Sepanjang 2020, Tingkat Kemacetan Moskow Terparah Sedunia

Kemacetan di pusat Kota Moskow.

Kemacetan di pusat Kota Moskow.

Igor Ivanko/Moskva Agency
Kota Moskow menempati urutan pertama di antara 416 kota di dunia dalam peringkatan kemacetan tahunan TomTom. Padahal, Moskow sebelumnya tak pernah berada di atas urutan kelima atau keenam.

Perusahaan telekomunikasi Belanda TomTom merilis Indeks Lalu Lintas tahunan yang mengukur tingkat kemacetan di kota-kota sedunia, lapor portal berita ekonomi dan bisnis Kommersant. Pada akhir 2020, aglomerasi Moskow (Moskow dan Moskovskaya oblast) menempati urutan pertama di antara 416 kota di 57 negara di dunia. Sebelumnya, pada 2017—2019, ibu kota Rusia bahkan tak berada di atas urutan kelima atau keenam. Mumbai, Bogota, Manila, dan Istanbul “mengungguli” Moskow pada posisi teratas.

TomTom memperkirakan beban lalu lintas tahunan rata-rata di Moskovskaya oblast sebesar 54 persen (terendah pada April — delapan persen, tertinggi pada Desember — 74 persen).

Angka ini menunjukkan lama perjalanan selama kemacetan lalu lintas dibandingkan dengan kota yang kosong. Data diambil dari perangkat navigasi yang dipasang pada dasbor mobil atau smartphone lebih dari 600 juta pengemudi di seluruh dunia yang berpartisipasi dalam pengumpulan data. Pada 2020, kemacetan lalu lintas terbesar di Moskow, menurut TomTom, terjadi pada 25 Desember (ada hujan salju lebat hari itu, Yandex memperkirakan kemacetan di sembilan titik). Sebagai perbandingan, pada 2019, kemacetan terbesar terjadi pada 7 Maret (hari terakhir bekerja sebelum 8 Maret, Hari Perempuan Internasional, hari libur nasional di Rusia), pada 2018 — 24 Desember, dan pada 2017 — 25 Januari.

Kemacetan di pusat Kota Moskow.

Meski begitu, Departemen Transportasi Moskow menafsirkan laporan tersebut secara berbeda. Mereka menilai “prestasi” tersebut justru menunjukkan bahwa Moskow pulih lebih cepat dibandingkan ibu kota lain (pulih dari pandemi, sementara mobilitas di kota-kota lain masih dibatasi).

Berdasarkan data TomTom, jumlah mobil di Kota Moskow sepanjang 2020 meningkat empat persen (bertambah 155 ribu mobil baru), sedangkan jumlah kemacetan menurun (pada 2019, TomTom memperkirakan kemacetan lalu lintas di Kota Moskow meningkat lima persen pada tahun berikutnya).

“Tingkat arus lalu lintas di Moskow pulih dengan cepat karena kota ini adalah pusat administrasi dan keuangan negara. Kota ini harus mempertahankan kehidupan dan aktivitas produksinya,” jelas Ralf-Peter Schäfer, Wakil Direktur TomTom untuk Masalah Lalu Lintas. “Moskow adalah kota dengan tingkat kemacetan lalu lintas tetinggi, tetapi itu justru bagus,” tambah Aleksandr Shumsky, Pemimpin Probok.net. “Namun, membandingkan arus lalu lintas di kota-kota yang mengalami lockdown ‘pembatasan wilayah’ sehingga, tentu saja, tak ada kemacetan, dengan kota-kota yang menjalani kehidupan normal, akan memberikan hasil yang kontras, tetapi tidak adil.” Sementara itu, perusahaan teknologi Yandex tidak mengomentari laporan TomTom, tulis Kommersant.

Terlalu dini untuk membicarakan “pemulihan”, kata Pyotr Shkumatov, koordinator gerakan Sinie Vederki ‘Ember Biru’. Ia mengutip data Kementerian Energi Rusia yang diterbitkan pada 11 Januari. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi bensin pada 2020 turun sebesar 5,6 persen.

“Menurut TomTom, kemacetan lalu lintas di Moskow telah berkurang kira-kira pada tingkat yang sama,” kata Shkumatov. “Konsumsi bahan bakar menggambarkan aktivitas ekonomi dan penggunaan transportasi. Berdasarkan indikator ini, (konsumsi bensin) ibu kota “terpuruk” sama seperti seluruh negeri, dan belum pulih.”

Wakil Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) dan anggota Komite Transportasi Alekandr Vasiliev membandingkan Moskow dengan Berlin. Menurutnya, sebagian jalur mobil di ibu kota Jerman diberikan kepada pengendara sepeda demi mengurangi kemacetan angkutan umum selama pandemi. “Dengan demikian, kota menjadi lebih cepat beradaptasi dengan kondisi baru. Sayangnya, kami belum melihat adaptasi semacam itu di Moskow,” katanya. Padahal, menurut Vasiliev, pemerintah kota memiliki sumber daya untuk meningkatkan regulasi lalu lintas. “Misalnya, kemacetan sebelum Tahun Baru sebagian besar terjadi karena orang-orang ingin menghindari kerumunan di metro (kereta bawah tanah), mereka memilih mengendarai mobil, atau berbagi mobil. Departemen Perhubungan seharusnya dapat menerapkan kebijakan tiket gratis di metr0, merangsang masyarakat untuk menggunakan jenis transportasi lain, memikirkan alternatif lain untuk bepergian. Penyesuaian kebijakan transportasi dapat memengaruhi kemacetan kota.”

Kemacetan di pusat Kota Moskow pada malam 30 Desember 2020.

Selain Moskow, peringkat TomTom mencakup kota-kota lain di Rusia, seperti Novosibirsk (peringkat ke-9, kemacetan 45 persen), Sankt Peterburg (peringkat ke-12, 44 persen), Samara (peringkat ke-20, 41 persen), Yekaterinburg (peringkat ke-28, 36 persen), Rostov-na-Donu (peringkat ke-37, 34 persen), Chelyabinsk (peringkat ke-46, 31 persen), Omsk (peringkat ke-50, 31 persen), Nizhny Novgorod (peringkat ke-56, 30 persen), Kazan (peringkta ke-64, 29 persen) dan Tomsk (peringkat ke-70, 28 persen). Kota-kota dengan kemacetan terkecil adalah Kota Greensboro (tujuh persen) dan Akron (delapan persen) di Amerika Serikat dan Cadiz (delapan persen) di Spanyol. Sementara itu, Kota Jakarta berada pada peringkat ke-31 dengan tingkat kemacetan 36 persen.

Demi mengurangi kemacetan, Pemkot Moskow menyediakan Wi-Fi gratis dan sejumlah fasilitas lainnya supaya masyarakat menggunakan angkutan umum.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki