Seperti Apa Helikopter Militer Baru Rusia, Mi-38?

Vitaly V. Kuzmin
Ia semiotomatis dan harganya lebih murah daripada kompetitor asing.

Pada awal November, perusahaan Vertolety Rossii pertama kalinya menerbangkan versi untuk penerjun payung dari helikopter multiguna baru Mi-38. Setelah menjalani pengujian, helikopter memasuki produksi seri pada 2018 dan bersiap untuk memasuki pasar penerbangan sipil dan militer.

Mi-38 adalah pengganti Mi-8, helikopter multiguna Soviet yang menjadi helikopter terlaris di dunia, dan akan bersaing dengan para kompetitor perkasa di Eropa dan AS.

Pada 1980-an, para perancang helikopter Rusia sudah berpikir untuk mengganti Mi-8 sebagai helikopter yang paling banyak diproduksi di sana. Namun, perestroika (reformasi Gorbachev), runtuhnya Uni Soviet, dan krisis ekonomi menunda proyek tersebut. Jadi, Mi-38 sudah lama datang.

Apa yang membedakan Mi-38 dengan helikopter lain?

Menurut para perancangnya, helikopter ini memiliki sistem penerbangan paling otomatis di dunia (meski belum sepenuhnya otomatis) dan mampu mengangkut sekitar lima ton kargo menempuh jarak 1,300 km. Sistem kendalinya memungkinkan helikopter untuk terbang dalam mode pilot otomatis, termasuk lepas landas, mendarat, dan terbang di ketinggian yang ditentukan.

Mi-38 bisa dikendalikan dua awak. Kokpitnya sangat nyaman dan punya sistem elektronik terbaru.

Ia telah dilengkapi dengan dua mesin yang masing-masing bertenaga hingga 7,000 hp.

Ini memiliki rotor pengangkat tunggal dengan enam baling-baling yang terhubung ke sistem kontrol hidraulis. Baling-balingnya terbuat dari serat kaca ringan yang sangat kuat.

Berkat semua fitur ini, helikopter Mi-38 baru Rusia dapat mengangkut hingga 30 penumpang. Namun begitu ia tidaklah murah: harganya sekitar 16 juta dolar AS (236 miliar rupiah), meskipun helikopter serupa dari Eropa dan AS biayanya 5 juta dolar AS lebih mahal, misalnya P3 Super AS332 Prancis.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki