayah Rusia akan didukung oleh masyarakat Rusia? Tidak.

Sekarang, mari coba buat beberapa jawaban positif. Jika sengketa wilayah tetap buntuk apakah itu akan memengaruhi kerja sama politik dan bisnis antara kedua negara? Ya, tentu.

Dalam kasus ini, apakah ini akan menghilangkan keuntungan yang didapat Rusia dan Jepang atas interaksi berarti dan bersifat positif? Ya.

Apakah perselisihan berkepanjangan akan mendorong Rusia mengencangkan ikatan dengan Tiongkok secara strategis dan meyakinkan Jepang untuk tetap melekat dengan AS? Ya. Itu akan membuat kedua belah pihak semakin sulit berkompromi. Seperti yang disebutkan oleh The Financial Times, “Kekuatan aliansi AS-Jepang memberi Rusia sedikit insentif untuk menciptakan konsesi.”

Benar, Shintaro Abe, ayah dari PM Jepang saat ini, berupaya menyelesaikan konflik diplomatik yang membeku saat ia menjadi menteri luar negeri Jepang pada tahun 1980-an. Namun, itu tak menghasilkan apa-apa.

Kini, putranya, yang sepertinya menikmati hubungan khusus dengan Putin, berupaya mencapai terobosan. Dilaporkan bahwa Abe bahkan mempertimbangkan menghadiri perayaan di Moskow pada Mei lalu dalam peringatan Hari Patriotik Raya ke-70. Rumor juga menyebutkan bahwa presiden Rusia tertarik mencari solusi atas sengketa Kuril.

Kesimpulan dari kalkulasi logis tersebut adalah kesalahpahaman dan dendam yang bercokol di benak Rusia dan Jepang tak menguntungkan kedua belah pihak. Bagi Moskow dan Tokyo, hambatan dalam menyelesaikan masalah sengketa Kuril adalah mereka akan sama-sama kalah.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More