PAK DA: Serang dan Hancurkan Lawan Tanpa Perlu Tinggalkan Markas

PAK DA direncanakan akan menggantikan Tu-160 yang merupakan komponen utama penerbangan militer jarak jauh Rusia saat ini.

PAK DA direncanakan akan menggantikan Tu-160 yang merupakan komponen utama penerbangan militer jarak jauh Rusia saat ini.

AP
Pesawat pengebom PAK DA diproyeksikan akan menjadi tulang punggung kekuatan udara strategis Rusia, tapi itu mungkin baru akan terealisasi sepuluh tahun lagi.

Versi uji coba pertama pesawat pengebom PAK DA akan beroperasi pada awal 2020-an. Pesawat pengebom strategis ini dibangun dengan desain “sayap terbang”, yaitu model pesawat tanpa ekor, sementara badan pesawat (fuselage) menyatu dengan sayapnya.

Pesawat ini diklaim dapat terbang dengan kecepatan subsonik (di bawah kecepatan suara) hingga 1.126 km/jam — jauh lebih lambat dari kecepatan Tu-160 yang merupakan pesawat utama aviasi militer jarak jauh Rusia saat ini. Di masa depan, PAK DA direncanakan akan menggantikan Tu-160.

Lebih Aman, tapi Sulit Dipahami

“Tu-160 diciptakan untuk menerobos sistem pertahanan udara musuh. Keunggulan ini didapat berkat karakteristik supersonik dan aviasinya. Tu-160 dapat terbang di lapisan stratosfer (lapisan kedua atmosfer Bumi yang terbentang hingga ketinggian 50 kilometer) untuk menghindari jet-jet tempur pencegat dan rudal-rudal antipesawat musuh, dan kemudian dengan mudah mengebom wilayah musuh,” kata Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer.

Saat ini, Pasukan Kedirgantaraan Rusia memiliki rudal jelajah superkuat Kh-55 dan Kh-101 yang bisa terbang sejauh 4.800 kilometer. Karena itu, kehadiran bomber jarak jauh tak begitu diperlukan. Kini, pesawat pengebom strategis dapat menjalankan misinya tanpa perlu meninggalkan perbatasan Rusia dan tetap berada di bawah perlindungan kompleks pertahanan udara. Rudal yang terbuat dari bahan siluman penyerap sinyal radio akan ditempatkan di dalam pesawat perang.

“Untuk pertama kalinya, rudal yang tak hanya ditempatkan di dalam pesawat, tapi juga dapat ditembakkan dari sana, telah dibuat untuk jet tempur Sukhoi T-50 (PAK FA). Mereka menerima lokasi sasaran, membidik target, dan meluncur,” tambah Kozyulin, seraya menekankan bahwa ini akan membantu melindungi pesawat dari radar musuh.

Pesawat pengebom Tu-95MS menembakkan rudal jelajah terhadap posisi ISIS di Suriah. Sumber: Kementerian Pertahanan Rusia / YouTube

Para pakar percaya bahwa PAK DA tidak akan membawa lebih banyak amunisi daripada pesawat Tu-160 dan pesawat-pesawat strategis Rusia lainnya (hingga 40 ton amunisi).

“PAK DA dapat dilengkapi baik dengan jenis bom nuklir maupun konvensional, seperti peluru penembus perisai, bom penetrasi, bom tandan, dan lainnya,” kata Direktur Laboratorium Mekanika dan Sistem Energi Internasional di Universitas Teknologi Informasi Pavel Bulat.

Tak Buru-buru

Pengerjaan untuk menciptakan pengebom strategis yang baru dimulai pada 2009. Tupolev Corporation, yang memproduksi pesawat-pesawat militer jarak jauh Rusia, memenangkan kontrak untuk memproduksi PAK DA.

Awalnya, Kementerian Pertahanan Rusia merencanakan untuk memasukkan pesawat tersebut dalam layanan pada 2025, dengan penerbangan uji coba pada 2020. Namun, Kementerian Pertahanan memutuskan untuk menunda pengembangan PAK DA dan melanjutkan kembali modernisasi pesawat pengebom Tu-160.

Misil jelajah dijatuhkan dari atas pesawat pengebom Tu-160. Sumber: Kementerian Pertahanan Rusia / YouTube

“Amerika telah membuat bomber generasi baru selama 20 – 30 tahun. Mengembangkan pesawat ini memang membutuhkan waktu yang lama karena baik mereka (AS) maupun kita tidak memiliki kebutuhan nyata untuk pesawat semacam ini. B-52 lama mereka, sama seperti pesawat Tu-160 kita, mampu memenuhi semua tantangan triad nuklir. Itu sebabnya, tidak ada yang terburu-buru untuk menciptakan bomber strategis baru sampai ada terobosan teknis yang nyata,” kata Bulat menyimpulkan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki