Tiga Kereta Api Tempur Paling Berbahaya Milik Rusia

Kereta lapis baja "Hunhuz", Kiev, 1 September 1915.

Kereta lapis baja "Hunhuz", Kiev, 1 September 1915.

Domain Publik
Kereta-kereta ini pernah menjadi salah satu senjata paling mengesankan milik tentara Rusia yang dilengkapi teknologi terbaru dari meriam gunung hingga rudal nuklir balistik antarbenua.

Sejak awal abad lalu, tentara Rusia telah menggunakan kereta api dalam operasi tempur di garis depan. 

Kereta dengan Rudal Nuklir “BZHRK”

Sistem rudal kereta api tempur BZHRK Molodets (pendahulu Barguzin) ditampilkan pada pameran di Museum Kereta Api Rusia, Sankt Peterburg.

Kereta api dengan meriam yang paling tangguh adalah Barguzin BZHRK, sistem rudal jalur kereta api yang dilengkapi rudal balistik antarbenua RS-22. Kereta ini dapat beroperasi dari ujung Rusia wilayah Asia hingga ke ujung Rusia wilayah Eropa dengan senjata yang siap menyerang musuh kapan saja. 

Faktanya, kemampuan untuk terus-menerus mengubah lokasi senjata nuklir telah menjadi fitur utama BZHRK, karena Rusia menempati urutan ketiga di dunia dalam hal panjang rel kereta api (lebih dari 120.000 kilometer). BZHRK telah beroperasi di Uni Soviet sejak akhir 80-an dan praktis sulit dipahami oleh satelit musuh. 

Meski demikian, senjata sekuat itu pun tetap memiliki kekurangan. 

Rudal RT-23 dipindahkan dari dari kereta BZHRK (kiri) dan tampilan kereta BZHRK Molodets.

“Kereta rudal itu sangat berat. Satu rudal saja beratnya lebih dari 110 ton sehingg kereta itu harus ditarik oleh tiga lokomotif diesel dan setiap bantalan rel harus diperkuat. Hal itu membuat kesal pejabat Kementerian Kereta Api,” ujar Viktor Litovkin, pensiunan kolonel dan analis militer dari kantor berita TASS kepada Russia Beyond. 

Kereta BZHRK Molodetsdengan rudal nuklir antarbernua RT-23.

Menurutnya, kereta dengan RS-22 melakukan perjalanan di seluruh negeri dari 1984 hingga 1994. Setelah itu, operasional kereta itu pun terpaksa dihentikan berdasarkan kesepakatan pengurangan senjata nuklir. Berdasarkan perjanjian itu, Rusia dan Amerika Serikat hanya boleh memiliki 700 senjata nuklik (kapal selam nuklir, pesawat pengebom strategis, dan rudal balistik antarbenua) dan 100 lainnya di gudang persenjataan. Pada saat yang sama, jumlah hulu ledak nuklir pun dibatasi hingga 1.550 unit. 

Pada 2013, Rusia memiliki rencana untuk menghapus sebagian dari sistem rudalnya dari tugas tempur untuk mengembalikan generasi baru BZHRK Barguzin ke rel. Pada Desember 2014, Kementerian Pertahanan telah memutuskan sebuah rudal untuk sistem tersebut, yaitu RS-24 Yars. Rudal itu dinilai cukup cocok dengan gerbong barang biasa, yang memungkinkan untuk menyamarkan BZHRK  sebagai kereta sipil. 

Namun, akibat krisis ekonomi pada pertengahan 2010-an pemerintah Rusia membatalkan proyek tersebut dan mengalihkan pendanaannya kepada pembangunan rudal berbasis silo Avangard.

Hunghuz

Kereta lapis baja

Selama Perang Dunia Pertama, Kekaisaran Rusia dipersenjatai dengan empat kereta jenis Hunghuz. 

Masing-masing kereta terdiri dari lokomotif uap seri-O dan dua platform biaksial (dua sumbu). Hunghuz menampung 12 senapan mesin Schwarzlose delapan milimeter Austria dan sebuah menara dengan meriam gunung 76,2 milimeter model 1904. Lembaran baja setebal 1,2-1,6 sentimeter yang digunakan pada gerbong kereta sudah lebih dari cukup untuk melindungi 94 orang awak dari tembakan senjata ringan. 

Tentara Rusia secara aktif menggunakan kereta api ini selama pertempuran di garis depan hingga keluar dari Perang Dunia Pertama pada 1918.

Zheleznyakov 

Awak meriam antipesawat

Kereta tempur paling terkenal dari Perang Patriotik Raya (1941 – 1945) ini mengambil bagian dalam pertempuran Sevastopol. 

Kereta yang dinamai "Zheleznyakov" ini merupakan monster lapis baja yang dipersenjatai dengan lima meriam 76 mm, dua mortir 82 mm, empat belas senapan mesin Maksim 7,62 mm, dan dua DShK antipesawat 12,7 mm yang ditempatkan di empat platform. 

Tubuh monster ini dilapisi dengan pelat baja berukuran 30 mm, dan terlepas dari semua beratnya, ia bisa melaju hingga 50 kilometer per jam. 

Tentara Jerman menjulukinya "hantu hijau" karena kereta itu muncul seolah-olah entah dari mana, menghantam benteng musuh, dan menghilang dari pandangan. Kereta api itu bersembunyi di terowongan dan di ceruk sempit pegunungan. Suatu ketika, Jerman berhasil melacak lokasi kereta dan mengirim pesawat untuk merobohkan terowongan tempat kereta dan tentara Soviet bersembunyi. 

Mengapa para 'Samurai Rusia' memihak Jepang pada Perang Dunia II? Ini alasannya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki