Tawarkan Biaya Berobat yang Terjangkau, Wisata Medis ke Rusia Kian Populer

Perawatan medis yang populer meliputi progam bayi tabung hingga kedokteran gigi.

Perawatan medis yang populer meliputi progam bayi tabung hingga kedokteran gigi.

Valery Sharifulin/TASS
Jumlah turis medis ke Rusia terus meningkat, hal ini berkat mutu perawatan kesehatan Rusia yang relatif tinggi ditambah biaya yang terjangkau akibat jatuhnya nilai tukar rubel.

Banyak orang asing yang kini berbondong-bondong datang ke Rusia untuk melakukan pengobatan. Menurut Asosiasi Pariwisata Medis Rusia, fertilisasi in vitro (program bayi tabung atau IVF) sekarang menjadi prosedur paling populer di antara pasien mancanegara, terutama disebabkan harganya yang 2,5 kali lebih murah jika dibandingkan di Eropa atau Amerika.

Keuntungan lain yang menjadi alasan bagi pasien mancanegara untuk melakukan pengobatan ke Rusia adalah undang-undang reproduksi Rusia yang lebih fleksibel dan liberal. Banyak hal yang dilarang keras di negara lain, tetapi tersedia di Rusia.

Selain itu, kedokteran gigi juga merupakan sektor kesehatan yang paling populer bagi orang asing yang berkunjung ke Rusia untuk alasan medis. Sekitar 44 persen dari semua pasien internasional di Rusia membuat janji dengan dokter gigi. Sebagai contoh, banyak kelompok turis asal Tiongkok yang sering kali menyempatkan diri berkunjung ke dokter gigi di sela-sela tur mereka, tutur Presiden Asosiasi Pariwisata Medis Rusia (AMT) Konstantin Onishchenko.

Secara keseluruhan, kunjungan medis kian meningkat di seluruh Rusia, dan jumlah pasien asing di rumah sakit Rusia telah meningkat hingga 24 persen, lapor AMT.

Permintaan IVF

"Sebagian besar pasien asing kami berasal dari negara-negara tetangga bekas pecahan Soviet, termasuk Kazakhstan, Kyrgyzstan, Ukraina, dan Belarus. Tetapi ada juga yang berasal dari negara lainnya, seperti Italia, Irlandia, Prancis, Serbia, Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, hingga Kanada," tutur Dokter Elena Kalinina yang merupakan kepala klinik kesehatan reproduksi ART-EKO. Ia menambahkan bahwa orang asing biasanya datang ke Rusia untuk mencari donor telur dan surogasi.

 

Para ahli mengatakan bahwa undang-undang di Rusia yang fleksibel berkontribusi terhadap pertumbuhan pariwisata medis khususnya program kehamilan. "Di Italia, misalnya, donasi telur dan surogasi selalu mendapat perlawanan dari gereja Katolik. Baru sekitar dua tahun yang lalu donasi telur dilegalisasikan di negara tersebut, meski begitu sektor ini berkembang dengan lambat," tutur Kepala Dokter Klinik Karmenta Moskow Aleksander Obydennov.

Inggris melarang segala jenis kompenasasi finansial untuk donor telur, sementara Israel memberlakukan batasan usia yang ketat untuk prosedur fertilisasi in vitro, itulah sebabnya mengapa banyak orang yang mempertimbangkan untuk melakukan program ini di Rusia.

"Secara keseluruhan, program donor telur yang ditawarkan klinik kami — yang mencakup prosedur IVF — akan menelan biaya mulai 2.500 hingga 5.500 euro. Harga yang sama dikenakan baik untuk warga negara Rusia maupun orang asing, tutur Obydennov.

Para ahli mengatakan bahwa hingga kini Spanyol masih memimpin dalam penyediaan surogasi. Sumbangan telur diizinkan di sana dan Spanyol memiliki perawatan kesehatan berkualitas tinggi. Selanjutnya, biaya program IVF yang ditawarkan di Spanyol tidak jauh lebih tinggi dari pada Rusia.

Di Rusia, seorang ibu pengganti diperkirakan akan menerima kompensasi mulai dari 16.500 hingga 20.000 euro, jumlah yang sama dengan Spanyol. Biaya prosedur surogasi di Thailand memang lebih murah 20 hingga 30 persen, tetapi kualitas perawatan medis di sana lebih rendah, sang ahli memperingatkan. Selain itu, Ukraina, Bulgaria, Montenegro, dan Macedonia juga memiliki program donor telur yang cukup terjangkau.

Meskipun demikian, terlepas dari tingginya persaingan, para ahli Rusia sepakat bahwa Rusia memiliki potensi besar untuk mengembangkan program IVF, termasuk untuk warga asing.

"Menurut Perhimpunan Masyarakat Reproduksi dan Embriologi Eropa (ESHRE), Rusia adalah satu dari tujuh negara yang paling efektif dalam teknologi reproduksi," tutur Elena Kalinina.

Visa medis

Onkologi juga merupakan salah satu prosedur yang paling diminati di Rusia, biasanya orang asing sengaja datang mengunjungi dokter yang sudah terkenal secara internasional. "Baru-baru ini, seorang pasien asal Iran yang menderita kanker ginjal datang ke Rusia untuk menjalani pengobatan eksperimental. Rusia telah menjadi salah satu negara yang mampu menguji program terapi tertarget untuk perawatan kanker secara gratis," tutur Onishchenko.

Permintaan untuk operasi vaskular juga meningkat di Rusia. Sebagian besar pasien membutuhkan prosedur pengangkatan vena untuk mengobati varises di kaki mereka.

"Kami dapat menyelesaikan prosedur tersebut dalam waktu satu jam, tanpa anestesi atau pembedahan. Pasien dapat kembali ke rumah dalam lima atau enam hari," tutur Anton Solomakhin, kepala Pusat Vaskular Inovatif Moskow. Ia menambahkan bahwa bedah vaskular rata-rata di Rusia memakan biaya mulai dari 1.000 euro atau lebih. Di Eropa, prosedur ini bisa mencapai 4.000 hingga 5.000 euro, sementara di AS dapat memakan biaya hingga 4.500 dolar AS.

Para ahli meyakini bahwa untuk mempromosikan pariwisata medis ke Rusia, sejumlah isu harus dibenahi terlebih dahulu, salah satunya adalah kebutuhan untuk mengenalkan visa medis. Spesialis di Asosiasi Pariwisata Medis Rusia mengatakan bahwa visa medis setidaknya harus berlaku selama empat hingga enam bulan dan merupakan visa multiple-entry.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.