Geser AS, Rusia Bisa Penuhi Kebutuhan Persenjataan Filipina

Presiden Filipina Rodrigo Duterte selama tur di kapal Angkatan Laut Rusia Admiral Tributs yang berlabuh di Filipina pada 6 Januari 2017.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte selama tur di kapal Angkatan Laut Rusia Admiral Tributs yang berlabuh di Filipina pada 6 Januari 2017.

Reuters
Meski tak memiliki kepentingan militer strategis di Filipina, para pakar memprediksi bahwa Rusia kemungkinan akan menjual sejumlah senjata untuk menyokong pasukan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam memberantas para pemberontak dan teroris.

Kunjungan Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Rusia dalam beberapa bulan mendatang mungkin akan mengubah sikap kedua negara yang selama ini cenderung menghindar satu sama lain. Namun, para ahli percaya bahwa kooperasi di bidang pertahanan tetap terbatas sekalipun Moskow dan Manila akhirnya mulai mendiskusikan peluang kerja sama di bidang ini tahun lalu.

Tidak Ada Aliansi Militer

Kendati sambutan hangat Duterte terhadap Moskow, Duta Besar Filipina untuk Rusia Carlos Sorreta mengatakan kepada RBTH bahwa Perjanjian Kerja Sama Militer (DCA) antara kedua negara — yang saat ini sedang dipersiapkan — tidak akan berujung pada terbentuknya aliansi militer.

Ia mengatakan bahwa perjanjian tersebut “berfokus pada kegiatan yang dirancang untuk membangun saling pengertian antara kekuatan kedua negara melalui kunjungan, pertukaran informasi, dan pelatihan”.

Selain DCA, “sejumlah perjanjian terkait pertahanan” juga sedang dipertimbangkan, tambah sang duta besar.

Perjanjian-perjanjian tersebut kemungkinan tidak telalu mendalam, kata Anton Tsvetov, peneliti dari Pusat Penelitian Strategis yang berbasis di Moskow. “Ini karena hubungan bilateral Moskow dan Manila tidak pernah memprioritaskan aspek pertahanan — Filipina dulu beraliansi dengan Amerika Serikat (AS),” ujarnya kepada RBTH.

Ia menambahkan bahwa dokumen perjanjian mungkin berbentuk memorandum, yang hanya meletakkan fondasi kerja sama baru. “Kerja sama kemungkinan mencakup pengawasan pelatihan militer dan pertukaran kunjungan kapal. Perjanjian itu kemungkinan bisa menjadi dasar kerja sama teknis dan kesepakatan pemasokan senjata,” kata Tsvetov.

Standar NATO Bukan Halangan

Ketika ditanya mengenai potensi pembelian senjata dari Rusia, Dubes Sorreta secara diplomatik menjawab, “Filipina sedang mencari perlengkapan militer dari sejumlah negara, termasuk Rusia.”

Ia menambahkan bahwa negaranya sedang mencari “senjata ringan, drone pengawasan, pesawat rotor atau pesawat sayap-putar (rotary-wing aircraft), dan kapal perang.”

Meski Sorreta tidak menjelaskan lebih rinci, daftar ini cukup untuk memulai spekulasi senjata apa yang dapat Moskow tawarkan ke Filipina.

Sementara, fakta bahwa kebanyakan perlengkapan militer Filipina dipasok oleh AS tak perlu dilihat sebagai halangan, ujar Vasily Kashin dari Institut Studi Timur Jauh kepada RBTH.

“Di satu sisi, ada banyak contoh sistem senjata Rusia yang digunakan negara-negara NATO, dan di sisi lain, banyak senjata Filipina yang sudah usang dan tidak modern,” katanya.

Senapan dan Helikopter

Kashin mengatakan bahwa “senjata ringan” yang disebut Sorreta kemungkinan adalah senapan dan senapan mesin.

“Mungkin Filipina ingin memasok sedikit senjata untuk pasukan khusus mereka. Sebagai contoh, senapan runduk kelas berat kaliber 12,7 mm terbaru — Vzlomshik atau Vikhlop, atau yang kedap suara, seperti Vintorez yang biasa digunakan unit antiteror.”

Untuk pesawat rotor, Kashin menyebut “helikopter multifungsi Mi-17 dan helikopter serang Mi-35” dapat membantu upaya Manila mengatasi para pemberontak dan teroris. Kendaraan lapis baja seperti GAZ Tiger dan Sukhoi Su-25 Frogfoot juga dapat digunakan Filipina.

“Dalam beberapa kasus, Filipina tidak butuh senjata terbaru yang mutakhir. Jadi, Rusia dapat menjual perlengkapan militer dari era Soviet yang hanya perlu sedikit pembaruan,” kata Kashin menambahkan.

Tak Ada Tujuan Strategis

Para pakar mengatakan bahwa penjualan senjata akan menguntungkan Kremlin karena mereka tidak punya tujuan strategis untuk menjadikan Filipina sebagai sekutu.

“Jika kemudian Manila mengizinkan Rusia mengunjungi pelabuhan mereka, itu sudah cukup,” kata Direktur Pusat ASEAN di MGIMO Viktor Sumsky. “Ketegangan antara AS dan Filipina bukan urusan Moskow.”