Sangat Berisiko: Kenapa AS Tak Mengajak Rusia Ikut Kompetisi Peretasannya?

Keputusan Pentagon untuk tidak mengajak orang Rusia tampaknya berasal dari keengganan AS untuk mempertaruhkan sistem pertahanan negaranya.

Keputusan Pentagon untuk tidak mengajak orang Rusia tampaknya berasal dari keengganan AS untuk mempertaruhkan sistem pertahanan negaranya.

Reuters
Peretas dari Rusia mampu membantu mengidentifikasi kelemahan sistem di Departemen Pertahanan AS, tapi para pakar mengatakan bahwa hal tersebut terlalu berbahaya bagi AS.

Pada 26 April, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan kompetisi berhadiah “Meretas Angkatan Udara”, kompetisi untuk mengidentifikasi kelemahan sistem keamanan yang diadakan khusus untuk spesialis keamanan siber dari AS, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru; namun orang dari Rusia dilarang berpartisipasi. Keputusan Pentagon untuk tidak mengajak orang Rusia itu tampaknya berasal dari keengganan AS untuk mempertaruhkan sistem pertahanan negaranya.

Hati-hati, Orang Rusia

“Sistem yang diretas untuk mengidentifikasi kelemahan sistem keamanan itu mungkin sistem yang tidak terhubung ke internet dan tidak diketahui masyarakat,” ujar Oleg Demidov, pakar keamanan siber dari Pusat Penelitian Kebijakan Rusia, wadah pemikir yang berbasis di Moskow.

Kepercayaan merupakan pertimbangan utama Pentagon dalam memilih negara mana saja yang boleh berpartisipasi dalam kompetisi siber itu. AS, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru merupakan negara anggota aliansi Five Eyes, sebuah bentuk kerja sama di bidang intelijen. Rusia bukan bagian dari aliansi itu.

“Rusia tidak akan pernah diundang untuk ikut dalam kompetisi itu karena pejabat militer AS percaya informasi yang dibeberkan mengenai sistem keamanan Pentagon dapat disalahgunakan untuk melawan kepentingan AS,” ujar Demidov.

“Ilmu Rusia”

Beberapa pakar berpendapat bahwa orang-orang Rusia memiliki “ilmu” tersendiri dalam operasi peretasan, dengan beberapa ciri khasnya yaitu penggunaan compact code dan solusi non-standar. “Setiap peretas memiliki kebebasan berpikir — orang Rusia biasanya menggunakan solusi non-standar untuk tugas biasa. Ilmu yang sudah diterapkan sejak era Soviet ini merupakan ciri khas peretas Rusia. Mereka tidak berpikir dengan pola yang konvensional,” ujar Alexei Lukatsky, konsultan keamanan di Cisco Systems, ketika sempat diwawancara RBTH.

Pakar lain meragukan bahwa peretas dari Rusia memiliki komunitas siber tersendiri. “Tidak ada yang namanya kelompok peretas Rusia, tapi ada kelompok global yang terdiri dari kriminal siber yang menggunakan bahasa Rusia. Jadi, mustahil untuk menjelaskan ‘ilmu peretasan Rusia’ berdasarkan satu kriteria saja,” Demidov melanjutkan.

Di saat yang bersamaan, Demidov setuju bahwa ada kriteria yang dapat menunjukkan bahwa seorang peretas berasal dari kelompok berbahasa Rusia: bahasa komunikasi, pola kode tertentu, dan koneksi darknet tertentu yang mengizinkan penggunanya mengakses jaringan teman-ke-teman dengan peranti lunak non-standar, protokol komunikasi, dan lain sebagainya.

Terlepas dari apakah AS akan diuntungkan bila mengundang peretas dari ‘kelompok berbahasa Rusia’, Pentagon pada akhirnya tidak ingin mempertaruhkan sistemnya dan tidak mengundang Rusia.

Susah Dikendalikan

Pakar mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia, berbeda dengan AS, lebih bergantung pada perusahaan keamanan siber swasta dibanding kompetisi peretasan seperti itu untuk mengungkap kelemahan sistem keamanannya. Dalam hal ini, perusahaan swasta menandatangani perjanjian kerahasiaan, sehingga risiko dapat dikurangi.

Kompetisi peretasan yang diadakan Pentagon lebih berisiko karena memberikan kesempatan bagi spesialis keamanan siber di luar perusahaan dan pemerintah, sehingga lebih sulit untuk dikendalikan.

Di saat yang bersamaan, sejumlah perusahaan Amerika beberapa kali mengumumkan kompetisi keamanan siber seperti itu dan mengundang orang Rusia. Pada bulan Januari, Facebook memberikan 40,000 dolar AS kepada seorang peretas Rusia, Andrew Leonov, karena mampu mengidentifikasi kelemahan sistem dan melaporkannya ke situs web yang didirikan Mark Zuckerberg itu.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.