Bahasa Slavonik Kuno: Cikal Bakal Bahasa Rusia atau Sekadar Bahasa Literatur Gereja?

Discover Russia
SVETOSLAVA TSVETKOVA
Apakah bahasa Slavonik Kuno nenek moyang bahasa Rusia? Dari mana asalnya dan siapa saja penuturnya? Kami menyanggah segala mitos tentang bahasa Slavonik Kuno yang mungkin pernah Anda dengar atau temukan di internet.

Orang-orang, khususnya warganet, sering kali membahas kerumitan dan seluk-beluk bahasa Rusia. Tak jarang, diskusi berubah menjadi perdebatan sengit ketika membahas sejarah atau asal-usul bahasa tersebut. Padahal, tidak semua orang memiliki latar belakang pendidikan yang relevan atau ingat betul apa yang pernah diajarkan dalam pelajaran Bahasa Rusia di sekolah. Tak heran, banyak mitos dan kesalahpahaman, baik dari segi konsep maupun istilah, yang tersebar luas, khususnya, di internet.

Kebanyakan orang yang pernah mendengar bahasa Slavonik Kuno berasumsi bahwa bahasa itu merupakan nenek moyang bahasa Rusia. Namun, ada juga yang percaya bahwa bahasa Slavonik Kuno adalah bahasa kesusastraan gereja yang digunakan dalam kebaktian hingga kini. Supaya tak ada lagi kesimpangsiuran informasi, mari kita cari tahu hubungan antara bahasa Rusia dan bahasa Slavonik Kuno.

Mitos #1: Dahulu, orang-orang Slavia berbicara bahasa Slavonik Kuno

Nenek moyang bangsa Slavia dipercaya tiba di Eropa — kemungkinan dari Asia — pada abad ke-2 SM. Teori ini dikonfirmasi oleh analisis komparatif bahasa-bahasa Slavia modern dan bahasa-bahasa Proto-Indo-Eropa, (rekonstruksi bahasa nenek moyang bersama rumpun bahasa Indo-Eropa, rumpun bahasa yang paling banyak dituturkan di dunia, yang terdiri dari bahasa Slavia, Roman, Jermanik, Iranik, Yunani, dan sejumlah bahasa lainnya.

Dahulu, ketika belum mengenal sistem tulis, suku-suku bangsa Slavia berkomunikasi dengan bahasa Slavia Purba yang dikenal luas oleh semua orang Slavia pada zaman itu. Karena tak ada peninggalan manuskrip yang tersisa (atau ditemukan), bahasa Slavia Purba diyakini tak memiliki sistem aksara. Karena itu, tak ada seorang pun yang dapat menjelaskan dengan pasti seperti apa karakteristik bahasa Slavia Purba (bagaimana bunyinya, apakah ia memiliki bentuk dialek, apa saja kosakatanya, dll.) karena segala informasi yang tersedia tentang bahasa tersebut diperoleh dari para ahli bahasa melalui rekonstruksi berbasis komparasi antara bahasa-bahasa Slavia yang digunakan saat ini dan bahasa-bahasa Indo-Eropa lainnya atau dari kesaksian penulis-penulis abad pertengahan awal yang meninggalkan catatan tentang kehidupan dan bahasa orang-orang Slavia dalam bahasa Latin, Yunani, dan Gotik.

Pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi, masyarakat dan bahasa Slavia Purba terbagi ke dalam tiga kelompok dialek: Slavia Timur, Slavia Barat, dan Slavia Selatan. Seiring waktu, bahasa Slavia modern berkembang dari ketiga kelompok ini dengan ciri leksikal, morfologis, fonetis, dan tata bahasa masing-masing.

Jadi, orang-orang Slavia kuno pada Zaman Nirleka (zaman ketiadaan tulisan) tidak berbicara bahasa Slavonik Kuno, tetapi bahasa Slavia Purba dengan dialek tertentu.

Lantas, dari mana bahasa Slavonik Kuno berasal?

Orang-orang Slavia kuno adalah penyembah berhala. Namun, akibat pengaruh sejarah dan politik, orang-orang Slavia kuno, terutama Slavia Selatan dan Barat (karena kedekatan geografis dan pengaruh kuat dari Kekaisaran Bizantium dan kerajaan-kerajaan suku bangsa Jermanik), perlahan-lahan mulai memeluk Kristen pada abad ke-7. Bagaimanapun, proses ini berlangsung selama beberapa abad.

Lama-kelamaan, muncul kebutuhan akan alfabet dan bahasa tulis untuk, pertama-tama, penyebaran teks-teks keagamaan dan dokumen-dokumen kenegaraan (deklarasi satu keyakinan, yang menyatukan suku-suku pagan yang sebelumnya tercerai-berai dan menyempurnakan proses pendirian negara, seperti Rus Kiev, oleh beberapa suku bangsa Slavia).

Untuk mengatasi masalah ini, ada dua hal yang perlu dilakukan:

Kelahiran aksara Slavia

Tugas tersebut jatuh pada Sirilus dan Metodius, dua bersaudara misionaris dan teolog Kristen Bizantium. Kakak-beradik itu berasal dari Kota Thessaloniki yang terletak tak jauh dari perbatasan Kekaisaran Bizantium dan tanah orang-orang Slavia. Dialek Slavia tersebar luas di kota itu dan sekitarnya dan, menurut dokumen sejarah, baik Sirilus maupun Metodius sama-sama menguasai dialek tersebut dengan fasih.

Kedua bersaudara itu adalah keturunan bangsawan dan sangat terpelajar. Di antara guru-guru sang adik, Sirilus (terlahir dengan nama Konstantinus), adalah Patriark Photios I (kala itu belum menjadi patriark, pemimpin tertinggi Gereja Kristen Ortodoks) dan Leo sang Matematikawan, yang kelak, ketika mengajar filsafat di Universitas Konstantinopel, dikenal sebagai sang Filsuf.

Sementara itu, sang kakak, Metodius, bertugas sebagai komandan militer di salah satu daerah yang dihuni oleh orang-orang Slavia. Karena itulah, ia sangat mengenal cara hidup mereka. Metodius kemudian menjadi kepala biara Polychron, diikuti Konstantinus dan murid-muridnya.

Bersama Sirilus dan Metodius, lingkaran orang-orang yang terbentuk di Polychron mulai mengembangkan aksara Slavia dan menerjemahkan buku-buku liturgi (tata cara kebaktian) berbahasa Yunani ke dalam dialek Slavia.

Sirilus dipercaya terinspirasi untuk mengembangkan aksara Slavia setelah perjalanan yang ia lakukan pada tahun 850-an sebagai misionaris. Kala itu, ia membaptis para penduduk yang tinggal di dekat Sungai Bregalnica. Di sana, dia menyadari bahwa, meski telah memeluk Kristen, orang-orang itu tidak akan bisa mematuhi perintah Tuhan karena mereka tidak dapat membaca buku-buku gereja.

Alfabet Glagol

Aksara Slavia pertama adalah alfabet Glagol atau Glagolitsa (dari kata глаголить [glagolit] ‘berbicara’). Saat menciptakan aksara tersebut, Sirilus tahu bahwa huruf Latin dan huruf Yunani tak dapat melambangkan bunyi-bunyi ujaran dalam bahasa Slavia secara akurat. Ada sejumlah teori yang menjelaskan asal-usul alfabet Glagol. Beberapa peneliti berpendapat bahwa alfabet Glagol dibuat berdasarkan alfabet Yunani yang diubah, sementara yang lain mengatakan bahwa bentuk huruf pada abjad tersebut menyerupai aksara Gereja Georgia atau Khutsuri, yang — menurut dugaan — kemungkinan bukan sesuatu yang asing bagi Sirilus. Ada juga teori lain, yang belum bisa dikonfirmasi sepenuhnya, bahwa alfabet Glagol dibuat berdasarkan aksara kuno tertentu yang digunakan orang-orang Slavia semasa pra-Kristen.

Penyebaran alfabet Glagol memang tak merata, baik dari segi geografi maupun lama penggunaannya. Alfabet itu akhirnya hanya digunakan secara luas dan lama di wilayah Kroasia saat ini: di daerah Istria, Dalmatia, Kvarner, dan Međimurje. Naskah Glagol paling terkenal adalah Prasasti Baska dari abad ke-12 yang ditemukan di Kota Baška, Pulau Krk.

Yang menarik, di antara banyak pulau di Kroasia, aksara Glagol masih digunakan hingga awal abad ke-20, sementara penduduk Kota Senj menggunakannya hingga awal Perang Dunia II. Konon, di beberapa bagian pesisir Laut Adriatik, Anda dapat menjumpai orang-orang tua, para sesepuh, yang masih mengetahui aksara kuno itu.

Yang jelas, Kroasia amat bangga dengan fakta sejarah ini. Negara itu bahkan memasukkan aksara Slavia kuno dalam jajaran pusaka nasional. Pada 1976, Kroasia membangun Aleja Glagoljaša ‘Gang Glagol’ di wilayah Istrian. Terbentang sepanjang enam kilometer, jalan itu dipenuhi monumen-monumen penanda tonggak sejarah perkembangan aksara Glagol.

Sementara di Rusia, aksara Glagol tidak pernah digunakan secara luas (kaum cendekiawan hanya menemukan segelintir prasasti yang ditulis menggunakan aksara itu). Meski demikian, jagat maya Rusia memiliki sejumlah konverter dari huruf Kiril ke huruf Glagol. Misalnya, ungkapan “Glagol adalah alfabet pertama orang Slavia” akan terlihat seperti ini:

Ⰳⰾⰰⰳⱁⰾⰻⱌⰰ - ⱂⰵⱃⰲⰰⱔ ⰰⰸⰱⱆⰽⰰ ⱄⰾⰰⰲⱔⱀ

Apakah huruf Kiril aksara kedua?

Meskipun ada kemiripan nama, Sirilus bukanlah pencipta alfabet Kiril yang kami gunakan hingga kini.

Sebagian besar akademisi percaya bahwa alfabet Kiril dikembangkan setelah kematian Sirilus oleh murid-muridnya, khususnya Kliment dari Ohrid.

Meski begitu, masih belum diketahui secara pasti mengapa huruf Kiril menggantikan alfabet Glagol. Beberapa orang percaya bahwa perubahan itu terjadi lantaran huruf-huruf Glagol terlalu rumit untuk ditulis, sementara yang lain menyebutkan bahwa penggunaan alfabet Kiril bermuatan politis. Sebetulnya, pada akhir abad ke-9, pusat-pusat penulisan utama Slavia pindah ke Bulgaria. Di sanalah murid-murid Sirilus dan Metodius, yang diusir oleh pendeta Jerman dari Moravia, menetap. Tsar Simeon I dari Bulgaria berpendapat, aksara Slavia — alfabet Kiril diciptakan semasa pemerintahannya — harus semirip mungkin dengan aksara Yunani.

Mitos #2: Bahasa Slavia Kuno adalah pendahulu bahasa Rusia

Bahasa Slavonik Kuno yang diciptakan dan dicatat oleh Sirilus dan Metodius dalam terjemahan buku-buku penduduk Thessaloniki dibuat berdasarkan dialek Slavia Selatan. Kala itu, bahasa Rusia sudah ada meskipun, tentu saja, tidak dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Bahasa Rusia pada masa itu merupakan bahasa orang-orang Rus (suku bangsa Slavia Timur, nenek moyang orang Rusia, Ukraina, dan Belarus) yang, sebetulnya, mewakili kumpulan dialek bahasa Rusia Kuno. Pada saat yang sama, bahasa tersebut sama sekali bukan bahasa kesusastraan, melainkan bahasa yang berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari, berbeda dengan bahasa Slavonik Kuno.

Ketika bahasa Slavonik Kuno mulai digunakan dalam kebaktian dan buku-buku gereja, orang-orang Rus mulai menuangkan bahasa lisan mereka dalam aksara Kiril — itulah yang mengawali sejarah bahasa Rusia Kuno (lihatlah, misalnya, koleksi manuskrip kulit kayu pohon birch Novgorod yang dipelajari Andrei Zaliznyak, seorang akademisi, selama puluhan tahun). Jadi, orang-orang terpelajar yang tinggal di Novgorod, Pskov, Kiev, atau Polotsk kuno dapat membaca dan menulis aksara Kiril dalam dua bahasa yang terkait erat, bahasa Slavonik Kuno Selatan dan dialek bahasa asli Slavia Timur.

Mitos #3: Kebaktian di gereja-gereja Ortodoks saat ini menggunakan bahasa Slavonik Kuno

Pada zaman dahulu, iya. Lagi pula, bahasa Slavonik Kuno diciptakan supaya orang-orang Slavia dapat mendengarkan liturgi dalam bahasa yang mereka pahami. Namun, seiring waktu, bahasa dalam buku-buku gereja mengalami modifikasi. Lama-kelamaan, bahasa tersebut menyerap karakteristik fonetis, ejaan, dan morfologis dialek lisan setempat karena pengaruh faktor penerjemah dan pembuat salinan. Akibatnya, muncullah sejumlah versi (varian lokal) bahasa Slavonik Kuno yang sebenarnya merupakan turunan langsung bahasa kesusastraan tersebut. Ahli-ahli kajian Slavia percaya bahwa bahasa Slavonik Kuno punah antara akhir abad ke-10 hingga awal abad ke-11, sementara kebaktian di gereja-gereja Ortodoks mulai abad ke-11 telah dilakukan dalam bahasa Slavonik Gerejawi Kuno versi lokal.

Saat ini, varian lokal yang paling umum adalah apa yang disebut versi Sinode (Moskow Baru) bahasa Slavonik Gerejawi Kuno. Bahasa ini tercipta setelah reformasi gereja oleh Patriark Nikon pada pertengahan abad ke-17 dan terus menjadi bahasa resmi Gereja Ortodoks Rusia dan digunakan pula oleh Gereja Ortodoks Bulgaria dan Serbia.

Apa kesamaan bahasa Rusia modern dan bahasa Slavonik Kuno?

Bahasa Slavonik Kuno (dan “keturunannya”, bahasa Slavonik Gerejawi Kuno), yang telah menjadi bahasa dalam buku-buku agama dan ibadat selama lebih dari satu milenium, membawa pengaruh dialek Slavia Selatan yang amat kuat terhadap bahasa Rusia.

Banyak kata yang berakar dari bahasa Slavonik Kuno telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kosakata bahasa Rusia modern. Saking banyaknya, penutur bahasa Rusia biasa mengira bahwa kata-kata itu merupakan kata-kata asli dalam bahasa Rusia. Tanpa mempelajari seluk beluk linguistik, kata-kata sederhana, seperti сладкий (sladkiy ‘manis’), одежда (odezhda ‘pakaian’), среда (sreda ‘Rabu’), праздник (pradznik ‘liburan’), страна (strana ‘negara’), помощь (pomoshch ‘bantuan’), единый (ediniy ‘tunggal’), sebetulnya berakar dari bahasa Slavonik Kuno.

Selain itu, bahasa Slavonik Kuno juga memengaruhi pembentukan kata dalam bahasa Rusia. Misalnya, semua kata dengan prefiks пре- (pre-) atau bentuk partisipel (kata yang berasal dari verba yang digunakan sebagai adjektiva) dengan sufiks -ущ (-ushch)/-ющ (-yushch), -ащ (-ashch)/-ящ (-yashch) memiliki unsur Slavonik Kuno.

Selanjutnya, kita mungkin jarang memikirkan pertanyaan semacam ini, tetapi dari mana nama Rusia berasal?