Seberapa Mencengangkan Kehidupan di Desa-Desa Terpencil Rusia?

Maksim Blinov/Sputnik
Tidak semua orang di negara terbesar di dunia memiliki kemewahan mengisi bahan bakar mobil dengan mudah, menonton video di YouTube atau bahkan mengunggah foto di media sosial. Untuk dapat melakukannya, seseorang harus berusaha keras walaupun terkadang semua itu sia-sia belaka.

Menunggang kuda dan menumpang traktor selama 14 jam untuk mengikuti ujian

Katya Gotovtseva lahir dan besar di desa Dygdal, Republik Sakha, yang terletak 125 kilometer dari pusat regional terdekat. Ujian negara untuk bahasa asing hanya dapat diikuti di pusat tersebut. Hal itu tentu saja sangat menyulitkan bagi orang-orang seperti Katya. Apalagi dengan datangnya musim semi, jalan-jalan hilang tersapu banjir.

Namun, hal itu tidak menghentikan langkah Katya yang berencana menempuh rutenya sendiri bersama sang ayah. Para siswa senior sekolah menengah atas harus mencapai Dygdal dari desa tetangga dengan menunggang kuda dan kemudian melanjutkan perjalanan ke desa lain dengan traktor, sebelum akhirnya beralih ke mobil.

“Kami nyaris tidak berhasil keluar dari desa ketika (kuda) Orlik saya merasakan sesuatu dan menjadi sangat ketakutan. Dia mulai berlari ke hutan, berdiri di atas kaki belakangnya dan beberapa kali mencoba melempar saya. Kemudian dia melompat begitu saja ke dalam hutan lebat dengan cabang dan semak kering. Saya hanya punya cukup waktu untuk melempar pandangan ke ayah saya sekali, berharap dia akan menyelamatkan saya dari kuda yang menggila. Namun, ayah saya bergeming dan menyembunyikan kepanikannya, karena campur tangannya hanya akan memperburuk situasi,” kenangnya. 

Wajah Katya tergores, topi bisbol merah mudanya terlepas, dan hidungnya berdarah. Namun, dia berusaha untuk tetap mencengkram erat tali kekangnya. Setelah beberapa saat, kudanya pun tenang dan tujuh jam berikutnya berlalu tanpa insiden. 

Sebuah traktor dengan kereta sudah menunggu mereka di titik pemberangkatan berikutnya. Di sana, Katya bergabung dengan siswa lain yang juga dalam perjalanan ke tempat ujian. “Kami melakukan perjalanan lagi sekitar tujuh jam. Saat itu sangat gelap dan dingin, kami mencoba untuk tidur, tetapi tidak berhasil,” kata Katya. Setelah sampai di desa berikutnya Katya dan rombongan pun bermalam di sana. Keesokan paginya, mereka pun melanjutkan perjalanan ke tempat ujian.

“Para guru yang terkejut sangat ingin mendengar ceritaku begitu aku duduk, tersipu malu di depan piring berisi kentang tumbuk dan bakso. 

Bahan bakar setahun sekali dan ancaman jadi santapan binatang buas

Di desa paling utara Rusia, Dikson, 690 penduduk hidup dalam cuaca dingin hampir sepanjang tahun. Pada musim panas, suhu naik hingga rata-rata 5,5 ℃, sementara pada musim dingin turun hingga -48 ℃. Mereka harus mengendarai mobil salju hampir sepanjang waktu dan itu bukan satu-satunya kemunduran.

Pemukiman ini dijuluki 'Ibu kota Arktik' oleh penduduk setempat, yang diambil dari lagu populer era Soviet. Tempat ini begitu terisolasi dari seluruh Rusia sehingga peluang mendapatkan bahan bakar hanya muncul sekali setahun, selama periode navigasi (ketika kapal dapat melintas). Pengiriman dilakukan dengan kapal. Tidak ada pom bensin di sini dan yang terdekat berjarak 500 kilometer. Namun, itu juga tidak dapat dijangkau karena tidak ada jalan. “Mobil pribadi sangat langka di sini. Orang kebanyakan mengendarai mobil salju dan perahu motor. Selama (musim) navigasi, kami memesan sekitar satu sampai dua ton bahan bakar. Itu cukup untuk setahun,” kata warga setempat, Aleksandr Anisimov. 

Hal yang sama juga berlaku dengan internet.  Jangankan menonton video di internet, untuk memuat dan melihat beberapa foto saja membutuhkan waktu hingga dua jam karena koneksi yang sangat lemah.

Desa ini juga terus-menerus terancam oleh binatang buas. Tugas polisi hutan menjadi tanggung jawab polisi setempat, karena tidak ada kejahatan di Dikson. “Kami punya serigala dan beruang di sini. Mereka dapat muncul tiba-tiba dari belakang rumah atau masuk ke dalam rumah, ” kata Mikhail Degtyarev. Ada peringatan di seluruh kota untuk tidak memberi makan beruang dan jangan pernah berfoto dengan mereka. 

Telepon di atap

Kusur adalah desa yang paling sulit dijangkau di Dagestan. Desa ini terletak di pegunungan tinggi dan hanya memiliki satu jalan menuju ke sana. Untuk sampai ke sana, seseorang harus berkendara tujuh jam dari ibu kota,  Makhachkala. Ujung jalan terletak di dekat desa Mukhakh, di dasar punggung bukit Kaukasus Utama. Setelahnya, perjalanan ke Kusur dilanjutkan melintasi jalur pegunungan yang berbahaya sejauh 15 kilometer.

Pada musim panas, terdapat sekitar tujuh atau delapan rumah yang dihuni. Sementara, pada musim dingin, mereka yang mampu bermigrasi akan melakukannya. Untuk sampai ke desa tetangga, Dzhinykh, seseorang harus menyusuri sungai beku dengan ski sejauh 20 kilometer.

Satu-satunya keuntungan peradaban modern yang tersedia di desa ini adalah warung telepon umum. Meski demikian, seseorang tidak dapat menggunakannya untuk menelepon, karena desa tidak menjual pulsa. Yang dapat  dilakukan hanya menerima panggilan. Penduduk desa yang mendengar dering akan mengangkat telepon dan pergi mencari orang yang diminta sang penelepon.

Konon, ponsel memang ada di desa, namun jangkauannya terbatas hanya pada radius satu rumah, di dekat puncak, dan hanya di dekat permukaan yang menghadap ke menara jaringan seluler. Telepon dipasang ke dinding menggunakan pelat logam buatan sendiri dengan pengait di tempat yang sinyalnya paling kuat dan dengan hati-hati menekan nomor tanpa melepaskan telepon dari ikatannya. Pada siang hari, terdapat antrean panjang orang yang duduk di sana menunggu giliran.

Berburu internet dan mengawasi ternak dengan rone

Sejak dimulainya pandemi virus corona, kehidupan di daerah terpencil tertentu di Rusia menyerupai permainan misi (quest). Di satu sisi, penduduk di daerah seperti itu mungkin melihat nilai dalam keterasingan mereka. Di sisi lain, anak-anak di daerah seperti itu semakin membenci pembelajaran jarak jauh. Jika sebagian besar orang Rusia merasa nyaman dengan secangkir teh dan memakai celana olahraga di dekat komputer, bagi anak-anak di sana, itu adalah sesuatu yang sedikit lebih luar biasa. 

Mahasiswa dari desa Prikamye (1200 km dari Moskow), misalnya, harus duduk di atap rumah selama berjam-jam hanya untuk tetap terhubung ke Internet.

“Saya naik atap untuk mengirim pekerjaan rumah saya dan mengunduh berkas. Saya berdiri di sana selama satu jam. Jika Anda menjedanya, Anda harus mulai mengunduh dari awal lagi,” ujar Amina Kazarinova. 

Di di desa Kulmetyevo, Bashkortostan, siswa hanya bisa mendapatkan akses internet di sebuah lokasi tertentu yang menurut penduduk setempat harus dicapai dengan mobil.

“Sebuah mobil dapat membawa empat siswa, semuanya mengerjakan pekerjaan rumah di sana. Beberapa orang menggunakan ponsel, dan yang lainnya menggunakan laptop.”

Pada saat yang sama, mereka yang menjalani gaya hidup nomaden dan melakukan perjalanan sepanjang hidup mereka melintasi medan liar — penggembala rusa dari Republik Sakha — benar-benar dapat menikmati teknologi terkini. Hari-hari ini, mereka menggunakan drone untuk mengawasi ternak rusa mereka. Dengan cara itu, jauh lebih mudah menemukan ternak yang hilang. 

“Kami menggunakan quadcopter di tempat-tempat dengan hutan yang lebat. Rusa hanya takut jika drone terbang cepat karena suaranya sangat mengganggu mereka. Ketika melayang di tempatnya, mereka baik-baik saja,” jelas penggembala Sergey Laptander. 

Kota Mirny yang dijuluki "ibu kota berlian Rusia" hanya memiliki satu daya tarik, yaitu lubang raksasa buatan manusia yang dapat dilihat dari luar angkasa. Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki