Perusahaan Rusia Luncurkan Taksi dengan Kemudi Otomatis, Seperti Apa?

Yandex menggunakan data anonim dari pengguna Yandex Navigator yang membantu untuk mengerti bagaimana mobil dapat melaju di kota yang memiliki lalu lintas, batas kecepatan, jalan-jalan yang ditutup, dan situasi lainnya.

Yandex menggunakan data anonim dari pengguna Yandex Navigator yang membantu untuk mengerti bagaimana mobil dapat melaju di kota yang memiliki lalu lintas, batas kecepatan, jalan-jalan yang ditutup, dan situasi lainnya.

Yandex
Mobil ini dapat melaju di sebuah kawasan industri dengan kecepatan 13 kilometer per jam, menjemput penumpang, serta melewati pejalan kaki dan rintangan.

Yandex, salah satu perusahaan internet terbesar di Rusia, telah memublikasikan prototipe taksi kemudi otomatis terbarunya.

Teknologi yang digunakan untuk prototipe ini dikembangkan sendiri oleh Yandex dengan perlengkapan yang mudah didapatkan. Sebagai contoh, ia menggunakan sistem pemetaan video Nvidia GTX GPU dan LiDAR, sensor kemudi otomatis yang dikembangkan perusahaan AS Velodyne.

 

Perwakilan Velodyne mengatakan bahwa spesialis mereka menggunakan teknologi yang awalnya diciptakan untuk mengembangkan layanan ‘Yandex Maps’ dan ‘Yandex Navigator’.

“Kami menggunakan data anonim dari pengguna Yandex Navigator yang membantu kami mengerti bagaimana mobil dapat melaju di kota yang memiliki lalu lintas, batas kecepatan, jalan-jalan yang ditutup, dan situasi lainnya,” kata Juru Bicara Yandex Taxi Vladimir Isaev.

Mobil kemudi otomatis ini diharapkan dapat bekerja dengan baik dalam kemacetan kota, karena ia dilengkapi dengan algoritme komputer (yang juga ditulis Yandex), kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi instruksi menyetir, dan sistem daya lihat komputer. Fitur yang disebut terakhir telah digunakan untuk mencari tempat parkir gratis dan membaca rambu lalu lintas.

‘Roda Kemudi yang Berotasi’ dan Masalah Lainnya

Saat ini, Yandex sedang mengupayakan level otomatis kelima dari mobil ini — teknologi penyetiran yang sepenuhnya bebas dari kendali tangan manusia. Hingga saat ini belum ada yang bisa melakukannya.

Pada September 2016, Uber merilis beberapa mobil kemudi otomatis di jalanan di Pittsburgh, AS dan awalnya penumpangnya takjub dengan bagaimana mobil ini dapat berjalan tanpa campur tangan manusia, tapi ternyata sistem ini tidak berjalan maksimal di sana. Tampaknya Pittsburgh bukanlah kota terbaik untuk mengaplikasikan teknologi ini: kota di negara bagian Pennsylvania itu memiliki 500 jembatan, tidak ada gedung tinggi di mana pun, Sistem Pemosisi Global di sana tidak akurat, sehingga para karyawan Uber terpaksa memegang kendali mobil.

Pada April 2017, di Phoenix, Arizona, Google mengundang orang-orang untuk ikut mencoba minivan kemudi otomatis yang dikembangkan oleh salah satu anak perusahaan raksasa itu. Namun, mobil itu juga ternyata dioperasikan oleh manusia — departemen yang bertanggung jawab mengatasi situasi-situasi tidak biasa di Google juga tidak tahu apa yang harus dilakukan bila sesuatu yang tak terduga terjadi.

“Kami tidak tahu seperti apa perkembangan mereka (perusahaan teknologi), dan apa yang memebedakan mereka dengan kami. Sepeti yang anda ketahui, tidak ada yang benar-benar membocorkan hal ini. Mereka hanya menunjukkan beberapa gambar, dan tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa ini (mobil kemudi otomatis) bekerja di dunia nyata,” kata Isaev. Menurutnya, Yandex sebenarnya ingin memulai uji coba di jalanan kota dalam setahun ke depan, tapi sulit terjadi karena saat ini hal semacam ini dilarang secara hukum di Rusia. Oleh karena itu, mobilnya masih akan diuji coba dengan pegawai perusahaan yang duduk dan mengendalikan roda kemudi.

Satu-satunya hal aneh yang menimbulkan pertanyaan di video mobil kemudi otomatis Toyota milik Yandex adalah roda kemudi yang terus-menerus berputar. “Roda kemudi yang berputar 90 derajat bukan berarti bannya juga akan berputar 90 derajat. Jika Anda lihat lebih jelas, roda itu tidak hanya berotasi, tapi juga melakukan manuver,” ujar Isaev.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.