Rusia dan Indonesia Kejar Target Omzet Perdagangan Lima Miliar Dolar AS

Direktur Dewan Bisnis Rusia-Indonesia Mikhail Kuritsyn (kiri) dan Wakil Kepala Dewan Bisnis Indonesia-Rusia (IRBC) Didie W. Soewondho dalam sesi jumpa pers seusai Forum Bisnis Rusia-Indonesia yang diadakan di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (2/12).

Direktur Dewan Bisnis Rusia-Indonesia Mikhail Kuritsyn (kiri) dan Wakil Kepala Dewan Bisnis Indonesia-Rusia (IRBC) Didie W. Soewondho dalam sesi jumpa pers seusai Forum Bisnis Rusia-Indonesia yang diadakan di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (2/12).

Fauzan Al-Rasyid
Volume perdagangan Indonesia dan Rusia ditargetkan mencapai lima miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Demikian hal tersebut disampaikan Direktur Dewan Bisnis Rusia-Indonesia Mikhail Kuritsyn di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (2/12), dalam sesi jumpa pers seusai Forum Bisnis Rusia-Indonesia.

“Jika seluruh proyek yang dibicarakan selama forum tadi terealisasi, bukan tidak mungkin hal tersebut (target lima miliar dolar AS) bisa tercapai,” kata Kuritsyn. “Hal penting lainnya yang harus ditekankan adalah bahwa target ini tak hanya bisa dicapai melalui perdagangan saja, tapi juga melalui investasi yang diharapkan akan semakin dominan dalam hubungan bilateral antara kedua negara. Jumlah investasi ini nantinya diharapkan akan mencapai nilai lima miliar dolar, termasuk proyek pembangunan jalur kereta api, proyek smelter alumina, dan sebagainya.”

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Dewan Bisnis Indonesia-Rusia (IRBC) Didie Soewondho menyatakan bahwa omzet perdagangan antara Rusia dan Indonesia kini sudah mencapai empat miliar dolar AS.

“Biasanya, 3 – 4 tahun lalu, nilai volume perdagangan Indonesia-Rusia sekitar 2,2 miliar dolar AS. Angka ini kemudian naik menjadi tiga miliar dolar AS di tahun lalu, dan sekarang saya dengar sudah berkisar empat miliar dolar AS,” kata Soewondho kepada para wartawan.

Perdagangan dan Investasi

Kepada wartawan, Soewondho menjelaskan bahwa perdagangan dan investasi merupakan dua kunci kerja sama antara Indonesia dan Rusia. “Perdagangan itu terdiri dari ekspor dan impor Indonesia ke Rusia atau sebaliknya, impor dan ekspor Rusia ke Indonesia,” ujar Soewondho.

Indonesia, lanjut Soewondho, terutama mengimpor alat utama sistem pertahanan (alutsista), bahan untuk pembuatan pupuk (petrokimia), dan juga barang-barang mineral lainnya. Sementara, ekspor Indonesia ke Rusia antara lain adalah minyak kelapa sawit, karet, dan juga produk makanan dan minuman.

“Ini harus kita kembangkan, kita harus punya target, setidaknya dalam 3 – 4 tahun ke depan, nilai volume perdagangan ini harus bertambah dua sampai 2,5 kali lipat dari yang sekarang,” kata Soewondho. “Karena itu, perlu adanya dukungan pendanaan, dukungan asuransi, dan lembaga yang mengatur dan mewadahi agar tercapai target ini. Inilah salah satu program Dewan Bisnis Rusia-Indonesia yang dipimpin Pak Mikhail. Melalui organisasi ini, para pengusaha Rusia diajak untuk berinvestasi ke Indonesia, dan kita akan berusaha untuk memfasilitasi mereka agar nyaman dalam berinvestasi di sini.”

 

Forum Bisnis Rusia-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Bisnis Rusia-Indonesia dan Dewan Bisnis Indonesia-Rusia ini secara rutin diadakan setiap tahunnya. Menurut Kuritsyn, forum ini ditujukan untuk membantu mengatasi kurangnya informasi antara kalangan pengusaha dari kedua negara dalam kondisi turbulensi ekonomi dan ketidaktstabilan perekonomian global.

Dalam forum ini, para peserta mempresentasikan proyek kerja sama terbaru di bidang pembangunan infrastruktur transportasi dan energi, penerbangan, antariksa dan maritim, termasuk beragam solusi terbaru untuk bidang kedokteran, sistem navigasi satelit dan penginderaan jauh, pertambangan dan pengolahan sumber daya alam, serta perbankan dan keuangan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More