Orang-Orang Nanai: Makin Sedikit, tetapi Tetap Bangga

Discover Russia
YEKATERINA SINELSCHIKOVA
Penduduk pribumi yang populasinya tak seberapa ini dahulu pernah tercerai-berai lantaran batas negara ditarik melalui wilayah tempat mereka tinggal. Akibatnya, populasi mereka di Rusia menjadi lebih kecil. Lantas, apa saja yang dapat kita ketahui tentang orang-orang Nanai?

Ada banyak fakta menarik tentang orang Nanai. Misalnya, mereka juga disebut orang-orang Rybokozhim ‘Kulit Ikan’ karena mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit ikan. Saat ini, pakaian tradisional suku Nanai seperti itu berharga sekitar 2.500—4.000 dolar (sekitar 35 juta—57 juta rupiah). Ada pula fakta menarik lainnya: ketika seorang Nanai meninggal, ia akan dibuatkan oto (kain penutup dada dan perut yang bertali ujungnya sebagai pengikat pada leher dan perut, seperti celemek) seremonial yang disulam dengan pola usus, sementara boneka kayu kecil dibuat untuk menghormati sang mendiang, yang “diberi makan” selama satu tahun setelah kematian orang tersebut. Hal menarik lainnya berhubungan dengan nama marga orang Nanai. Sampai hari ini, suku Nanai hanya memiliki 30 marga.

Seperti kebanyakan masyarakat adat lainnya di Rusia, orang-orang Nanai hampir sepenuhnya berasimilasi dengan orang Rusia. Kini tak banyak orang Nanai yang tahu, apalagi berbicara bahasa Nanai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, orang-orang Nanai tetap menjadi penduduk asli Timur Jauh yang telah tinggal di tanah ini sebelum ditemukan oleh orang Tionghoa dan kemudian orang Rusia.

Siapakah “manusia bumi” ini?

Para peneliti masih belum sepakat tentang asal muasal orang-orang Nanai. Beberapa percaya bahwa nenek moyang orang Nanai awalnya tinggal di Manchuria (sekarang timur laut Tiongkok) dan kemudian pindah ke Amur yang lebih rendah dan lembah Sungai Ussuri. Lainnya, seperti ahli etnografi Lev Sternberg, percaya bahwa orang Nanai muncul melalui campuran suku yang berbeda. Teori ini dikonfirmasi oleh analisis genetik orang Nanai. Ternyata, secara komposisi etnis, klan-klan Nanai sangat berbeda satu sama lain. Beberapa klan dapat dilacak hingga ke Tiongkok, sementara yang lain masih berkaitan dengan orang-orang Turk, Mongol, atau Tungus.

Meskipun permukiman orang-orang Nanai di Rusia kali pertama disebutkan pada abad ke-17, mereka telah mendiami tanah ini selama berabad-abad. Secara harfiah, nanai berarti ‘manusia bumi’. Ketika kolonisasi Rusia, mereka disebut “masyarakat luar” (saat itu, ungkapan tersebut berarti kelompok etnis apa pun selain Rusia) dan kini mereka secara resmi disebut “masyarakat kecil”.

Menurut sensus tahun 2010, ada 11.671 orang Nanai yang tinggal di Rusia. Sementara itu, 4.600 orang Nanai lainnya tinggal di Tiongkok setelah Perjanjian Beijing tahun 1860, yang menetapkan perbatasan negara di sepanjang Sungai Amur dan Ussuri sehingga membagi wilayah orang-orang Nanai antara Rusia dan Tiongkok.

Seorang syaman dengan seekor anjing dan jiwa yang dicuri

Ketika orang Rusia menjejakkan kaki di Timur Jauh, masyarakat adat dihadapkan pada dua pilihan: menerima kekuasaan Rusia atau pergi. Suku Nanai memilih untuk tetap tinggal di tanah adat mereka. Saat ini, lebih dari 92 persen populasi Nanai Rusia tinggal di Khabarovskaya Oblast: di Kota Khabarovsk dan di desa-desa di kedua tepi Sungai Amur dan Ussuri, yang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Khabarovsk.

Orang-orang Nanai kemudian mendapatkan ultimatum lain ketika, pada paruh kedua abad ke-19, mereka harus meninggalkan paganisme dan memeluk Ortodoks. Dalam kepercayaan tradisional suku Nanai, alam memiliki jiwa, yang dapat terhubung melalui syaman (dukun) dan dengan bantuan anjing. Suku Nanai percaya bahwa anjing adalah pemandu dan penolong syaman untuk menemukan jiwa manusia yang “dicuri”.

Jiwa orang mati dirawat dengan cara yang berbeda. Orang yang meninggal memiliki oto yang disulam dengan pola berbentuk usus sehingga jiwa orang itu dapat bernapas dan makan. Dalam peti mati, kaki mayat, di bawah tumit, akan diletakkan batu sehingga ia tidak akan bangkit menghantui jiwa orang yang masih hidup. Untuk tujuan yang sama, mendiang dibawa keluar rumah melalui bukaan atau jendela yang rusak, tetapi tidak pernah melalui pintu sehingga ia tidak akan menemukan jalan pulang. Suku Nanai percaya bahwa jiwa orang mati “hidup” selama setahun setelah kematiannya dalam sebuah boneka kayu kecil yang disebut pane. Setiap hari, boneka itu diberi makan dan, setahun kemudian, syaman akan mengirim arwah orang yang sudah meninggal ke alam baka. Hingga akhir abad ke-19, suku Nanai memakamkan jenazah di rumah-rumah panggung. Mereka baru mulai mengubur orang mati di tanah belum lama ini.

Pakaian tradisional orang Nanai terdiri dari jubah dan celana yang dililit, yang disulam dengan pola yang selalu memiliki makna tertentu, seperti perlindungan dari roh jahat, harapan akan kesehatan yang baik, hasil tangkapan yang baik, dll. “Bisakah Anda melihat oto ini? Saya membuatnya sendiri. Ini untuk menakut-nakuti roh jahat. Makin banyak dekorasi logam padanya dan makin keras gemerincingnya, makin bagus. Sebelumnya, oto ini dikenakan di dalam pakaian, tetapi sekarang orang-orang terbiasa memakainya di luar pakaian,” kata Elena dari Desa Sikachi-Alyan.

Banyak orang Nanai modern mempraktikkan dua agama sekaligus. Mereka pergi ke gereja, tetapi, pada saat yang sama, mereka membuat persembahan kepada roh sungai “untuk keberuntungan” dan, untuk berjaga-jaga, meninggalkan koin di patung ritual Savan.

Bagaimana orang Nanai menciptakan nama marganya sendiri?

Ketika mereka mendapatkan paspor Soviet, orang-orang Nanai, untuk kali pertama dalam sejarah mereka, harus memiliki nama belakang. Sampai tahun 1974, orang-orang Nanai tidak pernah memiliki nama belakang. Ketika peraturan memiliki paspor bagi seluruh warga negara Soviet (kecuali personel militer) disahkan setengah abad setelah Uni Soviet dibentuk, orang-orang Nanai membuat nama belakang berdasarkan logika aturan berikut. Untuk nama keluarga/marga, mereka mengambil nama klan tempat mereka berasal. Dengan demikian, ada 30 nama keluarga klan Nanai: Possar, Aimka, Digor, Nuer, Yukomzan, dll.

Klan terbesar adalah Beldy. Orang Nanai paling terkenal dari klan ini adalah penyanyi Kola Beldy (1929—1993). Lagu “Uvezu Tebya Ya v Tundru” (Ku Bawa Kau ke Tundra) berhasil mengantarkannya pada posisi kedua dalam kompetisi utama di Festival Lagu Internasional Sopot (Polandia). Setelah itu, ia melakukan tur selama bertahun-tahun, mengunjungi 46 negara. Liriknya menggambarkan kehidupan di tundra dan penggembalaan rusa meskipun suku Nanai tidak pernah tinggal di tundra atau memelihara rusa.

Orang-orang Nanai terlahir sebagai nelayan. Ada sekitar 140 spesies ikan di Amur. Lima bulan dalam kalender orang Nanai bahkan dinamai menurut nama-nama ikan.

Suku Nanai pada abad ke-21

Tempat tinggal dan kehidupan sehari-hari orang Nanai modern tidak terlalu berbeda dengan kehidupan orang Rusia pada umumnya. Internet, peralatan rumah tangga, mobil, motor modern untuk kapal, unit listrik portabel — semua ini digunakan oleh orang-orang Nanai, bahkan di desa-desa terpencil sekali pun. Meski begitu, mayoritas orang Nanai, terutama yang muda dan bugar, tidak tinggal di desa. Mereka tinggal di kota-kota terdekat, dan di sana malah menjadi etnis minoritas.

“Menjadi orang Nanai, (tinggal) di desa orang Nanai, dan bersekolah di sekolah orang Nanai memang bagus, tetapi hanya sedikit yang berhasil melakukannya. Namun, ketika Anda adalah satu-satunya orang Nanai di sekolah, semua orang mulai menggoda Anda tentang hal itu, bahkan ada yang menghina, ‘Apa pekerjaanmu, orang Nanai?’,” kata Leonid Sungorkin, Presiden Asosiasi Perlindungan Budaya, Hak, dan Kebebasan Masyarakat Adat Amurskaya Oblast.

Tak hanya itu, aktivitas memancing sekali pun, mata pencaharian tradisional orang Nanai dan sumber makanan utama mereka, terpaksa tunduk pada kenyataan modern. Di Rusia, undang-undang menentukan masyarakat adat mana yang dapat menangkap ikan dan berapa banyak. Untuk orang-orang Nanai, kuotanya adalah 50 kilogram ikan per orang per tahun, atau 100 kilogram jika keluarga itu memiliki tiga anak atau lebih. Ini adalah manfaat paling maksimal yang, menurut suku Nanai, pada kenyataannya, tidak benar-benar berfungsi. Orang Nanai yang tinggal di kota tidak mampu membelinya: mereka tidak memiliki perahu, jaring, mereka sudah lanjut usia, atau mereka memiliki pekerjaan dan tidak punya waktu untuk menangkap ikan. Pada saat yang sama, tidak ada kompensasi finansial bagi orang-orang yang tidak menggunakan kuota penangkapan ikannya.

“Selain itu, masyarakat Nanai juga berhak atas kayu untuk membangun rumah. Namun, ini juga hal yang rumit karena mereka (orang-orang Nanai) dialokasikan sedikit hutan di suatu tempat yang jauh dan diharapkan untuk membebaskan lahan taiga, menebang pohon, membersihkan, menyiapkan, dan mengangkut semua kayu itu, baru kemudian membangun rumah. Ini tidak realistis,” kata Sungorkin.

Namun, beberapa orang Nanai berhasil mendapatkan keuntungan dari identitas kesukuan mereka. Pada tahun 2010-an, mereka mulai mengembangkan etnowisata, mengubah budaya Nanai menjadi daya tarik pariwisata.

“Perjalanan ke permukiman Nanai kini makin populer. Kami telah menawarkannya sejak 2016 dan permintaannya tidak pernah turun. Selain itu, orang datang dari mana-mana — dari wilayah kami dan dari daerah tetangga, bahkan dari Moskow (yang berjarak 8.240 kilometer dari Khabarovsk) dan bagian barat Rusia lainnya,” kata Olga Pomitun, dari agen perjalanan Voyage yang berbasis di Khabarovsk.

Saat berkunjung ke perdesaan Nanai, wisatawan dapat mencoba memanah, belajar memasak hidangan tradisional Nanai, mencicipinya, memainkan permainan suku Nanai, dan membeli kerajinan orang Nanai.

Selanjutnya, bagaimana Rusia mencaplok Timur Jauh? Bacalah selengkapnya!