Perjalanan ke Dunia Baru: Bagaimana Soviet Menjamu Turis Asing?

Turis Jepang berfoto berlatarkan kapal pesiar Avrora, Leningrad, 1968.

Rudolf Kucherov/Sputnik
Bagaimana turis asing bisa melewati Tirai Besi dan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk menyaksikan langsung kehidupan sosialis Soviet?

Meskipun Uni Soviet agak tertutup bagi orang luar, kesempatan untuk mengunjungi Negeri Tirai Besi tetap terbuka. Perjalanan semacam itu adalah sebuah kemewahan yang mahal bagi banyak orang asing. Namun, perjalanan itu akan memberi mereka pengalaman seumur hidup.

Bukan sekedar perjalanan, melainkan perjalanan ke dunia baru

Poster Intourist

Segera setelah Soviet didirikan, pemerintah mulai berpikir tentang bagaimana menarik wisatawan asing karena perekonomian negara ini sangat membutuhkan mata uang asing. Pada 1929, perusahaan saham patungan negara Intourist diciptakan dan diberi hak memonopoli penjualan tur ke Soviet. Salah satu slogannya adalah: "Ini bukan sekedar perjalanan, melainkan perjalanan ke dunia baru," yang sukses menarik minat turis asing.

Poster Intourist, 1930.

Beberapa orang asing pertama yang mengunjungi Soviet adalah penulis terkenal, seniman dan tokoh publik lainnya. Theodore Dreiser datang pada 1927, Bernard Shaw pada 1932 dan penulis Prancis pemenang Hadiah Nobel Romain Rolland pada 1935.

Bernard Shaw di Moscow, 1931.

Pada 1930-an, Intourist membuka kantor di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat. Sebelum dimulainya Perang Dunia II, sekitar 129.000 turis asing mengunjungi Soviet. Mereka ditawari rencana perjalanan yang berbeda di seluruh negeri, dari Moskow ke Timur Jauh Rusia. Turis-turis terpikat oleh poster-poster buatan ilustrator terbaik Soviet.

Selain Moskow dan Leningrad, tempat-tempat wisata utama lainnya termasuk Krimea, kapal pesiar Volga, dan perjalanan darat di seluruh negeri.

Aliran wisatawan ke Soviet dimulai kembali setelah perang, dan pada 1950-an, negara ini memasuki periode "pencairan" politik. Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mulai bepergian ke seluruh dunia, dan Soviet mulai menjadi tuan rumah acara internasional seperti festival pemuda dan pelajar dunia. Secara total, lebih dari 70 juta wisatawan dari 162 negara mengunjungi Soviet antara tahun 1956 dan 1985.

Turis Amerika di Lapangan Merah, Moskow, 1972.

Namun pada saat yang sama, orang asing tidak dapat berkeliaran sendirian. Negara ini hanya dapat dieksplorasi di bawah pengawasan seorang pemandu atau penerjemah Intourist. Setiap rencana pribadi harus ditinggalkan, dan wisatawan asing hanya ditunjukkan pencapaian ekonomi dan gaya hidup Soviet yang sempurna secara ideologis.

Turis Austria di Lapangan Manezhnaya, 1963.

Penulis fiksi ilmiah Robert Heinlein dan istrinya Virginia mengunjungi Uni Soviet dengan kelompok Intourist pada 1959-1960. Setelah itu dia menulis tentang kontrol menyeluruh yang dilakukan oleh para pemandu pada kelompok mereka, nilai tukar yang terlalu tinggi (4 rubel per satu dolar) dan kesenjangan mencolok antara layanan pelanggan di AS dan Soviet.

"Jujur saja, saya tidak bisa mengharap sesuatu yang berbau kelas ‘mewah’  karena bahkan yang terbaik di Rusia seringkali sangat buruk menurut standar kita — kamar mandi tanpa bak mandi (bahkan hotel juga tanpa bak mandi), bak tanpa air panas, pipa yang 'aneh' atau lebih buruk, keahlian memasak yang buruk, peralatan kotor, aktivitas menunggu yang menjengkelkan," tulis Heinlein dalam sebuah artikel berjudul Inside Intourist .

Toko suvenir 'Berezka' di Hotel Intourist, 1983.

Istri Heinlein bahkan belajar bahasa Rusia untuk mempersiapkan perjalanannya, tetapi itu tak berguna karena mereka adalah "tahanan Intourist, hanya melihat apa yang mereka ingin Anda lihat, hanya mendengar apa yang mereka ingin Anda dengar." Heinlein menghitung, bagi Orang Amerika biasa, perjalanan untuk melihat langsung kehidupan sosialis Soviet sangat mahal — sekitar 4.500 dolar AS per bulan.

Turis Prancis mencoba es krim Moskow, 1976.

Seorang pemandu harus berpengalaman secara politik

Memilih orang yang tepat untuk bekerja pada Intourist bukanlah tugas yang mudah. Para pemandu harus memiliki gelar sarjana di bidang linguistik dan berbicara beberapa bahasa. Selain itu, mereka juga harus tahu apa yang bisa dan tidak bisa mereka bicarakan. Sebagian besar dari peran ini adalah mampu menunjukkan pencapaian sistem Soviet secara kompeten.

Turis Jepang saat perjalanan ke Danau Baikal, 1980.

Seorang mantan pemandu Intourist yang bekerja pada 1970 hingga 1080-an mengatakan secara anonim kepada media Rusia bahwa ada kasus-kasus ketika orang asing muda akan menjual barang-barang Barat kepada warga negara Soviet dan kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan uang rubelnya.

“Suatu kali, dalam perjalanan di kereta Trans-Siberia, sekelompok siswa dari AS bertemu sekelompok pemuda yang tengah menjalani wajib militer dan bertukar pakaian dengan mereka. Perwira malang yang bertanggung jawab atas wajib militer berlari naik turun kereta mencari seorang penerjemah untuk menukar kembali pakaian yang telah ditukar, dan kemudian mengunci tentaranya di kompartemen sehingga mereka tidak bisa lagi berkomunikasi dengan para wisatawan. "

Turis asing mengunjungi museum arsitektur kayu di Kizhi, 1972.

Apa saja yang ditunjukkan ke turis?

Sebagai aturan, perjalanan turis asing ke Uni Soviet dimulai di Moskow atau Leningrad, yang memiliki bandara terbesar di negara itu. Sisanya tergantung pada jenis perjalanan yang telah mereka pilih.

Turis Inggris berfoto berlatarkan hotel Intourist di Moskow pada 1976.

Di musim panas, resor Laut Hitam adalah tujuan populer. Menurut kantor berita TASS, Krimea menerima sekitar 4 juta wisatawan, termasuk 30.600 turis asing dari 40 negara pada 1968. Jumlah pengunjung asing terbesar (8.200 orang) berasal dari Jerman Barat, diikuti oleh Jerman Timur (4.400), Cekoslowakia ( 3.500), Italia (3.100), dan Amerika Serikat (2.800). Dua pertiga dari turis asing tiba dengan kapal pesiar.

Grup turis dari Jerman Timur di Alupka, Krimes, 1977.

Jika wisatawan asing mengunjungi Soviet pada Mei atau November, mereka selalu dibawa ke demonstrasi pada 1 Mei atau 7 November.

Turis asing saat menghadiri demonstrasi 1 Mei di Lapangan Merah, 1970.

Pejuang muda di garis depan ideologis

Pelajar dan pemuda yang bekerja, terutama dari negara-negara sosialis (Jerman Timur, Cekoslowakia, Yugoslavia, Kuba), dibuat untuk satu kategori turis terkenal. Pada 1959, sebuah kamp internasional bernama Sputnik dibuka di Gurzuf (Krimea) di mana orang asing dan warga negara Soviet berusia 18 – 35 dapat menghabiskan liburan mereka. Pada akhir 1970-an, 180.000 wisatawan, termasuk 70.000 orang asing, telah mengunjungi kamp tersebut.

Pemuda dari Leipzig, Jerman, saat berada di kamp pemuda Sputnik.

Kamp-kamp seperti ini mengadakan banyak acara menarik, mulai dari pertemuan dengan atlet Soviet hingga diskusi tentang topik global seperti perlucutan senjata. Mereka juga menyelenggarakan hari-hari nasional dan selalu menggelar apa yang disebut "api unggun perdamaian." Secara umum, fokusnya selalu pada persahabatan antara berbagai negara dan masyarakat, serta tentu saja, ada tamasya, pendakian, dan berbagai kompetisi olahraga.

Delegasi pemuda Kuba pada kamp internasional Sputnik.

Tidak mengherankan, tempat-tempat di Sputnik dialokasikan hanya bagi pelajar dan pekerja berkinerja terbaik yang “cocok secara ideologis”. Namun, administrasi kamp mencatat dalam laporan mereka, pada akhirnya para wisatawan sama saja "menunjukkan sikap apatis terhadap politik, kecenderungan komunikasi informal dengan orang asing, menghabiskan seluruh waktu mereka di pantai dan menikmati gaya hidup yang hilang."

Ski air, kegiatan rekreasi yang populer di  kamp internasional Sputnik di Gurzuf, Krimea.

Saat melihat sekumpulan turis asing, Anda mungkin bisa menebak bahwa yang gemar berpesta minuman keras adalah orang Inggris, sementara yang menguasai kursi-kursi malas di pantai adalah orang Jerman. Bagaimana dengan orang Rusia? Inilah beberapa kebiasaan turis Rusia yang paling mudah dikenali di luar negeri.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki