Perantau Ilmu di Rusia: ‘Sesat Jalan’ Membawa Nikmat

Kuliah di Rusia
PANCA SYURKANI
“Hari ini adalah kenyataan, kemarin adalah kenangan, dan esok adalah misteri.” Ungkapan ini sepertinya cocok menggambarkan kisah Sekretaris Pertama Fungsi Penerangan, Sosial Budaya, dan Pendidikan KBRI Moskow Enjay Diana.

Layaknya ‘esok’ yang masih misteri, putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Baden dan Yuningsih itu tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi diplomat di negara terluas di dunia, Rusia. Bagaimana tidak, suami Nuning Sahfitri itu terlahir dan besar di kampung kecil daerah Pacet, kawasan kaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat, di tengah kesederhanaan keluarga petani.

Akrab dengan sawah dan lumpur sejak kecil telah menanamkan cita-cita insinyur pertanian pada dirinya dengan harapan dapat memperbaiki perekonomian keluarga dan mengantarkan kehidupan yang lebih baik bagi para petani di tanah kelahirannya. Sayang cita-cita mulianya tak tak dapat terwujud karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan tak mampu mengantarnya ke bangku kuliah.

Lulus dari SMA Negeri Cipanas pada 1994, ayah dari dua putri cantik Anastasia Agustina Enjayevna dan Rusiana Febria Enjaevna itu melakoni pekerjaan apa pun yang tersedia. Bermodalkan ijazah SMA, ia pun membuang jauh-jauh harapan bekerja sebagai pekerja kerah putih dan melakoni pekerjaan serabutan mulai dari bertani, kuli bangunan, pengajar Pramuka, hingga menjadi karyawan pemasok pakan ikan di kawasan Waduk Cirata, Purwakarta.

Di Cirata, titik tolak hidupnya pun dimulai. Kisah kasih yang kandas membuatnya terpuruk. Ia tak ingin menangisi apa yang terjadi ‘kemarin’ karena itu hanya memberinya kenangan yang melarutkan diri dalam kesedihan. Suatu hari pada 1997, ia memupuk semangat yang tersisa dan bertekad menjemput hari esok yang lebih baik. Berbekal dukungan yang besar dari sang kakak yang berada di Rusia, ia pun mendaftar beasiswa pemerintah Federasi Rusia.

Setelah mengikuti proses pendaftaran dan penyeleksian, Enjay diterima sebagai salah satu dari 13 orang penerima beasiswa. Ia adalah angkatan kedua sejak program beasiswa yang sempat terhenti pada 1965. Sedangkan angkatan pertama pada 1996 hanya terdapat dua mahasiswa penerima beasiswa. Ia pun hijrah ke Negeri Salju dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya pada 5 September 1997, disambut kemeriahan perayaan hari jadi kota Moskow yang ke-850.

Awalnya, ia memilih jurusan Fisika-Matematika di Peoples' Friendship University of Russia (RUDN). Namun, pikirannya berkecamuk setelah beberapa bulan menjalani pendidikan di fakultas persiapan bahasa Rusia. Ia merasa jurusan yang ia ambil tak sejalan dengan kata hatinya. Setelah melalui perenungan dan pertimbangan yang panjang, ia meyakinkan diri mengubah jurusannya menjadi Filologi dengan pembidangan bahasa dan sastra Rusia.

“Awalnya, saya pilih jurusan Fisika Matematika karena sesuai dengan jurusan saya di SMA, yaitu A1 (Fisika), tapi setelah di sini saya berubah pikiran dan meyakinkan diri untuk mengganti jurusan ke Filologi,” ceritanya.

Ia mengaku ingin mempelajari bahasa Rusia lebih dalam supaya ketika lulus nanti setidaknya bisa bekerja sebagai pemandu wisata atau pengajar bahasa Rusia. Untuk itu, ia pun mengajukan permohonan ke universitas dan Kementerian Pendidikan dan Ilmu pengetahuan Rusia yang disambut positif oleh kedua instansi pendidikan tersebut. Namun, lagi-lagi ‘esok’ menentang rencananya dan kembali membuktikan diri sebagai misteri yang sulit diterka.

Alih-alih menjadi pemandu wisata atau pengajar bahasa, ia malah ‘tersesat’ di jalan lain, jalan yang tak pernah ia bayangkan dan tuju sebelumnya, yaitu jalan yang lebih baik yang selama 16 tahun ini ia jalani sebagai seorang diplomat. Bisa dibilang, sesat jalan yang membawa nikmat. ‘Hari ini’, ia menjalani hidup sebagai pekerja kerah putih sambil bersiap menghadapi ‘esok’ yang akan selalu menjadi misteri dan mengenang ‘kemarin’ sebagai pelecut, untuk hidup yang lebih baik.

Misi Perdana sang Diplomat

Pasukan penjaga perbatasan Rusia memuntahkan timah panas menghujani lambung kapal yang dinakhodai Mazwir Adi. Lampu tembak membelah kegelapan menyorot kapal bermuatan beras yang mencoba meninggalkan perairan Nakhodka, Primorsky Krai, Distrik Federal Timur Jauh Rusia itu.

Geladak kapal riuh disesaki jeritan dua puluhan anak buah kapal (ABK) berkebangsaan Indonesia dan Tiongkok. Sebagian meminta Mazwir memacu penuh kecepatan kapal kargo New Star berbendera Tiongkok itu agar menjauh dari ‘malaikat maut’ yang menggerayangi kapal mereka. Sementara yang lainnya meminta Mazwir memutar haluan dan kembali ke pelabuhan seperti perintah dari pengeras suara di kapal seberang.

Sebagai pemimpin bahtera, Mazwir pun tak ingin mempertaruhkan nyawa anak buahnya karena pelor yang mengoyak lambung kapal membuka jalan masuk bagi air laut sehingga mustahil menjaga kapal tetap terapung untuk jangka waktu yang lama. Laut pasti dengan senang hati menelan mereka jika tetap memaksakan pelayaran. Kapten yang tak lagi muda itu pun memutar roda kemudi dan mengakhiri upaya pelarian mereka.

Kapal yang telah cedera itu pun dikawal kembali menuju Pelabuhan Nakhodka, tempat mereka berlabuh sebelumnya dan menurunkan sebagian muatan, tapi tak kunjung diizinkan mengangkat sauh meski setengah purnama telah berlalu. Alasanya, penerima muatan tak puas dengan beras yang dikirimkan karena tak sesuai dengan yang dijanjikan. Mazwir dan awak kapal tersandera meski tak patut disalahkan karena hanya bertugas mengantarkan muatan ke tujuan yang diminta.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan ke darat, amukan badai menghadang dan air kian deras membanjiri lambung kapal. Tak lama kemudian, kapal terjungkir ke salah satu sisi karena hilang keseimbangan dan tenggelam dengan cepat. Sial bagi ABK yang kebanyakan berkebangsaan Tiongkok dan satu ABK Indonesia yang memilih sisi itu saat berusaha menyelamatkan diri. Sementara Mazwir, tujuh ABK Indonesia, dan beberapa ABK Tiongkok di sisi satunya lolos dari maut.

Kapal penjaga yang mengawal tak dapat membantu karena sangat berisiko terseret arus air yang mengaramkan kapal jika mendekat. Setelah dirasa aman, barulah kapal penjaga menolong korban selamat dan membawa mereka ke darat untuk kemudian mendapatkan perawatan medis dan menghadapi proses hukum.

Peristiwa itu melekat tajam di ingatan Enjay Diana meski sepuluh tahun telah berlalu sejak ia mendengarkan langsung penjelasan Mazwir di rumah sakit, tempat sang kapten menjalani perawatan setelah lolos dari peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya. Saat itu, Enjay yang menjabat sekretaris ketiga fungsi penerangan dan sosial budaya KBRI Moskow bersama Dewanto, pejabat fungsi protokol dan konsuler KBRI Moskow, mengemban misi diplomasi pertamanya pada Februari 2009 sebagai tim pencari fakta utusan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin.

“Awalnya, kami mengetahui informasi tenggelamnya kapal dan penahanan awak kapal dari pemberitaan. Saya sendiri belum ada pengalaman apa-apa dalam hal diplomasi selain pengalaman magang di KBRI Kiev, Ukraina, lima tahun sebelumnya. Jadi belum tahu harus apa dan bagaimana,” kenang Enjay.

Enjay dan Dewanto diberi tenggat waktu dua hari untuk mencari tahu kebenaran informasi itu. Ia dan Dewanto pun bertolak ke Vladivostok pada 23 Februari (89 jam penerbangan dari Moskow). Dari sana, masih diperlukan sekitar 3–4 jam perjalanan darat ke Nakhodka.  Ketika sampai di Vladivostok, mereka tak berhasil menemui perwakilan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia karena saat itu hari libur. Tim kemudian mencoba melacak pihak-pihak yang bisa dihubungi hingga mempertemukan mereka dengan Valeria, mahasiswi Universitas Federal Timur Jauh.

Mahasiswi Rusia yang lancar berbahasa Indonesia karena pernah berkuliah di Indonesia itu dimintai bantuan oleh penjaga perbatasan Rusia untuk menanyai Mazwir dan ABK Indonesia saat interogasi. Berbekal informasi dari Valeria, tim melanjutkan perjalanan menembus cuaca musim dingin melintasi pegunungan menuju Nakhodka.

Sesampainya di sana dan berkomunikasi dengan pihak berwenang, Enjay dan Dewanto diperbolehkan bertemu dengan Mazwir dan ABK Indonesia di tempat terpisah. Para ABK ditahan di kamar-kamar hotel yang terletak di lantai yang diisolasi. Sementara, Mazwir berada di rumah sakit karena kondisi kesehatan yang buruk.

“Yang menjadi perhatian kami waktu itu adalah Mazwir. Sebagai kapten kapal, ia bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi. Sementara, ABK tidak akan dijerat dengan pasal yang berat karena hanya sebagai pekerja,” terang Enjay kepada Russia Beyond.

Dari fakta yang terkumpul, diketahui bahwa Mazwir tidak membawa kapal dari titik asal. Ia dan delapan ABK Indonesia direkrut oleh perusahaan pemilik kapal di tengah jalan menuju Nakhodka. Kapal tiba dan melakukan bongkar muat di Pelabuhan Nakhodka pada akhir Desember.

Pembeli beras merasa kualitas produk tidak sesuai dengan yang diharapkan dan memberhentikan proses bongkar muat dan New Star tak diperbolehkan meninggalkan pelabuhan hingga pertengahan Januari. Lama menunggu tanpa kejelasan, akhirnya Mazwir mengambil jalan pelarian berujung tragedi nahas tersebut.

Temuan itu pun dibawa pulang ke Moskow demi menemukan solusi terbaik. Setelah melakukan berbagai proses diplomasi dan hukum, para ABK dipulangkan ke Indonesia setelah selesai menjalani pemeriksaan. Sementara, Mazwir divonis tiga bulan penjara atas ketidakpatuhan perintah tinggal.

Selama 16 tahun berkarier sebagai diplomat dengan spesialisasi Rusia, banyak hal berkesan yang dialami Enjay. Di antaranya, dipercaya menjadi penerjemah pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tiga presiden pada 2013. yaitu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, dan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko.

Selain itu ia juga pernah mendampingi Presiden Joko Widodo sebagai penerjemah saat menerima Menteri Perdagangan dan Industri Rusia Denis Manturov yang bertindak sebagai utusan resmi Presiden Putin pada Januari 2016, menjelang pertemuan KTT ASEAN-Rusia di Sochi, Mei 2016. Namun, sayang sekali dua minggu sebelum pertemuan, Enjay mengalami kecelakaan dan batal berangkat ke Sochi.

“Saya sudah siap berangkat dengan tim mendampingi Jokowi ke Sochi. Namun, dua minggu sebelum acara, saya mengalami kecelakaan sepeda motor di kolong Simpang Semanggi,” kenang diplomat yang juga menamatkan magister filologi bahasa Rusianya di RUDN itu.

Kuliah di RUDN dan Awal Karier Diplomat

Hidup di bekas negara yang belum lama mengalami perpecahan bukanlah hal yang mudah. Enjay tiba di Moskow selang enam tahun sejak runtuhnya Uni Soviet. Menurutnya, saat itu Moskow masih belum ramah dari segi keamanan.

“Tak seperti sekarang, dulu Rusia masih belum begitu terbuka karena masih dalam masa peralihan dan masih berjalan hingga sekitar tahun 2000. Orang asing diperiksa kelengkapan dokumennya tiap beberapa ratus meter. Bukan hanya di jalan, kereta bawah tanah, area kampus dan asrama, bahkan saat menyetop taksi di depan KBRI, mobil patroli berhenti dan menanyai kami,” jelas Enjay. Namun hal itu tak menjadi hambatan dalam berkuliah, akunya.

Sama seperti kebanyakan mahasiswa asing, mempelajari bahasa Rusia menjadi tantangan terbesar bagi Enjay, terlebih lagi ia tak pernah mengenal huruf Kiril sebelumnya. Meski mengaku sulit, ia membulatkan tekad dan mengatur strategi, bagaimana bisa lebih efektif mempelajarinya. Tinggal di asrama memberinya kesempatan lebih banyak untuk berlatih bahasa Rusia, baik dengan teman sekamar yang berasal dari Afrika, ataupun dengan teman-teman seasrama lainya.

“Pada dasarnya ya … sulit, tapi saya coba berusaha. Karena tinggal di asrama, banyak waktu dan kesempatan untuk belajar,” aku Enjay. Beberapa cara yang ia lakukan untuk memudahkannya belajar bahasa Rusia adalah dengan menuliskan kata berulang-ulang hingga satu halaman dan mendengarkan siaran radio sebelum tidur atau saat dalam perjalanan. Kata-kata yang ditulis ataupun didengar dari radio kemudian diucapkanya berulang-ulang.

Dalam perkuliahan, Enjay tak mengalami kesulitan yang berarti dan kebanyakan nilainya pun bagus. Hal itu bukan karena ia menguasai bahasa Rusia dalam waktu singkat — hal itu justru mustahil, menurutnya. Namun, yang ia lakukan adalah selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, selalu hadir dan aktif selama perkuliahan.

“Sebagai orang asing, kita harus tunjukan bahwa kita tetap berusaha sebaik mungkin meski mengalami kesulitan. Dengan begitu, dosen akan melihat dan menghargai upaya kita terlepas dari kesalahan-kesalahan kita,” jelasnya. “Malah,” lanjutnya, “kadang-kadang dosen mendatangi saya dan mengatakan bahwa saya tidak perlu ikut ujian dan otomatis mendapat nilai.”

Lima tahun berlalu, Enjay pun menyelesaikan kuliahnya pada 2002 dengan nilai yang ia sebut tak jelek-jelek amat . Mayoritas nilainya 5 (rentang nilai 1 – 5), beberapa 4 dan hanya satu yang 3. Karena belum memiliki gambaran akan melakukan apa , ia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah S-2 di kampus yang  sama. Di masa menunggu dimulainya perkuliahan, Enjay mendapat informasi pembukaan penerimaan pegawai dengan spesialisasi Rusia di Kemenlu. Ia pun mencoba memasukkan lamaran.

November 2002, sebulan setelah ia menjalani pendidikan S-2-nya, ia di hadapkan pada keputusan yang sulit. Tak disangka, lamarannya diterima. Ia harus mengikuti tes tertulis sehingga harus pulang ke Indonesia. Ia pun menimbang tiga skenario menghadapi situasi itu.

Yang pertama, pulang begitu saja tanpa meminta izin kepada RUDN, dengan risiko tak bisa kembali kuliah jika tidak lolos tes. Kedua, meminta izin pulang ke RUDN sehingga bisa kembali berkuliah jika tidak lolos tes, dan yang ketiga, meminta izin pulang ke RUDN dan jika lolos tes tetap melanjutkan kuliah di RUDN. Akhirnya skenario kedua yang paling mungkin ia jalankan. Enjay mengajukan cuti akademik dan pulang ke Indonesia. Tak sia-sia, perjuanganya membuahkan hasil yang manis dan ia memulai karier diplomatnya pada Februari 2003.

Meski demikian, ia kembali melirik skenario ketiga yang ia timbang sebelumnya, yaitu tetap melanjutkan kuliah sembari meniti karier diplomatnya. Ia pun mengajukan permohonan dan dikabulkan oleh Kemenlu. Pada 2004, Enjay menjalani tugas magang selama setahun di KBRI Kiev, Ukraina. Barulah pada 2005, ia kembali ke Moskow dan melanjutkan pendidikan S-2-nya.

Sukses meraih gelar masternya, Enjay pulang ke Indonesia pada 2007 dan kembali bekerja di Kemenlu serta memulai bahtera rumah tangganya dengan gadis yang tak sengaja dikenalnya pada 2003 saat baru pulang dari Moskow. Perkenalanya dengan Nuning Sahfitri terjadi karena Nuning yang lupa menutup emailnya seusai menyewa jasa internet di warung internet kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat.

Saat Enjay menggunakan komputer yang sama dengan yang dipakai Nuning dan menemukan email yang tak ditutup oleh sang empunya, ia pun mencoba mengirim pesan perkenalan karena yakin si pemilik adalah seorang perempuan. Tak disangka-sangka, perkenalan yang tak biasa itu berlanjut ke pelaminan empat tahun kemudian.

Sang Istri Ikuti Jejak Enjay

Tahun ini, Enjay memasuki tahun kedua dari empat tahun masa penempatan keduanya sebagai diplomat di KBRI Moskow. Sementara, penempatan pertamanya dimulai setahun setelah ia menikah dan berlangsung selama empat tahun (2008–2012).

Sejak penempatan pertama di Moskow pada November 2008, sang istri sebenarnya juga ingin berkuliah, tapi saat itu kondisinya tidak memungkinkan karena putri pertama mereka Anastasia baru berusia tiga bulan, ditambah lagi kelahiran putri kedua mereka Rusiana pada 2011.

Kini, pada penempatan kedua, barulah terbuka kesempatan bagi Nuning untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2. “Ketika saya mendapatkan informasi bahwa saya kembali ditugaskan ke Moskow, saya dan istri berdiskusi dan sepakat bahwa istri saya akan berkuliah di sini,” jelas Enjay.

Namun, Enjay mengaku bahwa ia tak mau muluk-muluk berharap istrinya akan menjadi apa setelah lulus nanti. Hal itu semata-mata untuk menambah pengetahuan dan wawasan, serta mengisi waktu sang istri selama di Moskow.

Nuning pun mendaftar Program Beasiswa pemerintah Federasi Rusia dan menjadi satu dari 161 penerima beasiswa tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta. Mengikuti jejak Enjay, ia juga memilih RUDN sebagai tempatnya menimba ilmu.

Beruntung bagi Nuning karena suaminya sekaligus merangkap sebagai mentor yang selalu siap sedia membantu dan membimbingnya dalam menjalankan studinya. Enjay sering menghibur sang istri setiap kali ia menemui kesulitan dalam bahasa atau dalam mengerjakan tugas kuliah dengan mengatakan ia pun mengalami kesulitan yang sama ketika berkuliah dulu. Tak lupa, Enjay mengingatkan sang istri bahwa kehadiran, keaktifan, dan kerajinan mengerjakan tugas berpengaruh besar terhadap penilaian dosen.

Enjay sangat memuji sistem pendidikan di Rusia. Namun ketika ditanya perbandingannya dengan sistem pendidikan di Indonesia, ia mengaku tak dapat membandingkannya karena tidak pernah berkuliah di Indonesia. Namun, ia menceritakan bahwa putrinya Rusiana bersekolah di kelas satu sekolah dasar Rusia saat ini dan sejak awal mendaftar hingga saat ini ia tidak mengeluarkan  uang sepeser pun.

“Pemerintah benar-benar memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sejak pendaftaran hingga sekarang saya tidak membayar sepeser pun, termasuk buku pelajaran dan buku catatan,” puji Enjay.

Setelah satu setengah tahun bersekolah, Enjay mengakui Rusiana kini sudah lumayan bagus berbicara dan menulis dalam bahasa Rusia. Metode yang ia terapkan sama seperti saat ia belajar bahasa Rusia dulu. Bedanya, kalau dulu Enjay suka mendengarkan radio sebelum tidur, kini ia mengarahkan Rusiana untuk menonton film-film kartun berbahasa Rusia untuk melatih pendengaran sebelum tidur.

“Sekarang bahasa Rusianya sudah lebih bagus dari istri saya. Dia malah suka mengomentari saat istri saya salah mengucapkan dalam bahasa Rusia,” ungkap Enjay sambil menyimpulkan senyum.

Artikel ini adalah bagian dari seri “Kuliah di Rusia” yang mengulas kisah dan pengalaman para pelajar Indonesia di Negeri Salju.