Dari Jakarta ke Moskow: Tantangan dan Pengalaman Baru di Negeri Beruang Merah

Sheyila Fabiola

Sheyila Fabiola

RBTH Indonesia
Sheyila Fabiola, seorang mahasiswi UI, tiba di Moskow pada bulan September lalu untuk belajar sastra Rusia. Pada wawancaranya dengan RBTH, dia menceritakan mengenai kuliahnya di Moskow, kesulitan yang dihadapi mahasiswa asing di Universitas Negeri Moskow dan perbedaan antara Moskow dan Jakarta.

Sheyila Fabiola, salah satu mahasiswi Indonesia yang kini sudah punya nama Rusia, Ola, tiba di Moskow pada bulan September lalu. Ola adalah mahasiswi sastra Rusia tingkat ketiga di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). RBTH berkesempatan berbincang dengan Ola terkait program pertukaran pelajar antara UI dan Universitas Negeri Moskow (MGU), kesan pertama saat menjejakkan kaki di Rusia, dan perbedaan antara kedua ibu kota.

RBTH (R): Di mana Anda tinggal saat ini?

Sheyila Fabiola (S.F.): Saya tinggal di sebuah asrama, tepatnya di GZ (Glavnoye Zdanie, kampus utama MGU). Di sana ada banyak mahasiswa asing. Mereka mayoritas berasal dari Jerman. Saya juga bertemu beberapa mahasiswa dari Prancis dan Spanyol, dan banyak juga dari Korea, Jepang. Sementara, dari Indonesia hanya ada saya dan Rendy.

R: Bagaimana akhirnya Anda bisa tiba dari UI ke MGU?

S.F.: Ada sebuah program. Program tersebut adalah program tahunan khusus untuk mahasiswa tingkat terakhir yang sudah mau lulus—tapi kami belum lulus. Jadi, di akhir tahun ketiga. Kemudian ada suatu mekanisme seleksi dari kepala program studi (kaprodi). Setelah itu segalanya baru diurus dan akhirnya bisa berangkat. Pada dasarnya tes ini tidak terlalu sulit. Mereka hanya melihat berdasarkan nilai saja dan ada wawancara. Wawancara pun tidak sulit, hanya seperti biasa, formalitas.

Ada banyak mahasiswa yang ingin menempuh studi ke negara-negara asing. Mereka pergi ke Asia, seperti ke Jepang atau Tiongkok. Kemudian ada beberapa yang ke Eropa Timur, seperti Slovakia, juga ke Rusia. Ada pula yang pergi ke Eropa Barat, misalnya Jerman, Prancis. Sebenarnya, ada banyak mahasiswa yang mau belajar di Rusia. Misalnya, ada dua orang lagi yang mau ke Rusia, tapi mereka tidak pergi, saya tidak tahu mengapa. Jadi, seharusnya kami di sini berempat, dan di grup saya sekarang ada 26 orang mahasiswa.

R: Sekarang Anda belajar di universitas paling ternama di Rusia, MGU. Bagaimana kesan Anda mengenai kampus ini dan sistem pendidikan di Rusia secara umum?

S.F.: Saya sangat senang! Mungkin birokrasinya rumit, tapi saya pikir memang semua mahasiswa MGU sangat pintar dan merupakan yang terbaik. Saya bisa lihat ada situasi ketika belajar, para mahasiswa benar-benar belajar, berdiskusi, dan membaca. Pada dasarnya, UI dan MGU hampir mirip. Walaupun tentu saja ada beberapa mahasiswa yang juga malas, tidak mau belajar.

R: Mata kuliah apa yang akan Anda ikuti saat ini?

S.F.: Sekarang saya ada kelas bahasa Rusia (latihan mendengar, fonetik, dan tata bahasa) di Fakultas Filologi. Dan saya juga ikut kelas semantik dan pragmatik. Dan mungkin akan ikut seminar jika bisa.

R: Apa kesan pertama Anda mengenai Rusia?

S.F.: Saya sangat menyukai Rusia, khususnya arsitekturnya, misalnya Teater Bolshoi. Saya juga sangat menyukai GZ. Bangunan ini sangat bagus. Dan terlebih lagi, masih soal arsitektur, saya sebenarnya sangat menyukai jalanan-jalanan di sini, dan juga banyak pepohonan yang rindang.

Namun, saya kurang suka dengan orang-orang yang ada di bagian administrasi karena mereka sedikit galak. Mahasiswa Rusia lainnya pun juga berpikiran seperti saya. Apalagi seperti saya yang merupakan mahasiswa internasional, jadi saya sedikit kaget ketika sampai di GZ. 

Saya suka bangunan GZ, tapi masalah birokrasi atau registrasi itu cukup sulit dan merepotkan, harus ke sana, ke sini, ke sana, ke sini. Namun, sejauh ini semuanya baik.

R: Apa perbedaan antara Moskow dan Jakarta?

S.F.: Moskow tidak sepadat Jakarta, udaranya lebih bersih, dan juga lebih dingin. Mungkin kalau dari beberapa barang atau makanan tidak terlalu beda jauh dari Jakarta—tidak terlalu mahal, tapi juga tidak terlalu murah: standar. Kemudian, bicara soal alam, tentu saja, menurut saya di Moskow lebih baik karena ada banyak orang yang berjalan kaki. Sementara, berjalan di Jakarta terasa sangat panas, banyak asap dan polusi. Di sini juga tidak selalu macet. sedangkan di Jakarta hampir selalu macet.

Saya juga mau ke kota lain. Ke Piter (Sankt Peterburg)! Tentu saja saya mau melihat Hermitage (salah satu museum budaya terbesar di dunia -red.) dan mungkin Petergof (museum dan istana musim panas). Saya juga ingin lihat Masjid Biru. Mungkin juga ke Kazan dan Vladivostok yang terletak di ujung timur Rusia.

R: Bagaimana dengan cuaca di Rusia? 

S.F.: Memang dingin, tetapi sejauh ini saya masih bisa dihadapi. Namun, saya tida tahu seperti rasanya ketika musim dingin tiba. Sekarang, saya masih kuat. Walaupun harus pakai mantel, jaket, dans enaknya, rasanya tetap menyenangkan karena tidak berkeringat.

R: Makanan Rusia apa saja yang sudah dicoba?

S.F.: Saya suka minuman “kompot” (seperti jus), kue dengan “smetana” (krim asam). Saya cukup suka “bliny” (panekuk), roti, kentang, dan keju. Di sini makanan tidak ada yang pedas. Mungkin saya bisa katakan makanan Rusia sedikit tawar, sedangkan masakan Indonesia sangat kaya rasa.

R: Mimpi atau rencana apa saja yang ingin Anda wujudkan selama di Rusia?

S.F.: Saya sebenarnya ingin jalan-jalan, ingin menjelajahi Rusia jika saya masih punya cukup uang. Saya ingin mencoba berbagai masakan tradisional Rusia. Ingin tahu tradisi Rusia, seperti tarian, nyaian, pakaian, dan melihat gereja-gereja Ortodoks lainnya di luar Moskow. Saya sudah melihat-lihat buku tentang Rusia, seperti “Russia Beyond Moscow”. Di sana ada informasi mengenai gereja-gereja yang bagus sekali, dan juga Danau Baikal, misalnya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More