Futlyar, Torpedo Masa Depan Kapal Selam Nuklir Rusia

Andrey Luzik/TASS
Kapal selam multiguna kelas Yasen dan Borey akan dipersenjatai torpedo jarak jauh dan tercepat di dunia. Senjata itu kelak mengukuhkan kapal-kapal selam ini sebagai monster bawah laut sungguhan.

Pada awal Maret, Rusia telah menyelesaikan prototipe torpedo masa depan untuk kapal selam bertenaga nuklir kelas Yasen dan Borey yang baru. Demikian informasi tersebut diungkapkan Boris Obnosov, kepala Perusahaan Senjata Rudal Taktis (KTRV), sebuah perusahaan pertahanan milik negara.

Pengembangan ini merupakan bagian dari program modernisasi persenjataan militer sampai 2022 dan dijadwalkan mulai digunakan dalam dua tahun berikutnya (bertepatan dengan masa “purnabakti” persenjataan generasi sebelumnya).

Torpedo apa yang dimiliki kapal selam Rusia saat ini?

Saat ini, kapal selam Rusia dipersenjatai torpedo Shkval yang dibuat pada akhir abad ke-20.

Rudal ini mampu melesat di bawah air dengan kecepatan hingga 375 km/jam. Sementara, laju kapal berkecepatan tinggi paling modern yang mengarungi lautan tak lebih dari 60 km/jam.

Pada dasarnya, tak ada kapal yang bisa menghindari Shkval. Rudal itu itu hanya dapat dicegat oleh senjata antimisil.

“Kecepatan tinggi justru menjadi kelemahan Shkval. Senjata bawah laut tercepat di dunia itu sangat bising sehingga sangat mudah terdeteksi sistem akustik kapal dan kapal selam, yang digunakan para pelaut untuk menentukan target musuh jauh di bawah air,” kata Vadim Kozyulin, seorang profesor di Akademi Ilmu Militer Rusia, kepada Russia Beyond.

Menurutnya, para insinyur terlalu fokus menciptakan torpedo tercepat di dunia sehingga mereka mengabaikan faktor-faktor lain.

“Dalam pertempuran bawah air, senjata paling efektif adalah senjata yang tidak dapat dideteksi oleh sistem akustik kapal selam musuh. Semakin tenang peluncuran dan pengoperasian mesin suatu senjata, semakin tinggi pula peluangnya mengenai musuh,” tambahnya.

Kozyulin menjelaskan, peluncuran Shkval sangat bising sehingga mengguncang kapal selam dan bisa didengar sejauh beberapa kilometer. Oleh karena itu, ia harus diganti dengan senjata yang lebih efektif dan modern.

Torpedo apa yang akan menjadi senjata masa depan kapal selam Rusia?

Nantinya, Shkval akan digantikan oleh sistem torpedo Futlyar.

Menurut pihak pengembang, rudal bawah laut ini lebih cepat, mampu menempuh jarak yang lebih jauh, dan, yang paling penting, lebih senyap.

Dari luar, torpedo baru itu menyerupai tabung hijau sepanjang tujuh meter dengan moncong pipih (tak berbeda dengan bomber Su-34, yang dijuluki platipus karena bentuknya “paruhnya”). Selain itu, ia dilengkapi dengan sirip ekor untuk bermanuver di bawah air.

Salah satu perbedaan utama Futlyar dibandingkan pendahulunya adalah “jantungnya”, atau lebih tepatnya, mesin piston aksialnya.

“Para ilmuwan telah berhasil mengurangi kebisingan torpedo secara signifikan dengan mengembangkan kembali konsep mesin torpedo bawah air dan gerakan pistonnya yang terhubung pada poros,” kata Kapten Cadangan Angkatan Laut Tingkat III Dmitry Litovkin kepada Russia Beyond.

Dari pernyataan militer Rusia, Futlyar akan mampu menghantam kapal dan kapal selam musuh pada jarak 60 km. Kali ini, torpedo akan meluncur melalui air menuju target dengan kecepatan lebih dari 65 knot (hampir 120 km/jam).

“Radius serangan Futlyar lebih unggul daripada torpedo AS paling modern, Mk48 Mod 7 Spiral,” tambah Litovkin.

Dia juga mengklarifikasi bahwa Futlyar ditujukan untuk kapal selam tipe Yasen (Proyek 885) dan tipe Borey (Proyek 955). Masing-masing kapal selam itu dilengkapi dengan kompartemen torpedo untuk memuat 30 dan 40 rudal bawah air. Dengan demikian, setiap kapal selam generasi baru akan dilengkapi dengan puluhan torpedo kelas Futlyar.

Demi menciptakan armada laut yang kuat, Uni Soviet berambisi membangun ‘monster-monster laut’. Namun, proyek-proyek ini gagal diproduksi karena berbagai alasan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki