Hadapi Ancaman Teroris, Rusia Siap Perkuat Kerja Sama Militer dengan RI

Alifa Shavira
Sebagai salah satu kekuatan besar di Asia-Pasifik, Indonesia dan Rusia perlu bekerja sama secara solid demi melawan rencana jahat teroris internasional. Demikian hal tersebut ditegaskan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam sesi jumpa pers di atas kapal perang antipermukaan Rusia "Bystry" di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (28/12).

Galuzin menekankan pentingnya membina dan memperkuat kerja sama teknis-militer demi menangkal ancaman teroris yang kini dihadapi oleh komunitas dunia. "Kita tahu bahwa organisasi teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra berusaha menyebarkan pengaruhnya di wilayah Asia-Pasifik. Mereka ingin mendirikan apa yang mereka sebut sebagai 'kalifah'," kata Galuzin. "Untuk melawan rencana jahat teroris internasional ini, diperlukan kerja sama yang solid antara Rusia dan Indonesia sebagai salah satu kekuatan besar di Asia-Pasifik."

Dalam kesempatan tersebut, Galuzin juga mengatakan bahwa Rusia siap melanjutkan tradisi kerja sama militer yang telah berjalan antara kedua negara selama ini. "Selama Indonesia siap, saya pastikan bahwa Rusia pun siap mengembangkan kerja sama teknis-militer," ungkapnya.

Sang dubes menekankan, Rusia juga terbuka untuk mengembangkan kerja sama dengan Indonesia terkait ekspor senjata Rusia ke Indonesia. "Tentu saja kami terbuka dengan segala bentuk dialog terkait kebutuhan dari pihak Indonesia," kata Galuzin.

 

Kerja Sama di Masa Depan

Dubes Galuzin mengaku bahwa Rusia dan Indonesia akan mengadakan sejumlah latihan gabungan militer di masa depan. "Rusia juga siap untuk bepartisipasi dalam Komodo International Exercise yang diselenggarakan oleh Indonesia pada 2016 mendatang," kata Galuzin. 

Komodo International Exercise

Komodo International Exercise merupakan latihan multilateral yang diselenggarakan oleh TNI AL. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap dua tahun sekali ini diikuti oleh 18 angkatan laut dari negara-negara kawasan Pasifik. Latihan ini pertama kali dilaksanakan di Kepulauan Anambas dan Natuna, Batam, pada 2014 lalu.

Pada tanggal 12 – 16 April 2016 mendatang, TNI Angkatan Laut akan menyelenggarakan 2nd Multilateral Naval Exercise (MNE) Komodo 2016 yang dirangkai dengan International Fleet Review (IFR) 2016, 15th Western Pacific Naval Symposium (WPNS) 2016, Naval Workshop, Maritime Exhibition, Engineering Civic Action Program (Encap), dan Medical Civic Action Program (Medcap) di Padang dan Kepulauan Mentawai (Pulau Sipora dan Pulau Siberut).

Selain itu, sang dubes juga menyampaikan bahwa pada hari ini, Selasa (29/12), kapal perang "Bystry" dan beberapa kapal AL Indonesia akan melaksanakan latihan gabungan untuk melatih kerja sama mereka dalam mengatur siasat peperangan dan komunikasi. 

Kapal perang antipermukaan Rusia "Bystry" tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Jumat (25/12) dengan tujuan mengembangkan kerja sama militer dengan Indonesia. Kapal perang antipermukaan "Bystry" masuk dalam kapal perusak (destroyer) kelas Sovremennyy. Kapal kelas ini merupakan kapal perusak antipermukaan yang paling utama milik Angkatan Laut Rusia.

Menurut Galuzin, kapal "Bystry" bertugas untuk menjaga stabilitas keamanan di samudra. "Ada banyak ancaman dan tantangan terhadap perdamaian dunia. Kapal ini adalah salah satu yang terkuat dari AL Rusia untuk menangkal berbagai ancaman tersebut, bersama dengan mitra-mitra luar negeri kami, termasuk Indonesia," kata sang dubes.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More