Sepuluh Fakta Keterlibatan Pasukan Soviet dalam Perang Tiongkok Melawan Jepang

RIA Novosti
Perang perlawanan rakyat Tiongkok terhadap Jepang berlangsung dari tahun 1937 hingga 1945. Selama periode tersebut, terutama pada saat sebelum dan setelah Perang Patriotik Raya (22 Juni 1941 – 9 Mei 1945), Uni Soviet secara aktif membantu rakyat Tiongkok melawan pasukan militer Jepang. Berikut adalah sepuluh fakta keterlibatan Uni Soviet yang berhasil dikompilasi oleh RBTH.

1. Sejak tahun 1937, Pemerintah Soviet memberikan bantuan teknis-militer ke Tiongkok berupa senjata, amunisi, perlengkapan medis, pesawat, dan bantuan lainnya dalam bentuk kredit.

2. Selama tahun 1937 hingga 1940, sebanyak 300 orang ahli militer telah melakukan perjalanan dinas ke Tiongkok. Ada lebih dari lima ribu warga Soviet yang bekerja di Tiongkok, di antaranya berprofesi sebagai pilot, instruktur, insinyur, dokter, guru, dan sebagainya.

3. Pada musim gugur tahun 1937, sebanyak 225 pesawat dikirim ke Tiongkok, termasuk 62 unit pesawat pengebom SB dan 89 ahli penerbangan untuk mengajar warga Tiongkok. Totalnya, hingga Juni 1941 terhitung sebanyak 1.250 unit pesawat dan puluhan ribu bom telah dikirimkan Soviet ke Tiongkok.

4. Pada akhir tahun 1938, sebanyak 82 unit tank Soviet T-26 dan senjata lainnya dibawa dari Sevastopol (Krimea) ke Hong Kong.

5. Pada bulan Oktober 1939, kelompok pengebom jarak jauh Soviet di bawah komando Gregory Kulishenko yang dijuluki “Macan Udara” menjatuhkan dua serangan di lapangan udara Jepang di Hankou. Peristiwa ini menghancurkan lebih dari seratus unit pesawat musuh. Selain itu, sejumlah peralatan dan depot bahan bakar meledak. Tentara Jepang tidak dapat menyerang pesawat Soviet dan menembakkan senjata antipesawat. Tentara Jepang bahkan tidak dapat menerbangkan pesawat tempur mereka karena lapangan terbang dihancurkan dengan bom.

6. Pasukan Soviet melancarkan serangan terhadap Tentara Kwantung tepat tiga bulan setelah kemenangan atas Nazi Jerman pada tanggal 9 Agustus 1945. Pertempuran itu berlangsung selama 23 hari.  

7. Pada tanggal 18 Agustus, pasukan Soviet menangkap kaisar dari negara boneka Manchukuo Pu Yi di bandara Mukden yang rencananya akan diambil alih oleh komando Jepang dari Manchuria. Selanjutnya, Kaisar Pu Yi tinggal selama lima tahun di Uni Soviet dan menjadi saksi di Pengadilan Militer Internasional yang diadakan di Tokyo.

8. Kerugian yang ditanggung Soviet antara lain, 12.032 jiwa tewas dan 24.425 jiwa terluka (total sebanyak 36.456 jiwa), serta hancurnya 78 unit tank, 232 senjata artileri, dan 62 unit pesawat. Sementara itu, kerugian yang dialami Jepang adalah 83.700 jiwa tewas, 640.100 warga ditahan, serta hancurnya 3.700 unit senjata, 500 unit tank, 861 unit pesawat, dan 2.000 unit kendaraan.

9. Sebelum para perwira Jepang menerima perintah gencatan senjata, mereka sadar bahwa melakukan perlawanan adalah hal yang sia-sia dan para perwira Jepang telah memerintahkan prajuritnya untuk menyerah. Namun, bukannya menolak untuk patuh, para prajurit justru menembak komandan yang memberikan perintah yang berlawanan dengan sumpah mereka. Di sejumlah barisan pasukan Jepang bahkan dikirimkan guru spiritual dan guru lokal untuk menjelaskan kepada para personil mengenai tujuan dari tindakan mereka selanjutnya yang sia-sia. Setelah seluruh pasukan Jepang telah diperintahkan untuk melakukan gencatan senjata, sabotase di belakang pasukan Soviet terus berlangsung selama September 1945.

10. Pada tahun 1956, sebuah deklarasi ditandatangani sebagai tanda berakhirnya perang antara Uni Soviet dan Jepang. Namun demikian, perjanjian damai belum ditandatangani hingga saat ini.

Baca selanjutnya: Perang Dunia II: Apakah Dunia Berutang pada Soviet?

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More