Hormati Muslim, Atlet Rusia Kenakan Kerudung pada Pertandingan di Iran

Selama pertandingan, kedua tim sempat bermain imbang 3-3 pada babak pertama. Namun, Rusia akhirnya keluar sebagai juara setelah berhasil menjebol pertahanan Iran dengan dua gol pada babak kedua.

Selama pertandingan, kedua tim sempat bermain imbang 3-3 pada babak pertama. Namun, Rusia akhirnya keluar sebagai juara setelah berhasil menjebol pertahanan Iran dengan dua gol pada babak kedua.

Facebook
Tim Rusia memutuskan untuk menghormati tradisi dan nilai-nilai yang dianut masyarakat Iran dengan mengenakan kerudung pada pertandingan persahabatan di Teheran.

Tim nasional futsal perempuan Rusia tampil dengan mengenakan kerudung dalam pertandingan persahabatan melawan tim Iran. Namun demikian, ini bukan pertama kalinya para atlet Rusia mengenakan kerudung ketika bertanding dengan Iran. 

Kedua tim diketahui sudah sering bertanding bersama. Atlet-atlet Rusia mengaku tidak keberatan untuk memakai kerudung sebagi penghormatan terhadap tradisi perempuan muslim di negara itu.

"Tim Rusia secara berkala mengikuti pertandingan di Iran, begitu pula sebaliknya. Ketika Rusia bertanding di Iran, tim Rusia akan mengenakan pakaian yang tertutup dan berkerudung," kata Direktur Eksekutif Klub Futsal "Dina" Aleksander Kochetkov, seperti yang dikutip Sports.ru.

Selama pertandingan, kedua tim sempat bermain imbang 3-3 pada babak pertama. Namun, Rusia akhirnya keluar sebagai juara setelah berhasil menjebol pertahanan Iran dengan dua gol pada babak kedua. Dengan demikian, Rusia menang 5-3 atas Iran. Asosisasi Futsal Rusia, melalui halaman Facebook-nya, telah memublikasikan foto-foto pertandingan dan kemenangan tim Rusia. Pertandingan itu digelar pada 18 – 19 Oktober di Teheran, Iran.

Tak Semua Atlet Mau Kenakan Kerudung

Namun, tidak semua atlet mau bertanding dengan mengenakan kerudung. Pemain catur asal Amerika Nazí Paikidze awalnya menolak mengikuti kejuaraan catur dunia di Iran atas dasar pelanggaran hak-hak perempuan.

"Saya tidak dapat mengikuti kejuaraan dunia di negara yang di sana kaum perempuan tidak memiliki hak-hak dasar dan dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Banyak yang mengatakan bahwa saya tidak tahu apa-apa soal Iran, tetapi banyak pula rakyat Iran yang justru berterima kasih kepada saya dan mendukung keputusan saya," tulis sang atlet berdarah Georgia ini pada halaman Instagram-nya.


Nazí Paikidze mengirimkan petisi kepada Federasi Catur Internasional (FIDE) untuk mengubah lokasi diadakannya turnamen dengan mengutip salah satu prinsip dari "penolakan terhadap diskriminasi berdasarkan karakteristik nasional, politik, ras, sosial, dan seksual".

Menanggapi petisi tersebut, FIDE dengan tegas menyatakan bahwa "Iran merupakan satu-satunya negara yang siap menjadi tuan rumah turnamen dan semuanya diharapkan menghormati hukum negara, termasuk dalam aturan berpakaian."

Nazí Paikidze merupakan satu-satunya peserta turnamen yang menolak untuk difoto mengenakan kerudung.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.