Rusia Kembangkan ‘Pembangkit Energi Nuklir Terapung’ untuk Jelajahi Arktik

Rusia segera meluncurkan kapal pembangkit energi tenaga nuklirnya yang pertama.

Untuk mengeksplorasi sumber daya alam di wilayah Arktik, Rusia segera meluncurkan kapal pembangkit energi nuklirnya yang pertama, demikian diberitakan Sputnik.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Norwegia telah menyetujui izin eksplorasi Akrtik bagi beberapa perusahaan minyak, tulis Sputnik. Wilayah tersebut termasuk beberapa area yang belum tereksplorasi di Laut Barents, dekat perbatasan perairan Rusia.

Samudra Arktik kaya akan sumber daya alam, terutama minyak dan gas, yang menarik perhatian lima negara yang berada di sekitar Arktik — Kanada, Denmark, AS, Norwegia, dan Rusia.

Disebutkan bahwa teknologi baru Rusia tersebut tengah dikembangkan saat ini untuk menegaskan kehadiran Negeri Beruang Merah di wilayah utara yang terpencil itu.

Dalam sebuah artikel Le Huffington Post disebutkan bahwa semua proyek industri di Arktik membutuhkan berton-ton energi listrik. Oleh karena itu, Rusia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir mengambang.

Pada 2006 lalu, perusahaan Rusia Rosenergoatom (anak perusahaan milik negara Rosatom) meluncurkan proyek pembangunan PLTN mengambang dengan kapasitas energi yang terbatas.

Akademik Lomonosov, kapal PLTN Rusia yang pertama, selesai dirancang pada 15 April 2007. Kapal tersebut dibangun di Galangan Kapal Sevmash, Severodvinsk dan kemudian diluncurkan pada 2010. Ia diperkirakan akan mulai beroperasi pada Oktober 2016.

Kapal dengan panjang 1.444,4 meter, lebar 30 meter, serta bobot 21,5 ribu ton ini memiliki dua reaktor KLT-40 yang dapat memproduksi listrik hingga 70 megawatt, atau 300 megawatt panas, cukup untuk mengoperasikan sebuah kota berpopulasi 200 ribu orang.

Selain itu, kapal ini juga bisa digunakan sebagai fasilitas penyulingan. Mampu bertahan hingga usia 40 tahun, kapal ini dapat diandalkan sebagai markas nuklir bergerak.

Rusia tak menampik kemungkinan untuk menjual kapal ini bagi neara lain. Lebih dari dua lusin negara telah menunjukkan ketertarikannya, termasuk Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia. Namun, Rusia berencana mengekspor energi, bukan kapal, untuk menghindari pelanggaran Traktat Nonproliferasi.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More