Cegah Ancaman AS, Rusia Berencana Bangun Markas Baru Armada Pasifik

Modernisasi dan persenjataan kembali pulau Kuril telah dijalankan sejak 2010.

Modernisasi dan persenjataan kembali pulau Kuril telah dijalankan sejak 2010.

Yuri Smityuk / TASS
Pengembangan infrastruktur militer di Sakhalin, Kepulauan Kuril, dan zona Arktik akan menjadi prioritas Rusia untuk wilayah timur hingga tahun 2020, demikian disampaikan Kolonel Jenderal Sergei Surovikin, komandan Distrik Militer Timur. Namun menurut pakar militer, Rusia sepertinya tak akan membangun markas militer baru di pulau-pulau tersebut karena tingginya ancaman tsunami di sejumlah pulau.

Kementerian Pertahanan Rusia telah mengirim tim ekspedisi dari Armada Pasifik ke Wilayah Kuril Raya untuk mengeksplorasi kepulauan tersebut. Ekspedisi kepulauan tersebut, yang melibatkan enam kapal Armada Pasifik, dipimpin kapal raksasa Laksamana Nevelskoy. Lebih dari 200 orang bergabung dalam operasi tersebut.

Menurut komandan Distrik Militer Timur, Kolonel Jenderal Sergei Surovikin, pemerintah mengambil langkah yang luar biasa untuk memastikan keamanan dan kedaulatan wilayah tersebut. Secara khusus, Kementerian Pertahanan ditugaskan untuk membangun infrastruktur militer di Sakhalin, Kepulauan Kuril, dan wilayah Arktik hingga 2020.

Menurut Surovikin, unit-unit militer di sana tengah dipersenjatai dengan peralatan modern, begitu pula upaya untuk meningkatkan perlindungan sosial bagi semua kategori personel militer dan keluarganya.

Kesalahan dalam Pengembangan Kepulauan Kuril

Menurut analis militer dari harian Izvestiya Dmitry Safonov, wilayah tersebut memiliki banyak nuansa, yang membatasi kemampuan angkatan bersenjata Rusia.

“Kami belajar dari sejarah. Kementerian pertahanan pernah membangun markas pertahanan udara di Pulau Shumshu, dan setelah beberapa tahun markas tersebut tersapu bersih oleh tsunami,” kata Safonov. “Kita harus paham fitur geografis wilayah ini dan menyadari bahwa tak semua pulau cocok untuk menempatkan unit militer, apalagi membangun shelter dan tinggal di dalamnya.”

Menurut sang pakar, Uni Soviet membuat sejumlah kesalahan dalam pembangunan awal kepulauan tersebut. “Awalnya, semua orang tertawa ketika melihat jalanan pulau ditutup oleh kawat harmonika — mereka membersihkan kawat tersebut dan menutupnya dengan beton, kemudian membangun rumah di sisi jalan. Saat musim gugur datang, jalanan tersebut terendam air. Barulah disadari bahwa orang Jepang lebih pandai dari kami: jala bertujuan menahan lumpur di musim hujan, dan itu satu-satunya jalan untuk menyusuri jalan tersebut, selain ‘berenang’ menyeberangi pulau.”

Menurut Safonov, rumah-rumah tersebut hancur menjadi puing akibat tekanan angin timur jauh dan hujan hanya dalam satu musim. Dan tiap tahun, uang dalam jumlah besar harus digelontorkan untuk pembangunan kembali seluruh infrastruktur.

“Berapa tahun pemerintah Soviet tak membangun apa pun di sana? Mengapa mereka hanya tinggal di Kunashir dan Iturup? Mungkin itu menunjukkan bahwa ahli geologi dan geografi Soviet memahami situasi tersebut.”

Safanov berpendapat, angkatan bersenjata Rusia tengah mencari area untuk dijadikan markas baru Armada Pasifik atau titik penyebaran bagi pasukan. Secara khusus, komando Distrik Militer Timur mencari opsi baru bagi markas pertahanan udara dan unit misil pesisir.

Namun, Rusia tak akan menempatkan unit militer di pulau-pulau baru.

Senjata untuk Kepulauan Kuril

Modernisasi dan persenjataan kembali pulau Kuril telah dijalankan sejak 2010. Keamanan di wilayah tersebut masih bergantung pada divisi senapan mesin dan artileri, yang merupakan bagian dari Distrik Militer Timur. Selama beberapa tahun, jumlah mereka terus meningkat dan kini batalion tank yang dipersenjatai oleh T-80BV dimasukkan ke dalam divisi tersebut.

Menurut Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, misil Bal dan Bastion akan ditempatkan di sana pada 2016, begitu pula pesawat tanpa awak generasi terbaru Eleron-3. Selain itu, sistem misil antipesawat Tor-M2U juga ditempatkan di kepulauan Kuril tahun lalu.

Saat ini, Kepulauan Kuril menampung divisi senapan mesin dan artileri ke-18, yang terdiri dari 3.500 tentara (di masa damai).Markas ini dipersenjatai dengan:\tSistem anti-pesawat otomatis ZSU-23-4 Shilka dan ZU-23-2;\tPeluncur roket BM-21 Grad (akan digantikan oleh Tornado-G);\tSistem artileri Giatsint 152-mm;\tSistem misil anti-pesawat Tor-M2U; dan\tTank T-80BV.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.