Bela Rohingya, Komunitas Muslim Moskow Unjuk Rasa di Depan Kedubes Myanmar

Orang-orang tetap berunjuk rasa meskipun aksi itu belum mendapat persetujuan pihak pemerintah Moskow.

Orang-orang tetap berunjuk rasa meskipun aksi itu belum mendapat persetujuan pihak pemerintah Moskow.

Maxim Shemetov/Reuters
Sedikitnya 800 warga muslim kota Moskow berunjuk rasa di sekitar Kedutaan Besar Myanmar di Rusia sebagai bentuk protes terhadap penindasan yang dialami muslim Rohingya.

Komunitas muslim Moskow berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Myanmar. RTmelaporkan, unjuk rasa yang digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap komunitas muslim Rohingya yang ditindas di Myanmar tersebut berlangsung pada Minggu (3/9).

Para pengunjuk rasa juga tampak melaksanakan salat di depan kantor kedutaan.

Sumber: Илона Ярченко/YouTube

Berbagai video yang diunggah di Facebook dan Instagram menunjukkan para pengunjuk rasa meneriakkan kalimat “Allahu Akbar!”

Sejumlah polisi tampak berjaga di sekitar kantor Kedutaan Besar Myanmar. Sedikitnya 20 mobil polisi dan sebuah kendaraan lapis baja disiagakan di sekitar area berlangsungnya unjuk rasa, lapor Interfax.

Namun menurut Interfax, unjuk rasa berlangsung cukup tenang. Tidak ada satu pun pelanggaran ketertiban dalam unjuk rasa tersebut, ujar perwakilan Kepolisian Moskow kepada TASS. Sedikitnya ada 800 orang yang melakukan unjuk rasa di sekitar kedutaan tersebut.


Sementara di media sosial, disebutkan bahwa ada sekitar seribu orang yang berunjuk rasa. Beberapa pengguna Instagram membagikan kiriman dengan komentar, “Hentikan genosida terhadap kaum muslim.”


“Ketika kami melihat ketidakadilan terhadap saudara-saudara kami, kami akan protes. Untuk itulah, kami berkumpul di sini hari ini. Kami bersatu dan kami harus tunjukkan kepada seluruh dunia, bahwa umat Islam adalah umat yang damai,” kata seorang peserta aksi kepada TASS.

Aksi tersebut sebenarnya belum disetujui oleh pihak pemerintah Moskow, lapor Interfax.

Situasi di Myanmar semakin parah sejak awal Agustus 2017 akibat konfrontasi antara komunitas buddha dan muslim Rohingya. Reuters melaporkan bahwa pada akhir Agustus, sebanyak 400 orang tewas dalam bentrokan dan konfrontasi militer di negara tersebut.


Di pagi hari pada hari yang sama, aksi dukungan terhadap muslim Rohingya juga dilakukan di sekitar kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, lapor Reuters. Sebuah bom molotov sempat dilemparkan ke gedung kedutaan, menyebabkan kebakaran kecil di lantai dua.

Sementara, Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov menampilkan siaran langsung melalui akun Instagram-nya dan mengatakan bahwa ia siap melakukan aksi solidaritas serupa di ibu kota Chechnya, Grozny, pada 4 September. Umat Islam akan melakukan salat berjamaah dan doa bersama untuk saudara sesama muslim di Myanmar, ujar Kadyrov.

Pada Jumat lalu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres meminta Myanmar untuk “menahan diri dan tetap tenang.”

“Situasi saat ini mengindikasikan pentingnya upaya pendekatan holistik demi mengatasi penyebab kekerasan yang kompleks,” kata Juru Bicara Guterres, Eri Kaneko.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki