Berdamai dengan Bahasa Lewat Musik: Kisah seorang Musisi Amerika di Rusia

Michelle Daniel
Rusia adalah negara pertama yang saya kunjungi, di mana saya bermusik dengan sedikit pertukarkan kata. Hal ini tak pernah saya alami sebelumnya, karena baru di Rusia saya menemukan mayoritas orang tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan bebas. Jika sebuah gambar bernilai ribuan kata, satu komposisi jazz yang dimainkan bersama bernilai seratus percakapan.

Saya tinggal di dekat stasiun metro jalur oranye, tak jauh dari patung Yuri Gagarin, di kawasan Jalan Lingkar Ketiga, wilayah barat daya Moskow. Selama tiga bulan, sebagai pianis dan vokalis jazz Amerika yang sedang berkunjung, saya telah memeluk tempo hingar-bingar kota yang dramatis, dinamis, dan sangat kompleks ini. Saya bahkan merasa Moskow lebih cocok dengan kepribadian saya, lebih dari yang bisa saya jelaskan. Saya merasa berada di rumah sejak hari pertama tiba.

Saat ini, hampir pukul 20.00 pada 1 Juli, dan saya turun dari kereta yang penuh sesak di jalur ungu dan berjalan menuju tengah peron di Ulitsa Goda 1905. Saya tiba satu atau dua menit lebih awal dari waktu pertemuan yang ditetapkan dengan seorang profesor dan musisi setempat.

Sambil menunggu, saya merenungkan sistem metro (kereta bawah tanah) Moskow, yang sangat saya sukai — bersih, spektakuler, dan sebuah alam semesta bagi musik live (langsung), karena sepertinya tersebar di mana-mana. 

Saya berasal dari Austin, Texas, yang konon dijuluki sebagai “Ibukota Musik Live Dunia”, tapi jujur saja, saya bisa mengatakan bahwa saya mendengar lebih banyak pertunjukan musik live di Moskow, bahkan tanpa harus mencoba membandingkan dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, termasuk New York, di mana para musisi juga bermain di atas, maupun di bawah tanah. Namun, akustik bawah tanah New York tidak dapat dibandingkan dengan akustik bawah tanah Moskow yang bak surga — ini bukan pendapat, melainkan fakta. 

Minggu ini saja saya telah mendengar dua pemain biola klasik wanita yang bersemangat dan luar biasa; beberapa gitaris flamenco, rock, dan bahkan country; beberapa pemain akordion tradisional; dan beberapa pasang trio dengan rasa Paris. Meski banyak yang membawakan lagu dalam bahasa Inggris, hanya sedikit yang bisa berbicara dengan baik. 

Grup favorit saya sejauh ini adalah sekelompok pria muda yang memainkan cover (menyanyikan lagu orang lain dengan versi lain dari aslinya) instrumental lagu-lagu pop sembari menari. Musikal mereka bagus, tetapi energi dan penampilan keseluruhan mereka lah yang menjadikan mereka hebat. Selalu banyak orang yang berhenti untuk menonton pertunjukan mereka —  tua, muda, pasangan, lajang dan keluarga. 

Bayangkan! Ini bukanlah Sankt Peterburg yang cenderung lebih santai, melainkan Moskow, di mana waktu adalah uang. Namun, semua orang yang berhenti tampaknya rela tertinggal satu, dua atau tiga kereta untuk mendengar irama lagu yang akrab di telinga mereka dan bahkan mungkin mereka cintai. Ada begitu banyak kenyamanan, lebih dari apa yang dapat dipahami. Namun, bukan itu yang disampaikan para musisi ini (karena jika mereka memainkan cover, tak ada hal baru yang mereka sampaikan), melainkan tentang bagaimana mereka menyampaikannya. Lemparkan beberapa rubel ke kasing tuba yang terbuka, metro bisa menunggu. 

Saya membawa kembali perhatian saya ke Ulitsa Goda 1905. Sebuah kereta berteriak memberi tanda kedatangannya. Seperti yang diharapkan, lelaki Rusia paruh baya yang aku tunggu kedatangannya — tepat waktu seperti biasanya. Andrey menyapa saya dengan cara yang biasanya menyenangkan tetapi tanpa suara, memanggul ransel hitam yang saya tahu itu adalah peralatan kerjanya. Kami mulai berjalan, berbincang-bincang kecil, mengobrol ringan di perjalanan menaiki eskalator yang panjang.

Keluar dari stasiun menuju malam yang diliputi cuaca ringan, kami mulai berjalan ke tempat yang ditunjuk Andrey, sebuah monumen kecil di tengah pintu masuk terowongan yang didedikasikan untuk seorang musisi jalanan yang telah menjadi bagian dari kotaini selama bertahun-tahun, sampai kematiannya. Saya kagum. Sebuah tempat seluas Moskow, yang dapat dengan mudah menampung keseluruhan wilayah Rhode Island, dan yang menghormati para komponis besar Rusia yang mendunia dengan cara-cara mulia, masih bisa memiliki kepekaan yang intim seperti di kota kecil dengan mempedulikan satu orang yang menghibur karena cinta tanpa kemasyhuran. 

Jazz di Bawah Tanah

Moskow adalah perpaduan fantastis dari hal-hal lama yang dikombinasikan dengan hal-hal baru, semuanya dalam mode yang luas dan terus berkembang. Dengan setiap pemberhentian metro baru yang saya kunjungi, saya tiba di bagian kota yang berbeda, menghancurkan rasa "mengetahui" atau "memahami" atau bahkan "kenormalan" menjadi menyerah tanpa curiga. Namun kejutan yang terus-menerus ini menumpulkan perasaan setelah beberapa saat: Anda menjadi terbiasa, Anda berhenti memikirkannya, hal yang aneh atau unik menjadi hal biasa. Standar.

Kami berjalan melewati gedung-gedung era Khrushchev — semuanya tersangkut dalam perasaan terisolasi. Saya sedikit  merasa tidak nyaman, tetapi Andrey tidak. Ia berbicara tentang bagaimana bangunan-bangunan itu kini beralih fungsi: “di sini dulu adalah konservatori musik, tetapi kini dipindahkan ke seberang jalan," jelasnya. Lambat laun, saya pun menjadi santai.

Akhirnya, kami mendekati sebuah gedung rendah, yang akan saya hindari jika saya sendirian. Segera setelah kami memasuki langit-langit yang lebih rendah dari perkiraan dan lorong-lorong yang sangat sempit, ia menjelaskan, "ini adalah tempat perlindungan bom selama masa Soviet."

Pandangan saya berubah seketika dan menjadi tertarik dengan ruang ini — tampak kaya akan sejarah.

Kami menuju ruang tamu kecil yang tidak nyaman. Dinding di sekitar kami bergetar. Saya merasakannya segera, dentuman, dentuman, dan tanah di bawah kaki saya bergetar. Saya tidak khawatir. Ini adalah sensasi yang akrab, gemuruh khas bahasa musik yang tengah diucapkan di kamar sebelah.

Andrey berbicara dalam bahasa Rusia dengan orang lain di belakang meja. Saya tidak mengerti semua yang mereka katakan, tapi saya paham initinya. Kemudian, sang bassis di sofa melontarkan sebuah pertanyaan, dan Andrey menoleh kepadanya dengan agak terkejut. Rupanya, dia juga menunggu Andrey. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Igor, dan dia hanya berbicara bahasa Rusia. Kami hanya bisa mengeluarkan beberapa kalimat dalam bahasa masing-masing sebelum kami menyerah dengan senyum miring. "Apakah malam ini  memungkinkan untuk melakukannya?"

Andrey lalu melangkah dari meja penerima tamu dan kami kembali berjalan ke aula berlangit-langit rendah, kali ini dengan Igor di belakangnya, berjalan sampai ke ujung, dan kemudian menuruni beberapa set tangga. Kami melewati ruangan demi ruangan yang dipenuhi band-band yang tengah berlatih dengan berbagai gaya dan suara, baik dengan atau tanpa penyanyi. Ini semua menarik, tetapi bukan hal baru bagi saya. Ini adalah bahasa di mana saya dapat mengklaim bahwa saya adalah seorang penutur asli bahasa itu (hanya butuh 24 tahun mempelajarinya).

Kami memasuki ruang latihan dan mendapati seorang pemain drum dan pemain saksofon tengah menunggu kami. Saya mengenali saksofon yang dipegang sang musisi, tenor Selmer Mark VI, model yang sama seperti yang ada di lemari apartemen saya di Texas. Namun,  alat musik tiup berada di luar pemahaman saya di negara mana pun. Saya menghampiri keyboard Yamaha yang memanggil-manggil nama saya dan memaku diri di sana, sedangkan Igor menancapkan bass-nya ke sound system dan mengutak-atik setelannya. Saya berkenalan dengan keyboard selama dua menit dan siap untuk bermain.

Andrey membuka ransel hitamnya dan mengeluarkan terompet, lebih kecil dari biasanya dan sangat portabel, tapi memiliki nada penuh. Dia memainkan melodi berjalan, saksofon mengikutinya, keduanya melakukan pemanasan. Pemain drum tidak lagi memerlukan senam pendahuluan karena dia sudah berada di ruangan ini selama dua jam dengan grup lain. Andrey meminta perhatian kami, memberikan beberapa instruksi singkat dalam bahasa Rusia yang secara umum saya pahami, dan kemudian kami mulai bermain. Selain dengan Andrey, mungkin saya tidak dapat berkomunikasi dengan pemain lainnya menggunakan kata-kata, tetapi bagaimana menurut Anda kami dapat melewatinya dengan instrumen kami masing-masing? Baiklah, katakan saja, ini adalah akhir dari pengantar yang sebenarnya.

Apa kabar? Nama saya…

Senang bertemu dengan Anda. Anda berasal dari mana? Saya tinggal…

Oh, itu menarik. Saya punya teman dari sana, dan dia juga...

Ya, saya kira saya mungkin kenal dengan dia. Lihat, seingat saya ada pasar terbuka ini di sana...

Setelah satu improvisasi yang diperluas, kami menjadi akrab satu sama lain — lebih baik daripada jika kami menggunakan bahasa sehari-hari yang biasa. Jika sebuah gambar bernilai ribuan kata, satu komposisi jazz yang dimainkan bersama bernilai seratus percakapan. Pada akhir lagu pertama, situasi pun mulai mencair. Saat itulah saya sadar, musisi Rusia dan Amerika bisa bergaul dan cukup baik di tengah keterbatasan kata-kata. Igor senang. Saya senang. Bahasa Inggrisnya tiba-tiba menjadi lebih baik. Begitu pun bahasa Rusia saya. Luar biasa.

Di akhir latihan yang berlangsung selama tiga jam, kita semua menjadi lebih dekat, lebih dari keluarga. Sepertinya mustahil, saya tahu. Namun itu benar. Orang-orang yang saya temukan melalui musik ini, adalah orang-orang yang fantastis. Saya mencoba mendalami gaya bermain mereka, mereka pun demikian. Itu bukanlah akhir dari cerita, kami juga menggelar pertunjukan bersama.

Saya baru menyadari, bahwa saya tidak pernah benar-benar memperhatikan properti musik yang bisa menyatukan ini sampai dengan kedatangan saya ke Rusia. Namun alasannya jelas, karena saya tidak pernah berada di lingkungan di mana bahasa saya bukan bahasa penonton dan sebaliknya. Saya tidak pernah harus berpikir tentang bagaimana berhubungan dengan orang yang saya tidak mengerti dan siapa yang tidak mengerti saya. Saya tidak pernah memikirkan fungsi musik selain hiburan. Namun di sini, malam ini, saya menyaksikan bagaimana musik menarik garis komunikasi dan menghancurkan kesombongan, prasangka, serta politik. Jelas, Duke Ellington dan Irving Mills melakukannya dengan benar ketika mereka menulis pada 1931: "Itu tidak berarti apa-apa, jika tidak ada alunan itu." Lagi pula, bahasa apa pun hanyalah sebuah kebisingan sampai diucapkan kepada seseorang, dan musik sepertinya dapat berbicara secara universal.

Meski orang-orang Soviet kebanyakan memuja musik jazz, para pemimpin negara tidak selalu mencintainya. Awalnya diterima dengan baik, tapi kemudian dianggap simbol dunia Barat yang dibenci Soviet. Inilah kiprah jazz Amerika di era Soviet

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki