Penyakit-Penyakit yang Diderita para Tsar Rusia

Kaisar Nikolay II saat memulihkan diri dari tipes di Krimea.

Kaisar Nikolay II saat memulihkan diri dari tipes di Krimea.

Domain publik
Para Tsar Rusia jatuh sakit karena dua alasan yang sama dengan rakyatnya, yaitu karena lingkungan yang tidak bersih dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Tuberkulosis (TB)

Potret Ekateriana I

Pada awal abad ke-19, tempolong (wadah untuk ludah), yang sering dijumpai dalam sastra klasik Rusia, tersebar di setiap ruangan istana. Fungsi wadah itu tidak untuk sekedar menampung ludah setelah mengunyah tembakau (yang populer saat itu). Di ruang tamu Permaisuri Maria Aleksandrovna terdapat empat tempolong. Ia tidak hanya menderita tipes, tetapi juga batuk konsumtif (istilah penyakit tuberkulosis pada masa itu). 

Di kediaman kekaisaran, batuk konsumtif adalah penyakit yang mengerikan karena pada abad ke-18 hingga ke-19 orang tidak memahami sifat bakteri penyakit dan tidak tahu bagaimana melindungi diri terhadapnya. Penyakit disebarkan oleh ludah yang tersebar di mana-mana dan orang-orang biasa dengan gejala tuberkulosis (TB) terbuka yang mengunjungi istana. 

TB adalah salah satu penyakit menular yang paling menyebar luas saat itu. Menurut Profesor Igor Zimin, pada 1822, Adipati Agung Nikolay Pavlovich, yang kelak menjadi Kaisar Nikolay I, melakukan pertemuan dengan Jenderal Vasily Provsky untuk membahas sejumlah urusan. Perovsky sempat diperiksa seorang dokter, dan dokter itu mengalami batuk darah. 

Setelah pertemuan itu, Nikolay pergi ke kamar istrinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal ketika menduduki tahta, Nikolay I dikenal sangat serius memperhatikan kesehatan orang-orang yang dicintainya. Mungkin pada masa mudanya dia belum menyadari betapa perilakunya sangat berbahaya. Pada 1831, selama epidemi kolera melanda Rusia, Nikolay yang sudah menjadi kaisar menjadi lebih berhati-hati. 

Tempolong abad ke-19 dengan tutup yang menutup secara mekanis.

Ekaterina I (1684 – 1727) meninggal karena TB pada usia 43 tahun. Selama beberapa tahun sebelum ajal menjemput, ia menderita sesak nafas, demam, dan nyeri dada. Pada April 1727, demamnya meningkat, dan pada 5 Mei, ia mulai batuk darah bercampur nanah. Keesokan malamnya, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya. 

Ia bukan satu-satunya yang meninggal karena TB, tetapi juga keluarga kekaisaran lainnya. Misalnya, saudara perempuan Kaisar Pyotr II, Natalya (1714 – 1728), dan bangsawan kekaisaran Aleksandr Meshikov (1673 – 1729). Ratu Elizaveta Alekseevna (1779 – 1826) dan permaisuri Aleksandr I (1777 – 1825), juga kehilangan nyawa akibat batuk konsumtif. 

Sejak 1830-an, keledai mulai dipelihara di Istana Nikolay I untuk mendapatkan susunya sebagai pengobatan anti-TB. Namun, pengobatan resmi untuk memerangi TB baru mulai dirancang dan diteliti pada pergantian abad ke-19 hingga ke-20. Pada 1844, putri Nikolay I, Aleksandra Nikolaevna (1825 – 1844), dan pada 1899, saudara lelaki Nilokay II, Georgy Aleksandrovich (1871 – 1899), juga meninggal karena TB. 

Demam Tifoid (Tipes)

Nikolay II saat memulihkan diri dari tipes di Krimea.

Di Ketsaran Rusia, tipes atau "demam berbintik" dialami semua lapisan masyarakat — dari orang miskin hingga kaisar. Penyakit infeksi usus yang disebabkan oleh jenis tertentu dari bakteri Salmonella ini sering singgah di kediaman kekaisaran. Hal itu terjadi karena sanitasi yang buruk. 

Sebagai contoh, pada 1868, dapur istana berhenti mengambil air dari Sungai Neva (sungai yang berlokasi di Sankt Peterburg, ibu kota negara Rusia dari 1712 – 1918). Sedangkan penggunaan filter mineral dan guci untuk air mendidih baru dipasang di Istana Musim Dingin (kediaman Kaisar Rusia) pada dekade kedua abad ke-20. Itu pun hanya digunakan untuk Keluarga Kekaisaran. Sementara, banyak pekerja, seperti pelayan, kuli angkut dan juru api tinggal dan keluar masuk istana. 

Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika istri Tsar Aleksandr II, Maria Aleksandrovna, putra mereka Aleksandr III (pada masa mudanya), dan putri bungsu mereka Xenia Aleksandrovna, semuanya terkena demam tifoid. Nikolay II mengalami sakit tipes parah pada musim gugur 1900. Saking parahnya, masalah tentang pewaris tahta pun sempat dibahas. 

Dia mengalami gangguan pencernaan pertama kali pada 22 Oktober 1900 dan segera diikuti dengan demam tinggi antara 39 – 40 derajat Celsius. Demam tinggi, sakit kepala yang parah, ditambah keracunan makanan berlanjut hingga 12 November. Dengan latar belakang itu, diskusi tentang sipa yang berhak mewarisi tahta pun dimulai di kalangan petinggi istana. Apakah Putri Tsar, Olga Nikolaevna yang baru berusia empat tahun, atau bayi yang masih di dalam kandungan Aleksandra Fyodorovna (yang kelak dikenal sebagai Adipati Agung Anastasia Nikolaevna). 

Kaisar sebenarnya tidak mendapat perawatan apa pun. Awalnya, para dokter takut untuk mendiagnosis penyakitnya untuk waktu yang lama. Setelah itu, mereka berdebat tentang obat apa yang harus diresepkan. Setelah 13 November, suhu tubuh Tsar mulai turun dan pada 30 November, untuk pertama kalinya, Nikolay menghabiskan setengah jam di balkonnya. 

"Cuaca cerah, hangat, dan tenang saat itu.... Syukurlah tipesku ringan dan aku tidak menderita sama sekali sepanjang waktu. Nafsu makanku kuat dan sekarang berat badanku terus naik setiap hari ... ," ujarnya. Nikolay pulih, tetapi enam bulan sesudahnya, sekitar Mei – Juni 1901, giliran putrinya Olga yang terjangkit tipes. 

Penyakit Kandung Kemih dan Ginjal 

Lukisan 'Pyotr yang Agung di ranjang kematiannya' karya Ivan Nikitin.

Batu kandung kemih adalah penyebab kematian Pyotr yang Agung (1672 – 1725), yang dikenal akan kecintaannya pada makanan dan minuman keras. Gangguan saluran kemih Tsar dimulai pada 1721, dan pada 1724, gangguan itu telah berkembang menjadi peradangan yang menyebabkan kematiannya pada Januari 1725, setelah minum berlebihan selama Natal. Beberapa hari sebelum ajalnya, kandung kemihnya dibuka sebagai upaya untuk meringankan penderitaanya. 

Anna Ioannovna (1693 – 1740) tidak menjalani kehidupan yang hancur dan tidak suka alkohol. Namun, suatu hari pada 1740, ia mengeluh tentang sakit parah di punggung bawahnya dan mulai batuk darah. Pada 5 Oktober, dia pingsan saat makan malam di istana dan meninggal tiga minggu kemudian. Autopsi menunjukkan, penyebab kematiannya adalah batu ginjal dan penyumbatan kandung kemih. 

Lukisan 'Aleksandr III saat berburu di Belovezhskaya Pushcha pada 1894,

Aleksandr III yang meninggal ketika berusia 49 tahun pada 1896, juga menderita nefritis (radang ginjal) pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Pada Juli 1894, pegawai negeri sipil Vasily Krivenko melihatnya pada jamuan resmi. 

"Saya dan orang-orang yang hadir dalam jamuan itu dikejutkan oleh penampilannya yang sakit-sakitan. Wajahnya kuning dan matanya terlihat lelah," kata Krivenko. 

Jenderal Nikolay Epanchin menulis pada Agustus 1894: "Dia merasa sulit untuk menyeret kakinya ketika berjalan. Matanya tampak keruh, dan kelopak matanya turun ... Ginjal Kaisar tidak berfungsi dengan baik dan para dokter percaya bahwa itu akibat gaya hidupnya yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di kursi. 

Para dokter mendiagnosis urin Tsar mengandung protein (dalam kondisi normal urin tidak mengandung protein) — gejala nefritis — dan mengatakan pada Tsar bahwa penyakit itu tidak dapat disembuhkan. Namun, Tsar tak mengindahkan vonis dokter: "Apakah itu benar-benar penting bagi Kaisar?" ujarnya. 

Tsar menolak untuk mengikuti anjuran dokter dan tetap bekerja hingga kelelahan setiap malam. Ia seolah-olah berupaya untuk menyelesaikan sebanyak mungkin hal-hal yang bisa dilakukannya. Dia hampir tak bisa tidur dan tak nafsu makan. Kaisar berusaha melanjutkan gaya hidupnya seperti biasanya.

Dia terus berburu, dan dalam perburuan di Belovezhkaya Puscha pada September 1894, dia terserang flu. Dokter mengintruksikannya untuk berendam air panas dengan suhu 28 derajat Celcius. Namun, Kaisar yang selalu merasa air di bak mandinya terlalu panas, menambahkan air dingin dan berendam sebentar di dalamnya. Dia kemudian pingsan dan menderita pendarahan dari tenggorokan. 

Pada 18 September, setelah kondisinya sedikit lebih baik, Keluarga Kekaisaran pergi berlibur di Livadia, Krimea. Akan tetapi, kondisi Tsar tidak juga membaik. Kakinya bengkak, nafasnya sesak, sulit tidur, dan kelelahan. Tsar yang dulu kuat kini tampak tak berdaya di depan mata semua orang. Dokter terkenal Nikolay Velyaminov mencoba menolong Kaisar di bulan-bulan terakhir hidupnya. Namun, itu adalah upaya yang sia-sia, dan Kaisar tetap tak mengacuhkan instruksi dokter. 

"Kepalanya kecil seukuran kepalan tangan dan lehernya tipis. Laki-laki besar ini kehilangan bagian belakang kepalanya karena berat badannya turun begitu banyak. Mantel yang dikenakannya tergantung longgar, seperti pada gantungan baju. Tak ada yang tersisa dari bahunya yang terkenal kekar dan dadanya yang berotot ... Semuanya menjadi jelas bagi saya. Itu adalah tanda orang yang sekarat," tulis Velyaminov. 

Sang Kaisar menghembuskan nafas terakhir di Livadia pada 20 Oktober. Sehari sebelum ajal menjemput, entah bagaimana, ia mendapatkan kekuatan untuk berpakaian. 

Misteri Penyakit para Romanov Pertama 

Kematian Fyodor Alekseyevich.

Empat Tsar dari dinasti Romanov yang memerintah pada abad ke-17 menderita penyakit dengan gejala yang terkait satu sama lain. Mereka sulit untuk berjalan dan merasakan kesakitan ketika melakukannya. Menurut catatan tertulis, para Tsar memiliki "kaki yang sakit". 

Dalam kasus Mikhail Fyodorovich (1596 – 1645), gejala-gejala penyakit muncul tak lama setelah ia menginjak usia 30 tahun. Pada musim panas 1627, ia mengeluh kepada ayahnya: "Penyakit pada kakiku semakin memburuk akibat berkuda, dan aku dibawa kembali ke kereta." 

Dokter-dokter Jerman, Wendelinus Sybelist dan Johann Bulow ditugaskan untuk menjaga kesehatan Tsar. Mereka diberi bayaran yang tinggi hingga 400 rubel per tahun, yang setara dengan penghasilan boyar (gelar untuk bangsawan). 

Pada 1643, Tsar menderita erisipelas (infeksi bakteri di lapisan atas kulit) dan kemudian abses pertonsil (infeksi bakteri yang menyebabkan munculnya nanah di sekitar amandel) atau radang tenggorokan.  Namun, dokternya malah mengeluarkan diagnosa: "perut, hati, dan limpa yang lemah karena terlalu banyak duduk, banyak mengonsumsi minuman dingin, serta melankolia (kekecewaan)." 

Pada 1645, saat dalam perjalanan menuju layanan paginya, Tsar mulai mengeluh bahwa "isi perutnya terasasa seperti sedang disiksa" dan meninggal pada keesokan malamnya. Dokternya mendiagnosis "penyakit air" sebagai penyebab utama kematian. 

Dropsy (gembung) atau asites adalah penumpukan cairan dalam rongga perut yang sering disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti penyakit liver, kanker, gagal ginjal, atau gagal jantung. Gejala penyakit ini panjang dan berat, serta selalu disertai dengan pembengkakkan kaki. Asites dapat menyebabkan komplikasi seperti peritonitis (radang selaput) dan menyebabkan sakit perut. Pembesaran rongga perut menyebabkan tekanan darah meninggi, sementara peradangan menghasilkan demam tinggi. 

Mikhail Fyodorovich mengeluhkan gejala seperti itu. Dokternya meresepkan anggur Rhenish dengan rempah-rempah untuk membersihkan lendir. Sulit membayangkan hal yang lebih buruk dari alkohol untuk mengatasi penyakit itu. 

Aleksey Mikhailovich, putra Tsar pertama dinasti Romanov, menderita tekanan darah tinggi dan obesitas seumur hidupnya. Dia suka menjalani prosedur pembuangan darah untuk meredakan darah tingginya. Selain itu, dia juga menderita edema (pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan) dan mengeluh masalah perut. Dia meninggal mendadak pada 1676. Setelah mengalami demam tinggi, kondisi Tsar memburuk selama beberapa hari. Dia mandi dengan air es dan meminta kvass (minuman tradisional Rusia yang terbuat dari gandum hitam) yang sangat dingin — saking dinginnya, partikel es berdenting di sisi gelas. 

Penguasa berikutnya, Fyodor Alekseyevich  (1661 – 1682), ditandu di atas kursi untuk menghadiri pemakaman ayahnya. Dia juga memiliki "kaki yang sakit" sejak kecil. Pada usia 14 tahun, ia bahkan hampir tak bisa berjalan karena kakinya sangat bengkak. 

Pembengkakkan di kaki biasanya dikaitkan oleh banyak sejarawan dan peneliti sebagai akibat dari penyakit kudis, atau kekurangan vitamin C. Namun, dalam kasus Tsar, yang selalu disajikan berbagai hidangan olahan dan selalu memiliki buah serta sayuran di mejanya, apakah mungkin ia mengalami  kekurangan vitamin C? Di meja makannnya selalu tersedia kubis dalam berbagai bentuk olahan — kandungan vitamin C pada kubis lebih banyak daripada lemon. 

Menu Tsar Fyodor untuk perayaan Dormisi Bunda Allah (diperingati setiap akhir Agustus) adalah kubis mentah yang dipanaskan, jamur agaric oranye — baik mentah maupun dipanaskan, hidangan yang dibuat dari buah beri, manisan kismis, dan manisan rosehip (buah dari biji bunga mawar). Namun, lemon dan jeruk juga dapat ditemukan di antara makanan yang disajikan untuk Tsar. 

Akan tetapi, Fyodor Alekseyevich meninggal pada usia 21 tahun, yang disebabkan oleh "penyakit kudis". Sedangkan adiknya, Ivan Alekseyevich (1666 – 1696), yang ikut memerintah bersama Pyotr yang Agung, juga memiliki "kaki yang sakit", menderita edema, dan meninggal saat berusia 29 tahun. 

Potret Aleksey Mikhailovich, ayah Pyotr yang Agung.

Apa sebenarnya biang keladi "penyakit misterius" yang oleh dokter asing disebut sebagai "kelemahan", "gembung" atau "penyakit kudis" itu? Satu hal yang perlu dicatat, semua Romanov yang menderita penyakit itu tinggal di apartemen di Kremlin Moskow. Sementara, Pyotr yang Agung, putera Aleksey Mikhailovich dengan istri keduanya Natalya Nasyshkina (1651 – 1694), membenci Kremlin dan tinggal di Istana Preobrazhenskoye dan Lefortovo yang memiliki pengaturan lebih bebas. Ia bahkan meninggalkan Moskow dan memindahkan ibu kota negara ke Sankt Peterburg. 

Para peneliti percaya, para penguasa dinasti Romanov pertama ditumbankgkan oleh metabolisme mereka yang buruk. Mungkinkah mereka diracun? Sangat tidak mungkin, mengingat kecerewetan mereka terhadap makanan dan sering bergonta-ganti dokter, yang terus-menerus mencicipi makan dan minuman mereka. Salah satu teori menyebutkan, itu semua adalah akibat dari lapisan timah pada bagian dalam pipa-pipa kayu saluran air di istana (di Preobrazhenskoye, tempat Pyotr tinggal, tidak terdapat saluran air). 

Bisakah zat-zat yang dihasilkan dari penguraian timbal secara kimiawi, yang ditelan oleh Tsar bersama dengan air minum yang mereka konsumsi, menjadi penyebab gejala-gejala yang mereka derita? Jika tidak, mungkinkah penyakit ginjal turunan yang menjadi penyebabnya? Perlu diingat, Pyotr yang Agung meninggal karena komplikasi ginjal dan penyakit saluran kemih, meskipun ia tidak menunjukkan gejala asites, edema, atau obesitas. 

Apa pun penyebabnya, hanya autopsi dan analisis sisa-sisa Romanov pertama, khususnya Fyodor dan Ivan Alekseyevich, yang dapat mengungkapkan kebenaran. 

Tsar-tsar Rusia terbiasa menjalani metode pengobatan aneh dalam menyembuhkan penyakit. Mereka sangat mengandalkan obat-obatan kuno yang digunakan dukun dan tukang sihir. Inilah beberapa metode pengobatan teraneh yang digunakan para Tsar Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki