Mengapa Orang Rusia Membeli Senjata Semasa Pandemi Corona?

Toko senjata "Tsarskaya Ohota" di Chelyabinsk.

Toko senjata "Tsarskaya Ohota" di Chelyabinsk.

Aleksandr Kondryatuk/Sputnik
Semasa pandemi virus corona (COVID-19), penjualan senjata api, amunisi, pisau dan stik bisbol di Rusia meningkat berkali-kali lipat.

Pada awal pemberlakuan swakarantina resmi di Rusia akhir Maret lalu penjualan amunisi dan stik bisbol melonjak tajam, masing-masing 130 dan 30 persen. Sedangkan pada minggu kelima swakarantina, permintaan pisau dari toko daring dengan pengiriman ke rumah meningkat drastis.

Berbagai jenis senjata dan alat pertahanan diri yang dijual di toko senjata.

Menurut Sergei Zadorozhny, Manajer toko daring Obrona 30, yang menjual berbagai peralatan perlindungan diri, penjualan pisau di tokonya meningkat sekitar 300 – 400 persen. Selain itu, orang-orang juga membeli semprotan merica dalam jumlah banyak, sekitar 20 semprotan dalam satu pesanan, dan sekalian juga memesan senapan angin. Sebelum  masa pandemi, satu kurir dapat mengantarkan semua pesanan pelanggan. Namun kini, tiga kurir yang dipekerjakan tokonya hampir tak bisa mengantarkan semua pesanan pelanggan.

Senjata Api dan Amunisi Laris Manis

Sebelum masa swakarantina dan krisis yang disebakan penurunan harga minyak dan kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rubel, harga-harga untuk senapan gentel dan senapan paling sederhana di toko senjata sipil "Novo Obninsk" di pinggiran kota Moskow dimulai dari 7500 rubel (sekitar Rp1,5 juta). Sedangkan untuk senapan Beneli Italia dibanderol hingga 400.000 rubel (sekitar Rp83,1 juta).

Penjual menunjukkan senapan semi otomatis HUGLU GX 512 di toko senjata Tiger.

"Krisis ini bertepatan dengan dimulainya musim berburu di Rusia. Penjualan senapan gentel (shotgun) aksi pompa dan berburu, serta amunisi kami benar-benar meningkat sebelum masa karantina. Penjualan yang paling utama adalah senjata laras halus (smoothbore) beserta amunisinya," ujar Artur, salah satu pemilik Novo Obninsk, kepada Russia Beyond.

Meski mengaku penjualannya meroket, dia mengatakan tokonya belum menganalisis peningkatan penjualan terhadap periode yang sama tahun lalu.

"Penjualan jelas meningkat berkali-kali lipat sebelum pemberlakuan karantina. Namun, sekarang kami sudah menutup toko dan tidak lagi mengirimkan pisau, stik bisbol atau semprotan merica. Kami juga belum menaikkan harga di situs web dan belum berencana melakukannya. Kenaikan mungkin baru akan jelas ketika karantina dicabut pada Mei mendatang. Harga saat ini masih mengikuti harga sebelumnya," jelas Artur.

Sejauh ini, di Novo Obninsk dan toko-toko saingannya, harga untuk satu boks standar berisi 20 peluru 7,62x39 mm untuk AK berkisar dari 1.200 rubel (sekitar Rp250.000), senjata laras halus dari pabrik senjata Tula mulai dari 8600 rubel (sekitar Rp1,7 juta), dan AK-12 versi sipil 69.000 rubel (sekitar Rp14,3 juta).

Meniru Barat

Suasana di salah satu toko senjata.

Menurut sumber Russia Beyond di Kementerian Pertahanan Rusia, serbuan pembelian senjata yang dilakukan orang-orang tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada masa mendatang dan kepanikan yang ditimbulkan oleh virus corona. Namun, juga merupakan dampak dari berita antrian di toko senjata api di AS, yang menunjukkan bahwa orang-orang tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan pecahnya kerusuhan karena kekurangan sumber daya dan perlindungan terhadap perampok.

"Kita meniru praktik Barat — membeli senjata dan beberapa blok tisu toilet. Tampaknya, ketika orang merasa takut, mereka siap untuk menembak dan menghabisi para perampok dan penjarah," ujar sang sumber.

Selain itu, pembelian senjata yang dilakukan orang Amerika bersifat pragmatis dan didasarkan pada pengalaman masa lalu, sebagaimana diutarakan oleh Maksim, warga Moskow pemilik senjata api, yang dulu belajar pernah di AS.

Sebagian besar kota-kota besar di AS terletak di pantai. Setiap lima tahun mereka dilanda bencana alam, seperti banjir dan badai. Setelah itu, mereka harus membangun kembali semua infrastruktur kota. Ketika pandemi dimulai, orang Amerika membeli barang-barang penting seperti makanan kaleng, tisu toilet, senjata api dan amunisi untuk perlindungan terhadap perampok, sama seperti yang mereka lalukan ketika terjadi bencana," jelas Maksim.

Dia juga pergi ke toko senjata di pinggiran Moskow tepat sebelum swakarantina diberlakukan dan membeli amunisi untuk perburuan musim semi.

Antrean di depan toko senjata di Calver City, California, Minggu 15 Maret 2020. Kekhawatiran tentang virus corona memicu kepanikan saat berbelanja bahan makanan, dan sekarang hal yang sama terjadi pada toko senjata karena kepanikan meningkat.

"Untuk satu peluru saja, saya mengantre selama sejam. Seingat saya, tidak pernah ada orang sebanyak itu selama sepuluh tahun terakhir. Mereka memborong semua senjata, termasuk senjata Turki yang biasanya sulit dijual kembali, katanya. Ia juga menjelaskan, orang-orang didepannya membeli seribu butir peluru senjata api tak mematikan, atau jumlah maksimum yang diizinkan oleh hukum Rusia untuk dibawa seseorang pada satu waktu.

Foto rak-rak toko yang kosong membanjiri jagat maya Rusia sekitar awal Maret lalu. Para warganet mengatakan bahwa hal yang tak biasa itu mereka lihat di toko-toko kelontong di Moskow dan kota-kota lain ketika epidemi corona berlanjut. Apa yang terjadi, kekurangan stok atau kepanikan Belaka?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki