Bagaimana Perayaan Maulid Nabi di Dagestan?

Abdullah Shakoor/Pixabay
Maulid Nabi kini menjadi budaya yang solid dan dirayakan secara luas di Dagestan tidak hanya selama Rabiul Awwal, tetapi juga selama hari besar lainnya seperti kelahiran anak, upacara pernikahan, upacara khitanan, dan banyak lagi.

Saya menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak prasekolah saya di salah satu desa di Dagestan bersama kakek-nenek saya. Saat itu masih dalam zaman komunisme, ketika setiap agama dilarang di negara ini. Anak-anak di sekolah diajarkan puisi yang bertemakan pemujaan terhadap Lenin sebagai pahlawan nasional, dengan potretnya digantung di seluruh koridor. Selain itu, perkataan yang diutarakan oleh Lenin seperti Belajar, Belajar dan Belajar, atau Lenin telah hidup, Lenin hidup, dan Lenin akan terus hidup selalu terdengar dalam pidato selama acara sekolah dan acara publik lainnya.

Bersama kakek saat berusia tiga tahun.

Di kota, masyarakatnya cenderung menyerap budaya komunisme dengan tingkat praktik yang berbeda, beberapa percaya sepenuhnya pada ideologi komunis, tetapi beberapa dari mereka ada juga yang mempraktikkan agama secara diam-diam. Namun di desa saya, di Dagestan, situasinya berbeda.

Saya (kiri) bersama dua adik adik saat berusia tujuh tahun.

Wilayah Dagestan adalah dataran tinggi, gabungan dari banyak bukit, sehingga menyebabkan desa-desa di sini sangat sulit untuk dijangkau. Oleh karena itu, Dagestan menjadi tempat yang aman bagi orang-orang yang ingin menjalankan kewajiban agama mereka. Meskipun pada awalnya, komunisme membuat banyak umat beragama di sini tak luput dari penganiayaan.

Saya saat berusia empat tahun.

Saya masih ingat dengan jelas beberapa ajaran Maulid Nabi yang pernah diajarkan saat saya masih kecil, meskipun saat itu sebagai seorang anak-anak saya tidak mengerti apa artinya, tetapi saya ingat dengan jelas bacaan-bacaan tertentu dan melodinya yang selalu dibacakan di rumah kakek-nenek saya, juga di rumah kerabat lainnya. Bacaan itu adalah nazmu atau qasidah yang ditulis oleh pemuka agama Islam di wilayah kami dalam bahasa Avar, yang berisi tentang Nabi Muhammad SAW dan kisah hidupnya.

Perayaan Maulid Nabi di Universitas Pedagogi Kemanusiaan.

Seperti keajaiban yang terkait dengan kelahirannya yang mulia, leluhur dan garis keturunannya, kenaikannya ke surga (isra mikraj), migrasinya ke Madinah, dan masih banyak lagi. Namun, karena kurangnya literatur agama, kami akhirnya menggunakan bacaan agama lokal kami yang telah menjadi bagian dari budaya lokal dan cerita rakyat. Ada kalanya kami membaca sambil berdiri bersama-sama (mahalul qiyam). Setelah itu, kami akan berdoa dan berbagi makanan bersama. Saat ini setiap kali saya menghadiri perayaan Maulid Nabi saya ingat akan kenangan masa kecil itu.

Perayaan Maulid Nabi di Universitas Pedagogi Kemanusiaan.

Hari ini Maulid Nabi telah menjadi budaya yang solid dan dirayakan secara luas di Dagestan tidak hanya selama Rabiul Awwal, tetapi juga selama hari besar lainnya seperti kelahiran anak, upacara pernikahan, upacara khitanan, dan banyak lagi. Setiap desa dan kota dari seluruh republik berkumpul untuk mengadakan perayaan di stadion atau tempat terbuka lainnya. Dengan demikian, sebelum pandemi COVID-19, sekitar 300 ribu umat Islam berkumpul untuk perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh Muftiyat Dagestan.

Perayaan Maulid Nabi di Institut Kemanusiaan Dagestan.

Menurut Muftiyat Dagestan, acara Maulid Nabi terdiri dari enam bagian berikut: pembacaan Al-Qur'an, pembacaan salawat Nabi dan kisah-kisah dari hidupnya, zikir, doa, pengumpulan, dan hadiah. Imam Syafi'i mengatakan bahwa tidak boleh untuk merubah atau memberikan inovasi terhadap hal yang memiliki dasar Syariah, dan semua 6 poin di atas memiliki dasar dalam Syariah. Jadi enam kegiatan tersebut masih sama hingga saat ini.

Bersama mahasiswa dari UIKA Bogor Evan Edo Prasetya, Muhammad Rafdi Huzaifi, dan Muhammad Atif dari India, di Pusat Studi Nusantara Universitas Pedagogi Kemanusiaan.

Sebagai bagian dari kegiatan dakwahnya, Muftiyat mengirimkan para imam dan nasyid untuk menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi di bulan Rabiul Awal di kota-kota besar di seluruh Rusia. Diaspora Dagestan yang berada di luar Republik Dagestan juga merayakan Maulid Nabi, dan ini adalah kesempatan yang baik bagi semua orang untuk bertemu serta berbagi kegembiraan dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia.

Mahasiswi Universitas Pedagogi Kemanusiaan selama acara Maulid Nabi.

Selain budaya Maulid Nabi, perayaan ini juga memiliki banyak bentuk lain, termasuk diadakannya pameran peninggalan suci Nabi Muhammad SAW, kuliah umum di sekolah dan universitas, juga lomba buku dan lomba esai tentang biografi Nabi Muhammad SAW. Pusat Studi Nusantara di Dagestan, menyelenggarakan pameran karya seni dan kaligrafi mahasiswa di Univerisitas Humanitarian dan Pedagogical, yang didedikasikan untuk kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan hasil penjualan karya seni tersebut akan disumbangkan kepada anak yatim.

Pameran Maulid Nabi, lukisan mahasiswa Fakultas Desain Universitas Pedagogi Kemanusiaan.

Peringatan Maulid Nabi juga dikenalkan sejak kecil di Dagestan. Putra saya yang berusia empat tahun, Abubakar, menghafal puisi tentang Nabi Muhammad SAW di Kamila, taman kanak-kanaknya, dan saat di rumah ia senang menonton film “Muhammad - utusan Allah” bersama orang tua saya dan semua saudara laki-laki dan perempuannya.

Abubakr (kanan) bersiap untuk mengikuti acara Maulid Nabi di di TK Kamila.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, kekuatan, dan taufik untuk mencintai dan menghormati Nabi kita Muhammad SAW dan mengikutinya ajarannya sehingga kita dikehendaki dan diridhoi oleh Yang Maha Kuasa.

Makam Sukarno bin Musa (1962—2003) di Dagestan.

Ibrahim Abdulaev adalah direktur di Pusat Studi Nusantara dan dosen Universitas Pedagogi Kemanusiaan di Dagestan.

Di Dagestan, ada sebuah pekuburan yang sering disebut sebagai Makam 40 Sahabat Rasulullah atau Kyrkhlyar. Apakah sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. benar-benar dimakamkan di sana?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
Baca selanjutnya

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki