Bapak dari Semua Bom: Bom Non-nuklir Rusia, Pesaing ‘Ibu dari Semua Bom’ AS

Seorang anggota pasukan khusus Afganistan mengarahkan senjatanya sambil mengamati garis musuh di Distrik Achin, Provinsi Nangarhar, Afghanistan timur, 14 April 2017.

Seorang anggota pasukan khusus Afganistan mengarahkan senjatanya sambil mengamati garis musuh di Distrik Achin, Provinsi Nangarhar, Afghanistan timur, 14 April 2017.

Reuters
Belum lama ini, Washington menggunakan ‘Ibu dari Semua Bom’, yang merupakan bom non-nuklir terkuat yang pernah diciptakan di dunia, untuk menyerang target ISIS di Afganistan. Namun, Rusia juga memiliki senjata serupa yang bisa memainkan peran ‘bapak’.

Bom GBU-43 Amerika yang dijuluki sebagai ‘Ibu dari Semua Bom’ (MOAB) digunakan pada Kamis (13/4) lalu untuk menyerang target ISIS di Afganistan. Kekuatan bom yang setara dengan sebelas ton TNT itu berhasil menewaskan sedikitnya 36 orang militan, menghancurkan persediaan senjata dan teknologi militer, serta beberapa terowongan bawah tanah rahasia. Presiden Donald Trump menyebut operasi Angkatan Bersenjata AS tersebut sangat sukses.

Serangan minggu lalu itu merupakan penampilan perdana MOAB dalam pertempuran sejak pertama kali dibuat pada 2003.

Empat tahun setelah kelahiran MOAB, Rusia membuat bom tandingan yang ternyata empat kali lebih kuat daripada “sang ibu”. Ia pun memperoleh nama yang tak kalah spektakuler — ‘Bapak dari Semua Bom’ (FOAB). Bom ini diuji pada 11 September 2007, pada peringatan enam tahun tragedi 9/11. Militer Rusia mengatakan bom ini diciptakan untuk memerangi terorisme.

Sumber: Asylum seeker / YouTube

Apa Kelebihan Bom-bom Super ini?

Rusia merespons GBU-43 dengan bom yang dikenal sebagai Thermobaric Air Bomb (TAB). Kekuatan destruktif bom ini sebanding dengan hulu ledak nuklir. Namun, berkat ledakan thermobaric-nya, ledakan yang dihasilkan bom ini tidak akan meninggalkan awan radioaktif.

Kekuatan destruktif bom ini sebanding dengan hulu ledak nuklir. Sumber: RIA NovostiKekuatan destruktif bom ini sebanding dengan hulu ledak nuklir. Sumber: RIA Novosti

“Meskipun kurang kuat, persenjataan seperti TAB telah banyak digunakan dalam berbagai perang selama 50 tahun terakhir. Amerika menggunakannya untuk membabat hutan-hutan di Vietnam sehingga helikopter mereka dapat mendarat di sana. Sementara, Soviet menggunakannya untuk ‘membersihkan’ Gua Tora Bora di Afganistan, yang menjadi tempat persembunyian para mujahidin,” kata Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer.

Menurut Kozyulin, bom paling kuat yang pernah dibuat di Uni Soviet dan Rusia adalah TAB-1500 dan FAB-9000.

Bom GBU-43/B ditempatkan di sebuah pangkalan udara di Asia Barat Daya, menunggu untuk digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Sumber: ZUMA Press/Global Look PressBom GBU-43/B ditempatkan di sebuah pangkalan udara di Asia Barat Daya, menunggu untuk digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Sumber: ZUMA Press/Global Look Press

‘Bapak dari Semua Bom’

‘Bapak dari Semua Bom’ Rusia memiliki moncong khusus yang menciptakan dampak mematikan. “Aerosol (yang berada di dalam moncong) berubah menjadi campuran zat yang diledakkan oleh sekering. Bom ini menciptakan gelombang luar biasa, yang pada titik ledakan akan membentuk ruang hampa udara. Berkat perubahan tekanan ini, segala objek yang berada di pusat ledakan akan benar-benar meledak dari dalam, baik itu manusia, persenjataan, benteng, maupun struktur pertahanan milik musuh lainnya,” jelas Alexei Ramm, seorang analis dari harian Izvestia.

Menurut majalah The National Interest, bom Rusia empat kali lebih kuat daripada bom Amerika meskipun volumenya lebih kecil. Ledakan bom Rusia setara dengan 40 ton TNT, sedangkan ledakan “sang ibu” sama dengan sebelas ton TNT. Selain itu, jangkauan serangan “sang bapak” 20 kali lebih besar daripada GBU-43. Namun demikian, belum jelas bagaimana nasib bom Rusia di masa depan. Sejak diluncurkan pada 2007, belum ada catatan uji coba ataupun penggunaan senjata ini.

Al Weimorts (kiri), pencipta GBU-43/B, dan Joseph Fellenz, perancang model, mengecek prototipe bom MOAB sebelum masuk ke tahap pengecatan dan pengujian. Sumber: ZUMA Press/Global Look PressAl Weimorts (kiri), pencipta GBU-43/B, dan Joseph Fellenz, sanga perancang model, mengecek prototipe bom MOAB sebelum masuk pada tahap pengecatan dan pengujian. Sumber: ZUMA Press/Global Look Press

Ramm menekankan bahwa PBB mengklasifikasikan bom thermobaric sebagai “sumber peperangan nonmanusia yang menyebabkan penderitaan ekstrem bagi umat manusia”.

“Namun demikian, penggunaan senjata ini belum dilarang oleh konvensi PBB dan belum menjadi bagian dari setiap perjanjian pengurangan senjata. Para ahli Rusia percaya bahwa bom ini dapat tergantikan dengan serangkaian hulu ledak nuklir taktis yang saat ini dimiliki Rusia. AS pun mempertahankan posisi yang sama dengan menaruh perhatian pada hulu ledak nuklir kecil mereka," kata Ramm.

Kombinasi foto yang diambil dari video yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS pada 14 April 2017 menunjukkan (searah jarum jam) ledakan yang dihasilkan MOAB ketika menghantam distrik Achin di bagian timur Provinsi Nangarhar, Afganistan. Sumber: ReutersKombinasi foto yang diambil dari video yang dirilis Departemen Pertahanan AS pada 14 April 2017 menunjukkan (searah jarum jam) ledakan yang dihasilkan MOAB ketika menghantam Distrik Achin di bagian timur Provinsi Nangarhar, Afganistan. Sumber: Reuters

Ramm menyimpulkan, Kongres AS telah memutuskan untuk mempercepat pengembangan dan pembuatan senjata semcam ini. Militer Amerika tidak menyembunyikan fakta bahwa mereka tengah menciptakan senjata ini untuk menyerang objek nuklir di Iran dan Korea Utara.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.