Mengapa Seniman Amerika Ngotot Ingin Membeli Jasad Lenin dari Rusia?

Jasad Lenin yang diawetkan dan disemayamkan di mausoleum, Lapangan Merah, Moskow.

Jasad Lenin yang diawetkan dan disemayamkan di mausoleum, Lapangan Merah, Moskow.

Reuters
Seniman New York David Datuna mengatakan bahwa Amerika saat ini lebih membutuhkan simbol perubahan yang lebih hidup daripada Rusia.

Salah satu seniman terlaris dan termahal dunia versi Business Insider David Natuna menyatakan kesiapannya untuk mendirikan salinan mausoleum di ibu kota Amerika Serikat (AS), Washington. Tak tanggung-tanggung, ia juga ingin memboyong jasad pemimpin revolusi 1917 Rusia Vladimir Lenin untuk disemayamkan di dalamnya dan siap menebus jasadnya, sebagaimana dilaporkan di situs web saluran tv Zvezda, Rabu (16/9).

Menurut perwakilan seni kontemporer New York itu AS saat ini lebih membutuhkan simbol perubahan yang lebih hidup daripada Rusia.

"Amerika sedang bergerak menuju komunisme dan ide-ide sosialis. Saat ini, atribut mausoleum dan Lenin lebih dibutuhkan oleh Amerika Serikat daripada Rusia. Tidak sulit untuk membangun mausoleum kedua, tetapi tidak mungkin menggantikan Lenin. Jadi, saya mengusulkan untuk membelinya dan siap mengumpulkan uang untuk itu,” ujar Datuna dalam pernyataan yang disebarkan layanan persnya.

Sang seniman menjelaskan, keinginannya membangun "karya seni" musoleum di ibu kota AS lengkap dengan jasad Lenin dipicu oleh rasa bosan warga AS atas kebijakan kapitalisme agresif dan kebutuhan akan gerakan menuju transformasi sosial yang semakin matang di tengah masyarakat.

Datuna telah menyiapkan dana sebesar $1 juta untuk menebus jasad Lenin yang telah diawetkan selama 96 tahun sejak 1924 itu. Namun, jika itu belum cukup ia berjanji untuk mengumpulkan lebih dari $1 miliar.

Bak mumi modern (tanpa perban), jasad Lenin masih terbaring di Lapangan Merah. Setiap tahun, sekitar 2,5 juta “penggemar” Lenin berziarah ke tempat peristirahatan terakhir sang pemimpin revolusi.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki