Kala Rama, Sinta, Arjuna dan Cepot "Bercengkrama" di Dinding Galeri Rusia

Dok. KBRI Moskow
Empat lukisan bertema wayang terpampang di dinding Galeri Seni "Want and Paint" Moskow, Rusia. Keempatnya "bercengkrama" dengan para penikmat seni bersama seratusan karya para seniman muda Rusia.

Goresan cat minyak bernuansa wayang dan batik khas Indonesia yang masing-masing disapukan di atas kanvas 20x30 sentimeter itu merupakan karya seniman Volodymyr Kyrychenko, seorang Indonesianis (orang asing yang memiliki ketertarikan khusus dengan Indonesia) yang pernah berkuliah S-2 dan bekerja di Jakarta selama dua tahun. Sosok yang terpampang pada lukisan adalah tokoh pewayangan Rama dan Sinta, Arjuna, Cepot, serta wayang golek, yang masing-masing diberi judul: He Loves Her, Arjuna, Whisper, dan Cepot.

Mata pengunjung tampak berbinar menyaksikan sosok Rama dan Sinta dalam balutan kostum batik elegan dengan paduan aneka warna serasi yang dipamerkan pada pameran bertema 'Cat Minyak dan Akrilik pada 24 – 29 Agustus itu. Beberapa bahkan mengungkapkan kekaguman dan ketidakpercayaannya secara terang-terangan, betapa sebuah lukisan mampu memberikan cerita tentang sejarah dan budaya sebuah negara.

Vladimir mendampingi Wakil Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia Azis Nurwahyudi melihat karyanya.

Pujian juga dilontarkan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Belarusia Azis Nurwahyudi saat berkunjung ke pameran tersebut.

"Keempat lukisan bertema wayang dan batik terlihat sangat menonjol, berkarakter, dan unik di antara semua lukisan yang dipamerkan," ujar Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Moskow itu.

Penyelenggara pameran juga terpesona dengan karya Vladimir Kiri, panggilan yang disematkan teman-teman sang seniman saat ia tinggal di Indonesia.

"Ketika menggantungkan lukisan-lukisan wayang ini di dinding, saya langsung terpesona dan penasaran ingin mengetahui cerita di balik sosok di dalam lukisan itu," jelas Anastasia Zakhorova.

Ketika pameran dibuka, Vladimir menghadirkan wayang golek Cepot, yang juga mencuri perhatian para pengunjung. Mereka mendekati lukisan Cepot, bertanya tentang Indonesia dengan penuh keingintahuan, bahkan menyentuh dan memaikan wayang golek itu.

Vladimir jatuh cinta kepada wayang sejak pandangan pertamanya dengan wayang kulit di Museum Wayang, Jakarta. Dari sana, benih-benih cinta pun terus tumbuh dan bersemi sehingga membuatnya terus menggali lebih dalam tentang sosok-sosok wayang melalui bahan-bahan bacaan serta berkomunikasi dengan orang-orang di Indonesia.

“Wayang memiliki karakteristik serta mencerminkan sejarah dan budaya Indonesia yang sangat kental dan beraneka ragam. Wayang merupakan representasi yang pas untuk mengenalkan Indonesia kepada orang asing”, ujar Vladimir.

Seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap batik pun muncul sehingga ia juga memutuskan untuk mempelajari motif-motif batik. Ia berencana untuk berkunjung ke Yogyakarta untuk mendalami wayang, serta ke Pacitan untuk mempelajari teknik pelukisan wayang beber. Menurutnya, semakin dalam ia mepelajari wayang, semakin berkembang pula kreativitasnya dalam berkarya. Dengan demikian, ia bisa lebih mempromosikan Indonesia melalui karya-karyanya yang akan datang.

Sementara itu, Azis berharap Vladimir akan terus aktif berkarya dan memperkenalkan Indonesia di Rusia melalui lukisan-lukisannya.

"Teruslah aktif berkarya dan berkreasi melalui lukisan bertema Indonesia seperti wayang dan batik ini. Sebagai generasi muda dan juga Indonesianis di Rusia, karya lukis yang unik seperti ini akan menjadi ciri khas tersendiri dari seorang Vladimir Kiri dan media yang efektif untuk semakin memperkenalkan Indonesia di Rusia melalui karya seni", ujarnya.

Tahukan Anda, alunan musik gamelan dinilai sangat selaras mengiringi peragaan busana. Lihatlah peragaan busana di Rusia ini!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki