Mengapa Tak Ada Privasi di Rusia?

Legion Media
“Kapan kalian punya momongan?”, “Berat badanmu naik, ya?”, “Jangan terlalu sensitif!”. Pertanyaan dan komentar semacam itu mungkin kerap Anda dengar sehari-hari, begitu pula di Rusia. Dalam hal ini, karakter orang Indonesia dan orang Rusia rupanya cukup mirip. Di Rusia, seseorang sering kali harus menghadapi serentetan pertanyaan pribadi saban hari. Apakah ini semacam karakteristik budaya atau sekadar kurangnya sopan santun?

Seperti di Indonesia, antrean di Rusia biasanya sangat rapat. Saking rapatnya, Anda bahkan bisa merasakan embusan napas orang di belakang Anda — tak ada yang peduli dengan aturan menjaga jarak. Selagi mengantre di kasa, misalnya, Anda sesekali mungkin merasakan tas atau keranjang belanja orang lain menyenggol lengan atau bagian belakang tubuh Anda. Situasi di rumah pun kadang tak lebih baik. Banyak orang merasa tertekan di antara keluarga mereka sendiri karena orang tua atau kerabat mereka membanjiri mereka dengan pertanyaan seperti “Kapan kamu menikah?” atau “Kapan kamu punya momongan?”. Tak jarang, orang tua kadang berusaha mengatur segala aspek dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka yang sudah dewasa, mulai dari pilihan profesi, pasangan, hingga kerapian rumah atau gaya hidup mereka. Situasi semacam ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Rusia.

Lahir di Uni Soviet

Ada sebuah lelucon terkenal di Rusia: “Mengapa Anda tak bisa berhubungan seks di Lapangan Merah? Karena Anda akan dibanjiri nasihat”. Satu warisan “Negeri Soviet” adalah nasihat yang tak diminta (dalam bahasa Rusia, soviet berarti ‘dewan lokal, daerah, atau nasional’, tetapi juga bisa berarti ‘nasihat’), sementara sosialisme mewariskan sikap penasaran dan kebiasaan ikut campur dalam segala urusan orang lain..

Novel dan film “Sobachye serdtse” menggambarkan secara persih bagaimana kelas bawah menjadi penguasa.

“Selama masa Soviet, budaya sebagian besar penduduk. yaitu kaum buruh dan petani, menjadi dominan. Karena itulah, perilaku khas kelas-kelas ini menjadi norma,” jelas Natalya Tikhonova, seorang kepala peneliti di Pusat Studi Stratifikasi di Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE). “Bagi mereka, penghasilan seseorang atau hubungan intrakeluarga bukanlah hal yang tabu.”

Fenomena apartemen komunal Soviet benar-benar merampas peluang tiap individu untuk menjauh dari individu lain dan menjaga kehidupan pribadinya tetap privat. Setelah Revolusi, apartemen dan rumah mewah aristokrat “dipadatkan”. Setiap kamar memiliki penyewa yang berbeda atau bahkan seluruh keluarga yang tinggal di dalamnya. Itu adalah bagian dari perjuangan melawan ketidakadilan sosial. Meski begitu, kamar mandi, toilet, dan dapur tak boleh “dikuasai” oleh individu atau keluarga tertentu, tetapi harus dibagi antara sesama penyewa.

Dapur umum di apartemen komunal Soviet.

Oleh karena itu, ketika pada 1950-an pemerintah mulai mengalokasikan akomodasi perorangan kepada keluarga secara massal, semua orang gembira karena akhirnya mereka memiliki flat yang terpisah sekalipun kecil dan sederhana.

Selain itu, Uni Soviet menerapkan sistem pengawasan warga. Seseorang yang tidak setia atau peminum berat, laki-laki ataupun perempuan, dapat dipanggil ke “pengadilan kamerad” di tempat kerja atau dikeluarkan dari Partai Komunis. Siapa pun yang tidak berprestasi, baik di sekolah maupun universitas, bisa jadi harus menjalani pengawasan wajib oleh siswa terbaik.

Karena bertahun-bertahun “terbiasa” ikut campur dalam kehidupan pribadi orang, yang bisa dibilang hampir tak ada, tidak ada konsep privasi di Rusia. Alhasil, keadaan ini masih bertahan sampai sekarang.

Tidak ada kata privasi dalam bahasa Rusia

“Saya tidak akan merindukan orang-orang yang mengembuskan napasnya di leher Anda saat mengantre di apotek dan menanyakan mengapa Anda memilih obat yang begitu mahal (tidak ada kata privasi dalam bahasa Rusia),” tulis jurnalis Amerika Julia Ioffe ketika dia kembali ke AS setelah beberapa tahun bekerja di Rusia.

Penumpang metro Moskow

Kamus bahasa Inggris mendefinisikan kata privacy sebagai ‘sendirian dan tidak terganggu: hak atas kebebasan dari gangguan atau perhatian publik’. Dengan kata lain, hak untuk menghindari perhatian yang mengganggu dari orang lain. Menurut ahli bahasa, kata tersebut sebenarnya tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Rusia (dalam bahasa Indonesia, kata privasi pun merupakan serapan dari bahasa Inggris). Tergantung pada konteksnya, kata privacy dapat diterjemahkan dengan bantuan kata-kata seperti privat, pribadi, atau rahasia. Namun, kata-kata tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan nuansa maknanya secara keseluruhan.

Ahli bahasa Tatiana Larina mengusulkan gagasan avtonomiya lichnosti ‘otonomi individu’ sebagai padanan kata privacy. Dalam bahasa Inggris, hak untuk menyendiri merupakan fenomena budaya yang penting. Tak heran, penutur jati bahasa Inggris bahkan mengenal pepatah “rumahku adalah istanaku”. Namun dalam budaya Rusia, gagasan ini tidak tersebar luas. Gagasan tentang kehidupan pribadi yang tidak dapat diganggu gugat di Rusia sering kali hanya diketahui oleh pengacara.

Tidak menghormati ruang pribadi

Seperti di Indonesia, banyak orang di Rusia tak mematuhi aturan menjaga jarak selama pandemi. Orang-orang sering kali terlihat berdesak-desakan dalam antrean, baik anak muda maupun orang tua, semuanya berkerumun sampai hampir bersentuhan satu sama lain.

Garis untuk mendapatkan sepatu bot

“Belum lama ini, saya bahkan meminta seorang perempuan untuk menjaga jarak, tetapi dia malah memarahi saya,” kata Elena, seorang akuntan dari Moskow. “Banyak orang berpikir — tampaknya ini warisan zaman Soviet — bahwa jika Anda berdiri lebih dari satu meter di belakang orang di depan Anda, seseorang pasti akan masuk dan mencuri tempat Anda dalam antrean. Itu sama seperti Anda mengemudikan kendaraan di jalan raya.”

Cobaan lain yang harus “dimaklumi” orang-orang yang sensitif terhadap privasi kerap terjadi di transportasi umum. Dalam sistem angkutan umum mana pun di dunia, selama jam sibuk, orang-orang akan berkerumun dan berdesakan sehingga semuanya merasakan hal yang sama (terkurung).

Di dalam kereta pinggir kota

Bagaimanapun, bahkan dalam situasi yang kurang nyaman sekali pun, orang-orang diharapkan dapat mematuhi norma-norma kesopanan tertentu. “Saya pernah duduk di Metro dan seorang perempuan yang berdiri di depan saya terus menyikat tasnya yang besar dan tidak terlalu bersih (sehingga kotoran yang menempel padanya rontok -red.). Saya memintanya untuk berhati-hati membersihkan tasnya, tetapi dia malah mengomel karena dia tidak punya tempat untuk meletakkan tasnya, dan jika saya tidak suka di sini saya harus mengendarai mobil sendiri dan, waktu itu, saya bukan satu-satunya orang di sana,” kata Alexandra, seorang pensiunan dari Moskow.

Kejutan bagi orang asing

Sementara orang Rusia pada umumnya terbiasa melanggar batas pribadi mereka, orang asing di Rusia terkadang benar-benar terkejut dengan perilaku yang mereka anggap tidak etis. Lucia dari Italia tinggal di Rusia selama beberapa tahun dan mengalami hal seperti itu lebih dari sekali. Perempuan yang bertugas memantau lantai tempat tinggal di Universitas Negeri Rusia untuk Kemanusiaan, kampusnya dahulu saat menjadi mahasiswa, memasuki kamarnya begitu saja tanpa mengetuk, sementara ia masih terbungkus handuk atau mengenakan pakaian tidurnya, dan si petugas sama sekali tak merasa menyesal. “Teman-teman saya bilang bahwa semasa Soviet tidak ada konsep privasi seperti yang kita pahami saat ini, dan perilakunya semata-mata merupakan bagian dari mentalitas itu,” kata Lucia.

Mahasiswa asing di asrama RUDN, Rusia.

Erwann dari Prancis telah tinggal di berbagai kota di Rusia dan mengalami sendiri “kekhasan budaya” yang sama antara orang Rusia yang sering kali ia temukan sehingga dia tak lagi heran. Pengalaman paling berkasan terjadi sewaktu ia berada di Nizhny Novgorod. Waktu itu, Erwann tengah menjalani studi sebagai seorang mahasiswa selama setahun penuh dan menyewa sebuah flat di dekat kampus. Sejak awal, penyewa flatnya memperlakukan dirinya bagai anak sendiri sepanjang hari. Menurut Erwann, di Prancis, orang-orang setidaknya akan mengabari terlebih dahulu sebelum mereka mampir dan biasanya mengatur pertemuan pada waktu yang tepat.

Tak hanya itu, orang asing kerap harus bersabar dalam meladeni pertanyaan-pertanyaan pribadi dari orang-orang yang bahkan kurang akrab sekali pun. “Saya tidak tahu berapa kali saya ditanya ‘Apakah kamu sudah menikah?’ dalam satu menit setelah bertemu seseorang,” kata Erwann sambil tertawa. Lucia mengatakan bahwa dia awalnya kesal dengan pertanyaan yang terlalu personal dari orang-orang yang tidak dia kenal dengan baik, seperti berapa gajinya, apakah dia berencana menikah dan memiliki anak, dan sebagainya. Namun, lama-kelamaan dia terbiasa dan tak lagi terkejut atau malu.

“Orang Rusia tidak memiliki konsep atau pemahaman tentang ‘batasan’. Di sini, orang asing bisa mengajukan pertanyaan pribadi dan menawarkan nasihat kepada Anda (yang tidak pernah diminta untuk diberikan) secara tiba-tiba. Ketika saya pergi ke dokter di Rusia, dokter akan bertanya apakah saya punya anak dan ketika saya bilang tidak, ia akan bertanya mengapa tidak,” kata Maria, orang Rusia yang dibesarkan di Amerika dan telah tinggal di sejumlah negara berbeda. Bagaimanapun, dia berharap orang-orang tidak menafsirkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebagai sifat negatif atau sebagai kurangnya sopan santun. “Saya tidak merasa (pertanyaan-pertanyaan) itu harus ditanggapi secara negatif. Orang Rusia benar-benar ingin tahu, terbuka, dan suka membantu sehingga banyak dari mereka tidak secara sadar mencoba untuk memasuki area privasi Anda, terlalu usil, atau membuat Anda tidak nyaman. Bisa dibilang, itu hanya karakter bangsa. Jadi, saya telah belajar untuk berdamai dengannya dan tidak merasa terganggu.”

Tren privasi

Namun, pada sebagian kecil masyarakat, selalu ada privasi. Sebelum Revolusi 1917, privasi adalah hak istimewa kaum bangsawan, sementara semasa Soviet, privasi dipraktikkan di antara kaum terpelajar. Bagi mereka, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pantas untuk ditanyakan dan ada konsep tentang ruang pribadi.

“(Akhir-akhir ini) psikoterapis sering didatangi oleh orang-orang yang mengalami masalah yang berkaitan dengan pemisahan dari, dan penciptaan batasan dengan, orang-orang yang mereka cintai,” kata psikolog Galina Laysheva dari layanan YouTalk. “Banyak orang merasa bahwa orang tua mereka terlalu mengontrol atau terus menyibukkan mereka secara psikologis bahkan ketika mereka telah pindah dari rumah orang tua.”

Selain itu, menurut psikolog, gagasan untuk mengatasi perasaan dan mengembangkan kecerdasan emosional Anda secara umum kini kian populer dan bahkan mengetren.

Orang Rusia tidak tertarik untuk berbicara dengan orang asing, kecuali jika Anda bertemu dengan mereka di bar atau kereta. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki