Rupa Katedral St. Basil Seabad Lalu dan Kini (FOTO)

Press photo/Museum Sejarah Negara
Bangunan yang paling dikenal di Rusia ini telah berusia lebih dari empat abad. Sejak dibuka pada 12 Juli 1561, markah tanah ibu kota Rusia ini telah mengalami beberapa kali perombakan. Lihatlah perbandingan rupanya pada 1920-an dan kini.

Katedral St. Basil dibangun selama periode 1555-1561, dan pada tahun ini, usianya genap 460 tahun. Gereja ini dibangun atas perintah Ivan yang Mengerikan, untuk memperingati penaklukannya atas Kekhanan Kazan dan pencaplokan wilayah itu ke Ketsaran Rusia. Pembangunannya dilakukan sehari setelah hari raya penting Ortodoks — Syafaat Theotokos yang Mahakudus. Jadi, pembangunan gereja ini didedikasikan untuk perayaan tersebut.

Meskipun dikenal di seluruh dunia dengan nama Katedral St. Basil, nama resminya adalah Katedral Syafaat Theotokos yang Mahakudus, atau Prokovsky sobor (Katedral Syafaat) dalam bahasa Rusia.

Sebuah kapel samping yang dedikasikan untuk orang bodoh suci, St. Basil yang Diberkati, ditambahkan kemudian. Karena kapel itu adalah satu-satunya bagian gereja yang dilengkapi pemanas, kebaktian pun dilangsungkan di sana hampir setiap hari sehingga nama itu mulai merujuk ke seluruh katedral.

Jika semua kapel samping dan gereja utama (Gereja Syafaat Theotokos yang Mahakudus yang asli) dijumlahkan, secara total terdapat sebelas gereja independen, yang masing-masing dilengkapi dengan inonostasisnya (dinding ikon dan lukisan keagamaan) sendiri. Jumlah kubahnya juga ada sebelas sepuluh di atas kapel samping dan satu lagi di atas menara lonceng.

Seperti yang diketahui secara umum, arsitek dari katedral ini adalah Ivan Barma dan Postnik Yakovlev. Menurut legenda, setelah gereja itu selesai, mata kedua arsitek dibuat buta atas perintah Ivan yang Mengerikan, agar tidak bisa membangun sesuatu yang lebih indah.

Pada abad ke-17 hingga ke-18, katedral ini beberapa kali hangus dilalap api sehingga berulang kali menjalani renovasi. Bangunan itu direkonstruksi dan ditambahkan parvis (halaman yang menghadap ke pintu masuk gereja), serambi, dan juga kapel samping lainnya. Atap katedral juga diubah beginilah ukiran tua menggambarkan katedral ketika memiliki kubah berpinggul tinggi yang mencolok (yang telah hilang).

Ajaibnya, katedral ini selamat pada masa-masa antiagama Soviet, meskipun sempat ada rencana untuk menghancurkannya. Untungnya, para arsitek dan sejarawan terkemuka di negara itu memperjuangkan pelestariannya sehingga diubah menjadi museum sejarah dan arsitektur. 

Agar pengunjung tidak merasa tergerak secara spiritual, seluruh pameran mengingatkan mereka bahwa agama itu jahat. Pintunya bahkan dihiasi nukilan dari Karl Marx: "Penghapusan agama sebagai ilusi kebahagiaan masyarakat adalah tuntutan akan kebahagian mereka yang sebenarnya."

Sebuah pameran yang didedikasikan untuk sikap komunis terhadap agama dulu ditempatkan di ruang bawah tanah katedral. Namun, kini, ikon Znamenskaya (yang menunjukkan Maria, Bunda Allah dengan tangan terentang dalam sikap berdoa) terpampang di sana salinan dari yang digunakan untuk menghias fasad gereja.

Pasa masa Soviet, bagunan ini dipugar dengan baik dan bahkan direncanakan untuk mengembalikan penampilan historisnya. Hal itu melibatkan menghilangkan lapisan cat, serta memperlihatkan elemen dekoratif batu bata dan batu putihnya. Akibatnya, banyak mural kuno yang hilang.

Kini, fungsinya sebagai tempat beribadah sudah dikembalikan, tetapi tetap menjadi cabang dari Museum Sejarah Negara. Tur berpemandu juga diselenggarakan secara teratur. Salah satu simbol utama Moskow dan Rusia ini juga merupakan Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Pameran bertajuk ‘Waktu Perubahan. Katedral St. Basil pada 1920-an hingga 1930-an’ berlangsung di Museum Sejarah Negara dari 28 Juli 2021 hingga 24 Januari 2022.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid-masjid di Rusia ternyata menjadi destinasi wisata karena sejarah dan keunikan desainnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki