Kedaluwarsa, Satelit Militer Rusia Keluar Orbit dan Terbakar di Atmosfer

MBH Films/Twitter
Satelit militer Rusia keluar dari orbit setelah masa penggunaannya habis dan jatuh di Pasifik Selatan.

Satelit militer Rusia yang merupakan bagian dari sistem peringatan serangan rudal Oko, Kosmos 2430, keluar dari orbit. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan di situs web Satflare, menggunakan data Komando Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara (NORAD).

Satelit tersebut meninggalkan orbitnya pada 5 Januari setelah masa penggunaannya habis. Puing-puingnya terbakar di atmosfer atau jatuh di Pasifik Selatan, tulis portal berita berbahasa Rusia Meduza.

Komando Pasukan Kedirgantaraan Rusia mengatakan, satelit itu memang “direncanakan keluar dari orbit” dan terbakar habis di lapisan atmosfer yang tebal di atas Samudra Atlantik pada ketinggian sekitar seratus kilometer.

Pada hari yang sama, situs The Watchers menyebutkan bahwa puing-puing satelit yang terbakar itu menjadi tontonan spektakuler bagi penduduk Selandia Baru yang kebetulan menyaksikannya.

Satelit itu pertama kali terlihat setelah pukul 20.58 waktu setempat dan sempat telihat selama beberapa menit.

Sejumlah saksi mata mengatakan, mereka melihat cahaya terang yang diikuti suara gemuruh yang keras. Beberapa orang menggambarkannya sebagai bola api yang jejak ekornya membekas di angkasa selama sekitar sepuluh menit.

Satelit Kosmos 2430 melacak peluncuran rudal balistik antarbenua dari wilayah Amerika Serikat. Satelit itu diluncurkan ke ruang angkasa dengan roket Molniya-M pada 23 Oktober 2007 dari Kosmodrom Plesetsk. Pada 2012 – 2014, satelit itu hilang kontak.

Tak diragukan lagi, tempat yang satu ini akan menjadi destinasi paling menarik bagi para penyelam dan petualang sejati. Terletak ribuan kilometer dari peradaban umat manusia, kuburan pesawat antariksa di Samudra Pasifik sayangnya tertutup dari seluruh peta navigasi.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki