Khalid Asaad Tewas dalam Perang Antara Budaya dan Kebodohan

Direktur Hermitage di Sankt Petersburg berkomentar tentang eksekusi seorang pengawas Kompleks Kuno di Palmyra berusia 82 tahun yang disandera oleh ISIS.

Militan dari organisasi teroris ISIS membunuh seorang kepala pengawas Kompleks Kuno Palmyra yang tercatat sebagai salah satu warisan dunia UNESCO pada Selasa (18/8).

 

Sebagaimana yang dicatat, Khalid Asaad (82) adalah seorang penulis sejumlah publikasi ilmiah. Ia telah bekerja di Palmyra lebih dari 50 tahun. Anggota keluarga mengatakan bahwa tubuh Asaad diikat di menara kuno di alun-alun pusat Palmyra tanpa kepala.

 

Direktur Jenderal Musem Negara Hermitage Sankt Petersburg menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban.

 

“Selama sejarahnya yang panjang, Palmyra telah menyaksikan banyak kematian, tetapi kali ini adalah yang terburuk. Sebelum kematiannya, Khalid Asaad telah disiksa selama beberapa minggu sampai akhirnya dieksekusi. Tak diragukan lagi bahwa kasus pengeksekusian bagi peneliti berita tersebut bisa mengakibatkan pembongkaran monumen budaya pada wilayah kekuasaan ISIS,” tulis Mikhail Piotrovsky dalam blognya yang dipasang pada situs web museum pada Rabu (19/8).

 

“Apa yang berbahaya dari Khalid Asaad bagi kelompok militan tersebut? Ancaman apa yang dapat ditimbulkan oleh seorang peneliti sekaligus penulis sejumlah karya ilmiah berusia 82 tahun ini bagi ISIS? Tampaknya bahwa bahaya dan ancaman bagi ISIS berasal dari pekerjaan Khalid Asaad itu sendiri yang melestarikan, mempelajari, dan mendeskripsikan monumen budaya kuno. Pekerjaan ini memungkinkan orang-orang dari berbagai negara dapat menengok ke belakang dan memverifikasi apa yang terjadi pada zaman ini berdasarkan monumen budaya yang masih tersisa hingga saat ini dan mulai memikirkan banyak hal,” tulis Piotrovsky.


“Ini bukan pertama kalinya sejarah manusia menjadi saksi radikal suatu bangsa, suatu kepercayaan dan ideologi yang awalnya menghancurkan materi monumen budaya, seperti monumen arsitektur, patung, buku, dan kemudian berujung pada pengeksekusian orang-orang yang menjaga peradaban manusia. Kedengarannya memang menakutkan, tapi kami merasa bahwa Khalid Asaad telah berkorban demi Palmyra. Ia dibunuh dan tewas dalam perang antara budaya dan kebodohan.”

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More