TOS-2 Tosochka, Sistem Pelontar Api Terbaru Rusia

Vitaly V. Kuzmin/vitalykuzmin.net
Senjata ini akan digunakan untuk membasmi teroris yang bersembunyi di gua dan terowongan yang sulit dijangkau tanpa risiko kehilangan prajurit.

Tentara Rusia telah memulai uji coba militer sistem pelontar api berat TOS-2 Tosochka terbaru. Senjata tersebut menembakkan proyektil thermobaric yang menggunakan oksigen dari udara sekelilingnya untuk menghasilkan ledakan suhu tinggi. Senjata ini dirancang untuk membakar dan menghancurkan bangunan serta melumpuhkan kendaraan lapis baja ringan.

“TOS-2 bekerja sebagai berikut: Ia meluncurkan roket dengan proyektil thermobaric yang ketika membentur tanah mengeluarkan awan dengan kandungan zat yang mudah terbakar, yang meledak seperti bola api dalam film atau video permainan,” kata seorang narasumber di kompleks industri militer Rusia yang tak ingin disebutkan namanya kepada Russia Beyond.

Menurutnya, Rusia telah secara aktif mengerahkan sistem pelontar api berat generasi sebelumnya di Suriah untuk memaksa kelompok militan keluar dari gua dan terowongan tempat persembunyian mereka. “Gas menembus tempat-tempat yang paling sulit dijangkau. Senjata tersebut terbukti sangat efektif dalam konflik di Timur Tengah. Terlebih lagi, proyektil thermobaric tidak termasuk dalam Konvensi Senjata Kimia PBB.”

Apa yang Membedakan TOS-2 dengan Pendahulunya?

TOS-2 adalah pengembangan lebih lanjut sistem pelontar api berat yang digunakan Tentara Rusia dan dipasok ke mitra-mitra Moskow di luar negeri. Model sebelumnya termasuk TOS-1 Buratino dan TOS-1A Solntsepek.

Perbedaan utama antara TOS-2 dan sistem generasi sebelumnya terletak pada sasisnya yang beroda alih-alih dengan roda rantai T-72. Dengan demikian, kemampuan manuver dan mobilitas kendaraan meningkat, sementara biaya produksi berkurang.

“Solusi ini memungkinkan kita melakukan taktik tabrak lari — melancarkan serangan kilat terhadap musuh lalu kabur secepat mungkin,” kata Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer Rusia kepada Russia Beyond.

Menurutnya, mobilitas kendaraan dengan roda rantai amat lambat dan berat sekalipun lebih terlindungi. Karena itu, sistem TOS generasi sebelumnya akan digunakan di garis depan, sedangkan TOS-2 dikerahkan untuk melakukan serangan mendadak.

Spesifikasi taktis dan teknis senjata ini masih dirahasiakan hingga akhir pengujian pada 2021. Meski begitu, Kozyulin percaya bahwa pihak pengembang akan menciptakan proyektil berpresisi tinggi terbaru untuk menggantikan amunisi yang sudah ada.

“Para insinyur selalu mengikuti prinsip klasik ‘lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat’. Amunisi baru telah dikembangkan untuk TOS generasi kedua. Amunisi itu harus menunjukkan kemampuannya dalam beberapa bulan mendatang, begitu pula dengan sistem perlindungan elektroniknya untuk menyembunyikan kendaraan tersebut dari musuh,” tambah sang analis.

TOS-1A generasi sebelumnya memiliki fitur peluncur roket ganda 18 laras. Karena itu, di samping sistem kendali penembakan otomatis modern, model terbaru dengan proyektil thermobaric kemungkinan akan memiliki jumlah peluncur yang sama.

“Perbedaan lain antara TOS-2 dan pendahulunya adalah sistem pengisian ulang amunisi. Sebelumnya, kendaraan dilengkapi dengan transloader, tetapi kini Tosochka dilengkapi dengan crane pemuat untuk menangani tugas ini,” kata Kozyulin.

Para ahli yang diwawancarai Russia Beyond setuju bahwa TOS-2 juga akan berfungsi sebagai kendaraan pendukung untuk pasukan proteksi radiasi dan kimia. “Kendaraan itu tidak akan menggantikan sistem sebelumnya karena ia memiliki fungsi yang sangat berbeda lantaran sasis yang berbeda pula. Tosochka akan memperluas jajaran sistem pelontar api berat dan menjadi satu lagi senjata yang dapat bermanuver di medan perang,” tambah sang profesor.

Sebentar lagi, langit Rusia akan dilindungi oleh sistem pertahanan udara S-500 Prometheus yang dikembangkan oleh VKO Almaz-Antey.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki