Petualangan Ekstrem Bersepeda Solo Melintasi Siberia yang Beku

Lorenzo Barone
Saat ini, lelaki asal Italia ini masih dalam perjalanan ke desa terpencil Yuryung Khaya, melalui jalan paling utara di dunia. 

Lorenzo Barone, 23, tengah menjalani petualangan ekstrem melintasi Siberia yang membeku dengan sepedanya seorang diri. Ia harus mengayuh sepeda lebih dari dua ribu kilometer di jalan terdingin di dunia, yang suhunya turun hingga di bawah minus 50 °C.

Dia meninggalkan Kota Magadan (10.200 kilometer di timur Moskow) pada pertengahan Januari 2021. Setelah 52 hari menempuh perjalanan dalam kesendirian total, ia tiba di Kota Yakutsk (8.400 kilometer dari Moskow), melintasi salah satu tempat terdingin di bumi, Kota Oymyakon.

Selama perjalanan, ia membawa tenda, kasur, dan kantong tidur yang dibutuhkannya untuk menghadapi malam panjang di udara terbuka, yang dikelilingi salju dan kehampaan tak berujung.

"Terkadang seseorang menawari saya akomodasi, tetapi saya lebih sering tidur di tenda," ujar Lorenzo kepada Russia Beyond, saat dihubungi melalui panggilan telepon. Saat itu, dia sedang berada di Pokrovsk, sebuah kota di dekat Yakutsk, tempat dia memulai perjalanan panjang keduanya pada Desember 2020, setelah beristirahat beberapa bulan. Misinya adalah menempuh 2.700 kilometer lagi untuk mencapai Desa Yuryung Khaya, melalui jalan paling utara di dunia.

Penutupan perbatasan akibat pandemi COVID-19 membuatnya mustahil pulang kampung ke Italia. Petualangannya dipersulit oleh minimnya sinar matahari (selama musim dingin siang lebih singkat) dan suhu dingin yang terkadang turun hingga minus 55 °C, tak peduli siang maupun malam.

"Saat bersepeda dalam suhu rendah seperti itu, Anda harus berkonsentrasi seratus persen. Perhatian Anda harus tetap tertuju pada tingkat pernapasan dan selalu memeriksa kepekaan hidung, serta jari kaki dan tangan Anda," jelas Lorenzo.

Pada awal-awal petualangannya, dia tidur selama 6—7 jam dan bangun dengan perasaan gembira serta bersemangat untuk meneruskan perjalanan. Biasanya, dia memulai perjalanannya saat fajar, sekitar pukul 45 pagi dan berhenti untuk mendirikan tenda sebelum gelap. Namun, setelah beberapa minggu berlalu, kelelahannya mulai meningkat sehingga memutuskan untuk lebih bergerak lebih santai.

"Ketika saya bangun, semua barang di dalam tenda tertutup embun beku yang terbentuk pada malam hari dari uap pernapasan," ujarnya.

Untuk mengatasi suku ekstrem, Lorenzo mengenakan pakaian pendaki gunung, seperti sepasang sepatu khusus yang tahan dingin hingga suhu minus 73 °C (meski menurutnya pada suhu minus 45 °C kelingkingnya sudah terasa dingin), sweter, kaus termal dan dua lapis jaket yang sangat tahan dingin.

"Kuncinya adalah menghindari keringat dan menjaga pakaian tetap kering. Barang bawaan saya sangat sedikit dan hanya memiliki satu pakaian ganti," jelas Lorenzo.

Dalam perjalanan, dia sesekali bertemu dengan penduduk setempat, yang memberinya makanan atau minuman, dan bahkan memintanya untuk tidak melanjutkan perjalanan karena khawatir dengan udara yang terlalu dingin.

"Di Rusia, saya selalu menemukan orang-orang yang sangat baik dan ramah. Mulai dari sopir truk yang menawari saya kopi hingga pengendara mobil yang menepi untuk memberi saya sekantong coklat atau roti. Suatu hari, ada seorang pria yang menjamu saya dan pada akhirnya meminta saya untuk tidak melanjutkan perjalanan karena menurutnya suhu saat itu terlalu dingin. Saat itu pertengahan Januari dan suhunya minus 45 °C. Namun, saya berkata kepadanya, terlalu lama untuk menunggu sampai musim semi untuk melanjutkan perjalanan saya," akunya.

Untuk mengatasi kendala bahasa, Lorenzo menggunakan bahasa tubuh dan kamus digital luring.

"Saya memiliki aplikasi penerjemah luring. Meski terjemahannya tidak sempurna, itu membantu saya dalam berkomunikasi," ujar Lorenzo.

Saat tersulitnya adalah ketika dia menyadari bahwa masker wajah yang pernah digunakannya dalam perjalanannya sebelumnya ke Lapland, Finlandia, yang bersuhu minus 30 °C, tidak mampu menahan dinginnya Siberia.

"Hidung saya mengalami radang dingin sehingga benar-benar kehilangan kepekaannya. Saya bisa saja menancapkan paku ke dalamnya dan tidak akan merasakan apa-apa," terangnya.

Berkat kecerdasan dan imajinasi yang telah membantunya dalam semua perjalanannya (dia telah mengunjungi 43 negara dalam waktu tiga tahun), masalah itu pun berhasil diatasinya.

"Saya memodifikasi masker itu sehingga dapat digunakan pada suhu di bawah minus 50 °C tanpa kabut dan pembekuan. Detail seperti ini telah mengubah hidup saya," tulis Lorenzo dalam blognya sambil memamerkan masker hasil modifikasinya.

Pada pertengahan Maret, Lorenzo menulis, suhu turun menjadi minus 25 ° C pada malam hari sehingga dia harus berpacu dengan waktu agar bisa menyebrangi sungai beku.

"Saya memiliki waktu sekitar sebulan untuk mencapai Yuruyung Khaya sebelum sungai beku yang harus saya seberangi tidak lagi aman untuk dilewati," tulisnya.

Ia juga menulis, orang-orang yang dijumpainya kerap mengingatkan tentang ancaman berbagai binatang buas, seperti kehadiran serigala setelah perjalanan melewati Kota Mirny dan beruang yang bangun dari tidur musim dingin pada akhir Maret. Yakutia sendiri memang merupakan kawasan liar. Pada malam hari, Lorenzo memasang tali dengan bendera merah di sekeliling tendanya untuk mengusir serigala.

🇮🇹 Queste notti fisso sempre questo cordino con le bandierine rosse attorno alla tenda per diminuire la possibilità di...

Posted by Lorenzo Barone on Wednesday, March 31, 2021

"Hari ini saya menyelesaikan perjalanan sejauh 414 kilometer tanpa melewati desa berpenghuni dan kini saya telah sampai di Udachny," tulis Lorenzo pada 27 Maret.

"Ketika saya melewati sebuah desa kosong dengan bangunan Soviet yang terbengkalai, terdengar suara seorang lelaki memanggil saya. Mula-mula saya tidak dapat melihat sosok yang menjadi sumber suara itu, tetapi akhirnya dia mendatangi saya dan menjelaskan bahwa disana terdapat sebuah perusahaan gas tempatnya bekerja bersama para pekerja lainnya, serta menawarkan saya untuk tidur di sana. Dalam lima hari terakhir, hanya kesunyian yang menemani saya. Secara total, saya telah menempuh perjalanan sejauh 1.759 kilometer dan masih harus menyelesaikan seribu kilometer lagi. Namun, seperti yang telah saya sampaikan, bagian tersulit baru saja dimulai," tambahnya.

Meski petualangannya memang terbilang ekstrem, Lorenzo menolak dikatakan sebagai penjelajah ekstrem.

"Saya bukan penjelajah ekstrem. Ketika saya ingin melakukan sesuatu, saya akan melakukannya begitu saja atau setidaknya mencoba melakukannya," jawabnya.

Sedingin apa cuaca yang bisa membuat orang Rusia menggigil?

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki