Bagaimana Pandangan Perempuan Rusia Terhadap Pria Indonesia?

Banyak pria Indonesia yang mendambakan gadis Rusia. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan mereka terhadap pria Indonesia? Apa keunggulan pria Indonesia dibandingkan pria Rusia? Simak pengakuan enam perempuan Rusia yang pernah tinggal dan berinteraksi langsung dengan pria Indonesia.

Anastasia Prilipko

Anastasia (23) berasal dari Sankt Peterburg. Fasih berbahasa Indonesia, ia kini tengah menempuh studi S2 di Universitas Negeri Sankt Peterburg (SPbGU).

Ketika pertama kali ke Indonesia, saya merasa pria Indonesia sangat sopan. Sampai sekarang pun saya masih berpikir begitu. Namun tentu saja, selama di Indonesia, saya pernah mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Misalnya, suatu hari ketika saya sedang berjalan pulang dari kampus, ada seorang pria bermotor yang mencoba berbicara dengan saya dengan bahasa yang saya tak mengerti (bukan bahasa Indonesia). Namun, saya yakin dia berusaha minta uang. Saya bilang tidak punya uang, tapi kemudian dia memarkir motornya dan berusaha mencuri iPad saya.

Selain itu, saat di Bali, pernah ada dua laki-laki muda yang menepuk pantat saya sambil mengendarai motor, sementara dua orang lainnya mencuri tas saya.

Namun, terlepas dari beberapa kejadian itu, saya tahu bahwa kebanyakan pria Indonesia sebetulnya sangat baik dan pintar. Saya bahkan punya teman pria yang mengantar saya pulang saat saya sakit. Dia membawakan saya buah-buahan, obat, dan air.

Saya pikir, perbedaan antara pria Indonesia dan Rusia adalah bahwa mereka (pria Indonesia) lebih pemalu dan sederhana.

Pada 2015, ia mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan tinggal di Surabaya. Setelah kembali ke Rusia, ia mendapat tawaran kerja di salah satu perusahaan Rusia di Jakarta sebagai penerjemah. Ia sempat tinggal di Jakarta selama beberapa bulan sebelum akhirnya kembali Sankt Peterburg.

Saya sendiri tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan dengan pria Indonesia. Saya pernah bertemu beberapa pria muda Indonesia yang terpelajar, berpenampilan menarik, dan memiliki pandangan hidup yang modern.

Lagipula, saya pikir — terlepas dari segala perbedaan budaya dan agama — perempuan Rusia bisa mempertimbangkan pria Indonesia sebagai pasangan mereka. Saya tahu beberapa perempuan Rusia yang menikah dengan pria Indonesia dan mereka hidup bahagia. Di sisi lain, ada juga beberapa pasangan yang akhirnya bercerai, tapi itu bukan karena kewarganegaraan mereka, melainkan karena masalah personal mereka. Jadi, latar belakang budaya mungkin bisa jadi tantangan, tapi saya pikir pria Indonesia adalah tipe pria yang sangat peduli dan perempuan Rusia bisa hidup bahagia dengan mereka.

Irina Adrova

Awal tahun ini, Irina (26) mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Itu adalah kedua kalinya ia tinggal di Indonesia.

Pertama kali saya mengenal pria Indonesia adalah ketika saya berada di pesawat menuju negara itu. Ia mengenakan baju hangat dan memakai sandal jepit. Dia sangat menyenangkanseorang teman bicara yang cerdas. Ia bahkan memberi tahu saya banyak hal menarik mengenai Indonesia. Setelah tiba di (bandara) Soekarno-Hatta, dia bertanya apakah saya perlu bantuan dan siapa yang akan menjemput saya. Dia bahkan meminjamkan ponselnya supaya saya bisa menelepon. Itu benar-benar mengejutkan dan sekaligus menyenangkan. Setelah memastikan bahwa saya akan baik-baik saja, dia pergi.

Saya pikir, itu mungkin satu dari sedikit kejadian ketika seorang laki-laki Indonesia pergi begitu saja tanpa meminta berfoto atau menanyakan akun Facebook saya.

Selain itu, saya punya pengalaman yang pasti tak akan pernah saya lupakan. Seorang pria Indonesia yang sangat terhormat mengizinkan saya dan teman saya tinggal di rumahnya selama masa studi saya di Indonesia, yang saat itu memang tidak ia tempati. Ia mengizinkan kami tinggal di sana setelah mengetahui bahwa kami kesulitan menemukan tempat tinggal.

Saya bisa bilang bahwa orang Indonesia adalah orang paling baik di dunia. Mereka sangat ramah terhadap orang asing yang secara tulus mencintai negara mereka.

Sebelum itu, Irina juga pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Saat ini, ia tengah menempuh kuliah S2 di Universitas Negeri Moskow (MGU).

Orang Indonesia juga sering memberikan pujian. Selama di Indonesia, saya sering mendapatkan pujian meski saya pikir itu karena saya “bule”. Namun, pria Rusia memang lebih jarang memuji perempuan.

Namun, terlepas dari itu semua, saya pribadi lebih memilih pria Rusia dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Biar bagaimana pun, kami punya kesamaan mentalitas, pandangan, budaya, agama, dan gaya hidup. Saya pikir, pria Rusia lebih berpeluang untuk merebut hati saya. Namuntentu sajatak ada yang tak mungkin.

Tatiana Gromenko

Tatiana (24) berasal dari Tver, sekitar tiga jam dari Moskow. Ia lulus dari Institut Negeri Hubungan Internasional Moskow (MGIMO) dan fasih berbahasa Indonesia. Kini, ia tinggal di Singapura bersama suaminya.

Saya tak begitu mengetahui mengenai pria Indonesia sebelum saya datang ke sana. Setelah tinggal di Indonesia, saya merasa pria Indonesia sama seperti pria mana pun di dunia. Setiap pria berbeda dan kita tidak bisa menyamaratakan mereka. Namun, saya pikir satu karakter yang hampir dimiliki setiap pria Indonesia adalah keramahan.

Saya sudah beberapa kali ke Indonesia dan punya banya teman (pria) Indonesia. Saya bisa bilang bahwa pengalaman saya bersama mereka cukup baik. Namun, tentu saja ada beberapa kasus “unik” yang pernah saya temui. Misalnya, mentalitas pria yang berasal dari daerah yang jauh dari perkotaan cukup berbeda dengan saya. Karena itulah, saya pikir akan sangat sulit untuk menjalin hubungan dengan pria semacam ini.

Namun, saya juga bertemu banyak pria Indonesia yang terpelajar dan punya rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap dunia — berwawasan global. Saya yakin pria semacam ini punya peluang untuk menarik perhatian gadis-gadis Rusia. Apalagi, menurut saya, pria Indonesia lebih berpikiran terbuka daripada pria Rusia dan tidak malu untuk mendekati perempuan.

Pada 2014, ia berkesempatan mengikuti program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) selama tiga bulan. Setahun berikutnya ia kembali ke Indonesia dan mengikuti program magang di salah satu stasiun televisi swasta.

Meski begitu, saya sudah menemukan cinta sejati saya. Jadi, saya tidak berharap jatuh cinta pada pria Indonesia mana pun. By the way, saya sama sekali tidak punya anggapan buruk terhadap pria Indonesia. Sejujurnya, ketika saya tinggal di Indonesia, saya tak menutup kemungkinan untuk memiliki pacar orang Indonesia. Bagi saya, ini semua soal kepribadian orang itu, bukan kewarganegaraannya.

Secara keseluruhan, saya percaya bahwa perempuan Rusia harus lebih berpikiran terbuka mengenai peluang ini. Jika belahan hati mereka ternyata adalah seseorang yang berasal dari Indonesia, mereka harus benar-benar mempertimbangkannya.

Maria Mitsura

Maria (25) berasal dari Cheboksary, sekitar 680 kilometer di sebelah barat Moskow. Semasa kuliah, ia pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan belajar di Universitas Indonesia.

Saya pribadi kurang tertarik dengan pria Indonesia. Kebanyakan pria yang saya temui di Indonesia kurang sopan. Ini selalu terjadi setiap saya jalan-jalan keliling Indonesia, dan bahkan di pesawat sekalipun! Tentu saja, ada banyak juga yang baik — bahkan kebanyakan teman saya di Jakarta adalah laki-laki, dan mereka berbeda.

Namun, sering kali saya merasa tidak nyaman berjalan sebagai “bule” perempuan di Indonesia. Padahal, kami juga manusia, sama seperti orang Indonesia. Mereka tentu tidak tahu bahwa saya bicara bahasa Indonesia dan mengerti semua yang mereka ucapkan pada saya.

Sayangnya, hal semacam ini hanya terjadi di Indonesia. Saya tidak pernah menemukan masalah semacam ini di negara-negara Asia Tenggara lain. Memang ada orang-orang yang terlihat “penasaran” dengan kami, tapi tidak senakal orang Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Negeri Moskow (MGU), Maria kembali ke Indonesia dan bekerja di kantor Perwakilan Perdagangan Federasi Rusia di Jakarta hingga kini.

Karena itu, saya pikir saya tidak mungkin menjalin hubungan dengan pria lokal. Alasannya sederhana: budaya kita berbeda, agama kita berbeda, dan cakrawala berpikirnya pun berbeda. Sangat jarang ada orang yang berasal dari suatu bangsa bisa benar-benar menyatu dan cocok dengan bangsa lain. Maksud saya, biar bagaimana pun Anda akan dipersepsikan sebagai pendatang dan tidak mungkin suatu hari Anda akan jadi bagian dari mereka.

Saya sangat mencintai Indonesia. Saya mencintai negara ini sepenuh hati saya. Namun, soal hubungan atau bahkan pernikahan, saya lebih memilih pria Rusia.

Irina Khatuntseva

Irina (22) berasal dari Kaluga, tak jauh dari Moskow. Pada 2015, ia mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Selama setahun, ia belajar dan tinggal di Yogyakarta.

Sebelum ke Indonesia, saya sudah tahu bahwa pria Indonesia ingin mencari pacar bule, tapi saya tidak menyangka bahwa mereka benar-benar gigih. Banyak dari mereka yang berusaha mendekat, dan yang pertama kali mereka tanya adalah apakah saya sudah punya pacar atau belum. Kadang-kadang saya merasa bahwa mereka tidak benar-benar ingin mengetahui orang itu lebih dalam, yang penting orang itu bule. Bagi saya, ini sangat mengecewakan.

Namun, saya cukup beruntung bisa bertemu laki-laki Indonesia yang cuma mau berteman dan tetap peduli pada saya. Walau begitu, ada juga yang pada awalnya berteman, lalu pada suatu waktu dia menyatakan perasaannya. Ini situasi yang sulit karena Anda tahu bahwa dia sebetulnya teman yang baik, tapi saya tidak mau lebih dari itu. Saya menolaknya dan itu seperti membuatnya sakit hati. Setelah itu, dia tidak mau berkomunikasi lagi.

Ada juga laki-laki yang pernah mengungkapkan perasaannya pada saya. Kami pernah jalan-jalan, dia ajak saya berkencan, dan sebagainya. Suatu hari, saya pergi berlibur ke Bali. Orang itu tiba-tiba menghilang. Beberapa bulan kemudian saya baru tahu bahwa ia menikah. Bagi saya, ini aneh. Saya memang tidak punya perasaan apa pun dengan pria itu, tapi tetap saja hal itu aneh.

Fasih berbahasa Indonesia, Irina juga pandai dalam menarikan tarian tradisional Indonesia, seperti Tari Rantak dari Sumatera Barat. Saat ini, ia tengah menjalani kuliah S1 semester VII di Universitas Negeri Moskow (MGU).

Terlepas dari itu semua, saya pikir pria Indonesia lebih sensitif daripada pria Rusia. Sementara, perempuan Rusia suka laki-laki yang bermental kuat. Karena itu, saya pikir cukup sulit bagi perempuan Rusia untuk menjalin hubungan atau bahkan menikah dengan pria Indonesia.

Saya pikir, secara umum perempuan Rusia lebih cocok dengan orang Eropa. Namun, saya juga tahu beberapa perempuan Rusia yang berpacaran dengan pria Indonesia, dan semuanya baik.

By the way, pacar saya sekarang adalah orang Indonesia. Bagi saya, pria Indonesia jauh lebih peduli daripada laki-laki Rusia.

Ksenia Dubenko

Ksenia (21) adalah mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi (HSE) Moskow. Dia pertama kali ke Indonesia pada 2015 lalu.

Sebelum ke Indonesia, saya sama sekali tak punya pengalaman berhubungan dengan pria Asia. Jadi, saya tidak punya ekspektasi tertentu terhadap sikap atau karakter mereka. Ketika saya mengenal pria Indonesia, saya pikir mereka sangat pemalu, pasif, dan kurang peduli. Namun seiring waktu, pandangan ini berubah. Pria Indonesia sangat peduli, khususnya pada perempuan yang mereka suka, dan selalu siap membantu atau bahkan memberikan kejutan.

Meski begitu, kadang saya merasa bahwa pria Indonesia bersikap manis karena saya “bule” dan mungkin berjalan-jalan dengan perempuan asing terlihat keren. Beberapa orang bahkan menyebut saya sebagai tipe kekasih impian, perempuan tercantik, yang tidak seperti gadis-gadis Indonesia lain — hanya karena saya orang asing.

Padahal, saya tidak sempurna, apalagi dalam menjalin hubungan. Saya harap orang-orang, khususnya para pria, bisa menghargai saya karena kualitas diri saya, bukan karena warna kulit atau rambut saya. Sering kali pria Indonesia menyampingkan hal semacam ini dan saya tidak menyukai itu.

Namun, tentu saja, saya bertemu orang-orang yang bisa menjadi sahabat karena kami punya banyak kesamaan. Meski hampir dua tahun berlalu sejak saya ke Indonesia, saya masih berkomunikasi dengan teman saya, Indra. Saya sangat percaya padanya sejak pertama kali kami bertemu. Padahal, biasanya saya tidak mudah percaya pada orang asing. Ada juga Agung yang sangat humoris dan berjiwa petualang. Saya benar-benar kagum dengan selera humor dan wawasannya.

Sebetulnya, menurut saya, pria Indonesia lebih lembut daripada pria Rusia. Laki-laki Rusia biasanya lebih kaku“tidak” berarti tidak, dan ya berarti ya. Sementara, pria Indonesia lebih bisa berkompromi dalam membuat keputusan.

Selain itu, pria Rusia lebih terbuka dan emosional. Mereka seperti buku yang terbuka. Anda bisa — atau setidaknya berusaha — mengerti pola pikir mereka. Sementara, pria Indonesia agak sulit ditebak. Mereka selalu terlihat tenang dan merasa semuanya akan baik-baik saja. Di Rusia, tidak seperti itu — ekspresi wajah dapat memberikan gambaran apa yang ada di pikiran seorang pria.

Saat itu, ia mendaftar program magang sebagai guru Bahasa Inggris di SMA Don Bosco Semarang. Kegiatan itu merupakan bagian dari program AIESEC Global Citizen. AIESEC sendiri merupakan organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan pemuda.

Saya percaya pada hubungan beda negarabeberapa orang benar-benar sangat serasi. Namun, saya pribadi tak mau punya “keluarga internasional”. Bagi saya, keluarga yang kuat dibangun oleh latar belakang sosial dan budaya yang sama. Menjalin hubungan beda budaya perlu kerja keras. Masing-masing pihak harus mengerti satu sama lain, khususnya ketika kita bicara soal keluarga. Di Rusia ada peribahasa, “Suami dan istri adalah satu setan.” Maksudnya, suami dan istri menjalani kehidupan yang samadua individu jadi satu. Mereka punya tujuan yang sama, nilai-nilai yang sama, dan latar belakang yang sama. Rusia dan Indonesia sama-sama punya budaya yang unik. Karena itu, ketika menjalin hubungan, saya pikir kita akan menghadapi tantangan yang cukup besar akibat perbedaan budaya.

Namun, tentu saja, jatuh cinta adalah hal yang menyenangkan. Mencintai dan dicintai. Jika cinta bisa memberikan emosi yang positif, kebahagiaan, dan ketenangan, saya pikir masalah beda kewarganegaraan tak perlu masuk dalam daftar teratas hal yang perlu dikhawatirkan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More