Api Suci: Upaya Umat Ortodoks ‘Menyelamatkan’ Dunia dari Kiamat

Discover Russia
ROMAN LUNKIN
Ketika pada abad ke-12 Tentara Salib melarang umat Ortodoks memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem sebelum Paskah, Api Suci tak turun. Akhirnya, mereka terpaksa diizinkan masuk.

Tiap tahun, umat Ortodoks bisa bernapas lega karena hari kiamat lagi-lagi ditunda — setidaknya selama 12 bulan ke depan. Namun, beberapa orang Rusia percaya bahwa mengetahui secara pasti apakah hari penghakiman akan datang atau tidak bukanlah hal yang mustahil.

Berdasarkan kepercayaan umum Ortodoks, hari kiamat akan tiba jika Api Suci di Yerusalem tidak turun pada Minggu Paskah (tahun ini jatuh pada 1 April). Seandainya api itu turun, umat manusia akan mendapat setidaknya satu tahun tambahan hingga Paskah selanjutnya.

Keajaiban Ortodoks

Proses penurunan api muncul di Gereja Makam Kudus di Yerusalem dekat makam Kristus, dan dianggap sebagai keajaiban hanya oleh penganut Ortodoks. Tak ada penjelasan teologis mengapa hal ini tak dibahas oleh umat Katolik. Lantas, mengapa Api Suci hanya turun untuk umat Ortodoks?

Catatan pertama mengenai Api Suci ditemukan pada abad ke-4. Ketika itu, ia disebut Cahaya Suci. Ini menyimbolkan cahaya yang muncul dari makam Kristus setelah kebangkitannya. Sumber Arab kuno juga membahas keajaiban ini. Selama abad-abad pertama penyebaran Kristen, terdapat aturan pemberkatan dan menyalakan lampu malam sebelum ibadah Paskah di Gereja Makam Kudus. Lama-kelamaan, tradisi ini berubah menjadi perayaan dan dikenal sebagai Keajaiban Turunnya Api.

Kini, pada Sabtu Kudus, patriak Yerusalem, bersama uskup Armenia, akan memasuki rotunda Gereja Makam Kudus tempat Kristus dimakamkan dan berdoa. Api itu sendiri, menurut umat Ortodoks, dinyalakan dalam lampu ikon yang menggantung di atas makam Kristus. Patriark dan uskup Armenia menyalakan ikatan lampu-lampu tersebut dan keluar untuk menyapa jemaat. Biasanya, kegiatan ini berlangsung sekitar pukul 3 hingga 4 sore waktu Moskow.

Perayaan Keagamaan Paling Menarik

Perayaan Penurunan Api disiarkan di televisi Rusia. Ini adalah perayaan yang paling hidup dan menarik yang bisa Anda bayangkan. Gereja Makam Kudus dipenuhi para peziarah dari berbagai negara. Banyak jemaat, yang datang dari gereja-gereja Timur Tengah, memanggil Kristus, duduk di bahu satu sama lain dengan setumpuk lilin yang menunggu untuk dinyalakan. Semua lilin ditaruh sebelum perayaan dan sebuah mukjizat tiba-tiba terasa di seluruh bangunan.

Cahaya di atas makam Kristus adalah tanda turunnya api (dalam siaran televisi, itu memang terlihat). Ketika patriark dan uskup Armenia keluar dengan lilin-lilin putih yang telah menyala, kegembiraan di tengah para jemaat akan semakin bergejolak. Orang-orang berusaha menyalakan lilin mereka dengan api ini dan bahkan membiarkan api menyentuh wajah dan tangan mereka (api ini diyakini tak berbahaya). Prosesi ini jelas berbeda dibanding ibadah keagamaan biasa.

Saat ini, para pendeta dari Patriarkat Yerusalem, Gereja Apostolik Armenia, Gerja Koptik, dan Gereja Suriah berpartisipasi dalam turunnya Api Suci. Pendeta Katolik pernah berpartisipasi dalam perayaan ini hingga abad ke-12 (setelah itu Tentara Salib diasingkan dari Yerusalem).

Suatu kali, Tentara Salib pernah melarang umat Ortodoks untuk memasuki Gereja Makam Kudus sebelum Paskah dan api tak turun. Baru setelah raja mengizinkan umat Ortodoks memasuki gereja, api kembali turun.

Pada abad ke-16, kisah yang sama terjadi dengan perwakilan Gereja Armenia — api tak turun untuk mereka, dan baru turun setelah jemaat Ortodoks diizinkan memasuki gereja (kabarnya, petir menyambar pilar gereja dan lilin pun menyala). Pada abad ke-13, Paus Gregorius IX mengumumkan bahwa ia tak menganggap Api Suci sebagai keajaiban.

Katolik Tak Percaya

Gereja Katolik tak menghargai penurunan api atau tak mengakui kebenarannya, sedangkan Vatikan memilih bersikap netral. Secara berkala, sengketa mengenai kebenaran keajaiban Yerusalem muncul di kalangan umat Ortodoks.

Secara khusus, jurnalis dan diakon Andrei Kuraev mengatakan bahwa patriark Yerusalem kemungkinan menggunakan pemantik untuk menyalakan api supaya tradisi ini tak ditinggalkan.

Pada tahun 2000-an, Api Suci memiliki makna khusus bagi warga Rusia. Menurut kepercayaan populer, keajaiban ini pada umumnya mengonfirmasi kejujuran iman umat Ortodoks dan secara khusus merayakan Paskah menurut kalender non-Katolik. Lebih dari itu, Api Suci kini adalah simbol ikatan Rusia dengan Tanah Suci.

Sejak 2003, Yayasan Rasul Andreas mengirim Api Suci ke Rusia dengan pesawat pada hari turunnya, yakni Sabtu Suci. Dalam lampu ikon khusus, api ini diberikan pada Patriark Rusia di gereja utama Moskow, Katedral Kristus Sang Penyelamat. Dari situ, api dibawa ke daerah-daerah dan lilin Paskah merah dinyalakan di gereja dengan api tersebut. Api ini dipercaya tak akan membakar Anda dan dapat mengobati penyakit.

Tahukah Anda bahwa ibu kota Rusia memiliki banyak julukan dan salah satunya adalah ‘Roma Ketiga’? Namun, seiring waktu, julukan ini kerap disalahartikan di Barat dan disangkutpautkan dengan politik luar negeri Uni Soviet dan Rusia. Padahal, asal-usul pemberian julukan ini jauh dari unsur politik.

Roman Lunkin adalah seorang Ph.D., Kepala Pusat Studi Keagamaan, Institut Eropa, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.