Pembinaan Rusia ‘Memperpanas’ Kompetisi Antariksa di Asia

Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.

Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.

EPA
Rusia telah mengirim lebih banyak penduduk Bumi ke luar angkasa dibanding negara adidaya lainnya. Dengan bantuan Rusia, negara-negara Asia meraih pencapaian yang membanggakan di bidang antariksa.

Orang Asia pertama yang terbang ke antariksa ialah Pham Tuan, seorang pilot Angkatan Udara Vietnam. Pada 1 April 1979, ia terbang menggunakan pesawat luar angkasa Soyuz 37 sebagai Kosmonot Riset Intercosmos dan dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet.

Pada 1990, Toyohiro Akiyama menjadi orang Jepang pertama yang terbang ke luar angkasa. Ia dikenal sebagai ‘Jurnalis Antariksa’ di Jepang. India memiliki kosmonot pertamanya pada 1984 ketika pilot angkatan udara Rakesh Sharma meroket ke luar angkasa menggunakan Soyuz. Negara Asia lainnya yang pernah satu kali mengirim warganya ke luar angkasa dengan roket Rusia ialah Mongolia dan Malaysia.

Status Rusia sebagai negara adidaya di bidang antariksa, dengan padatnya jadwal peluncuran roket dan kapabilitas ilmiah yang luar biasa, sepertinya sejalan dengan ambisi negara-negara dari wilayah dinamis yang makmur ini.

Pada era Soviet, Moskow meluncurkan program kerja sama luar angkasa, berkompetisi dengan AS untuk memenangkan hati warga Asia. Sekutu dekat Soviet, seperti Vietnam dan Mongolia, memiliki kosmonot sebelum warga dari negara-negara Eropa terbang ke antariksa menggunakan pesawat ulang-alik Amerika.

Rusia memiliki kerja sama antariksa yang erat dengan negara-negara Asia. Rusia bekerja sama dengan Malaysia dan Jepang dalam program penerbangan antariksa berawak, mendampingi Korea Selatan melakukan instalasi fasilitas peluncuran roket, serta melakukan peluncuran antariksa komersial bagi India, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan.

Sejak 2011, Rusia telah mengoperasikan GLONASS (Global Navigation Satellite System), dengan 24 satelit dan jaringan stasiun darat yang luas, yang memiliki cakupan global, serta mendiskusikan kerja sama penggunaan sistem tersebut dengan Tiongkok, India, dan Indonesia.

Pawai Panjang Tiongkok

Meski Tiongkok tak pernah menumpang roket Rusia, negara ini diuntungkan dengan pembukaan sektor antariksa Rusia. Ketika krisis ekonomi melanda Soviet pada tahun 1990-an, Moskow melelang mahkota permata industri antariksanya. Semua yang ditawarkan, dari pakaian luar angkasa hingga teknologi satelit, dibeli dengan senang hati oleh orang-orang Tiongkok.

Ming-Yen Tsai menulis dalam ‘From Adversaries to Partners? Chinese and Russian Military Cooperation After the Cold War’, “Tiongkok juga membeli unit pesawat pengait berawak dan mesin roket. Selain itu, Tiongkok mendapat pendampingan teknis dari Rusia untuk memproduksi pengangkut kelas berat, yang mampu menempatkan benda seberat 20 ribu kilogram ke orbit rendah Bumi.”

Banjir teknologi Rusia membuat Tiongkok bisa menggapai antariksa dengan pesawat antariksa berawak pada 2003. Sebagai perbandingan, India, yang mencoba mendapatkan teknologi yang sama dari Rusia, tapi digagalkan oleh AS, kini berada setidaknya satu dekade dari penerbangan antariksa berawak.

Kini, baik Rusia dan Tiongkok bekerja sama dalam proyek antariksa. “Melalui kerja sama antariksanya dengan Rusia, Tiongkok mendapatkan pengetahuan yang sangat beharga dari kekuatan antariksa terbaik dunia untuk mempercanggih pengembangan teknologi antariksanya sendiri,” tutur laporan Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS Tiongkok yang diluncurkan pada 2015. “Aktivitas kerja sama di bidang antariksa kelak dapat termasuk pengembangan mesin roket bersama dan stasiun luar angkasa Rusia-Tiongkok.”

“Industri kendaraan peluncur antariksa Tiongok terus berkembang guna mendukung peluncuran satelit cepat dan komersial, serta program luar angkasa berawak,” tutur laporan Kementerian Pertahanan AS dalam laporan ke Kongress. “Mayoritas program misil Tiongkok, termasuk sistem misil balistik dan jelajah, sebanding dengan produsen papan atas internasional.”

Korea Selatan: Lompatan Besar

Korea Selatan dikenal sebagai rumah merek Samsung dan LG. Namun dalam dekade mendatang, negara ini akan memimpin dalam bidang luar angkasa. Seoul bisa berterima kasih pada Moskow yang membantu meningkatkan perjalanan antariksanya.

Ambisi Korea Selatan di bidang antariksa meningkat setelah Korea Utara berupaya meluncurkan satelit dari misil Taepodong I pada 1998. Tiga tahun kemudian, Seoul berupaya memperoleh pesawat antariksa berbahan bakar, tapi gagal mencapai kesepakatan dengan AS karena kontrol ekspor AS.

Astronot Korea Selatan Yi So-yeon bersiap-siap sebelum peluncuran. Sumber: AP Archive/YouTube

Pada 2004, Korea Aerospace Research Institute (KARI) menandatangani kesepakatan dengan Rusia untuk membeli pesawat antariksa berbahan bakar cair Angara yang akan dirakit menjadi Korea Space Launch Vehicle (KSLV) I. Russia sepakat untuk mendampingi KARI dalam mengembangkan dan merancang fasilitas peluncuran antariksa di sebuah pulau di Provinsi Jeolla Selatan. Pusat Antariksa Naro di Goheung seluas seribu are dibangun oleh perusahaan S.P. Korolev Rocket & Space Corporation Energia of Russia.

Moskow juga menyediakan pelatihan dan penerbangan bagi astronot Seoul ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). “Setelah sebuah skandal kecil, termasuk penghapusan manual pelatihan yang tak resmi dari Star City Rusia oleh astronot nomor satu Korea Selatan Ko San, Badan Antariksa Rusia mengeluarkan sang astronot dari program tersebut. Ko San kemudian digantikan oleh astronot perempuan Yi So-yeon, yang menyandang gelar warga negara Korea pertama yang berpetualang ke ruang angkasa.”

Pada 2008, Yi So-yeon terbang menggunakan pesawat luar angkasa Soyuz dengan dua kosmonot Rusia. Mereka menghabiskan sepuluh hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Roket Korea pertama yang sukses, diluncurkan pada 2013, terdiri dua level. Level pertama buatan Rusia dan level kedua buatan Korea Selatan.

Malaysia: Tetap Berpuasa Meski di Luar Angkasa

Penerbangan pertama warga Malaysia ke antariksa menggunakan roket Rusia berlangsung pada 10 Oktober 2007. Ketika Sheikh Muszaphar (36) tiba di Stasiun Luar Angkasa Internasional, sang antariksawan menghabiskan waktu menjalankan instruksi ritual agama harian dari ulama Malaysia. Vyacheslav Urlyapov dari Pusat Kajian Asia Tenggara, Australia, dan Oseania dari Institut Studi Oriental RAS yang berbasis di Moskow merangkum pengalaman sang kosmonot sebagai berikut:

“Penerbangan 11 hari tersebut kebetulan berlangsung saat bulan Ramadan. Beberapa orang Islam sudah pernah terbang ke orbit sebelum Muszhapar, tapi sepertinya hanya Muszaphar yang mendapat instruksi detil dari ulama Islam, untuk tetap menjadi penganut ajaran Islam bahkan di luar angkasa.”

Sheikh Muszaphar. Source: EPASheikh Muszaphar. Sumber: EPA

Tak diketahui apakah kru stasiun luar angkasa Rusia atau bos sang antariksawan Malaysia yang berada di atas sang ulama, tapi misi Muszaphar meninggalkan jejak bagi muslim yang hendak menjadi penjelajah antariksa di masa depan. “Penerbangan Muszaphar menyorot tantangan bahwa umat Islam tetap harus mempraktikkan agama mereka di luar angkasa,” tulis Robert Harding dalam ‘Space Policy in Developing Countries: The Search for Security and Development on the Final Frontier’.

“Dalam laporan ‘Guidelines for Performing Islamic Rites at the International Space Station’ yang dipublikasikan oleh pemerintah Malaysia, disebutkan bahwa tiap muslim harus mencari cara terbaik yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dalam menjalankan ajaran agama di luar angkasa.”

Sebelumnya, pada September 2000, Rusia membantu menempatkan sebuah satelit mini penginderaan Bumi milik Malaysia ke orbit. Pada tahun itu, kebakaran melanda Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dalam interval rutin dan menciptakan bencana bagi Asia Tenggara.

Asap menyelimuti area Malaysia untuk periode yang cukup panjang. Data yang dikumpulkan dari satelit membantu memperkirakan skala bencana alam dan cara untuk mengatasinya.

Kerja sama di bidang eksplorasi aviasi dan antariksa dengan Malaysia berlanjut. Peluncuran satelit telekomunikasi Malaysia MEASAT-3 dari kosmodrom Baikonur di Kazakhstan pada Desember 2006 merupakan kesuksesan besar dari kerja sama tersebut.

Vietnam: Langkah Bayi

Setelah penerbangan spektakuler kosmonot Tuan, Vietnam dan Rusia sepakat untuk menjalankan kerja sama yang lebih produktif. Pada 1980-an, Rusia membantu Vietnam membangun stasiun satelit darat dan bergabung dengan ilmuwan Vietnam untuk mempelajari fotografi dari luar angkasa.

Proyek gabungan Vietnam-Rusia dari Russian Science Academy (RSA) yang membangun satelit telekomunikasi dan riset Bumi dari luar angkasa dikenal sebagai proyek Vinasat dan Vinzor. Proyek Vinasat masih berlangsung dengan melibatkan sejumlah institut Vietnam dan Rusia. Proyek Vinasat juga termasuk mempelajari, memproduksi, dan meluncurkan satelit telekomunikasi untuk penyiaran radio dan televisi, serta jaringan telepon dan internet.

Menurut Profesor Valery Resetnicov dari RSA, Vietnam dapat membangun satelit telekomunikasi, yang akan diluncurkan ke orbit geostasioner menggunakan roket Proton Rusia. Selain itu, Rusia akan membantu Vietnam membangun pusat komunikasi dan kontrol satelit di Vietnam atau membangun fasilitas kontrol satelit di Rusia berdasarkan permintaan Vietnam.

Penerbangan Masa Depan

Terdapat lebih dari 55 badan antariksa pemerintah di dunia, dan negara Asia dan AEAN menjadi lembaga yang paling kompetitif dan serius di bidang ini. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan tiga alasan utama. Pertama, negara-negara Asia mengalami kemajuan ekonomi yang pesat sehingga mampu menjalankan misi yang terbilang mahal. Kedua, mereka memiliki banyak talenta berbakat di bidang teknik rekayasa. Ketiga, bantuan teknologi dan pendampingan dari Rusia akan membantu mereka mengambil lompatan besar dalam bidang antariksa.

Namun, tak semua kemitraan yang dijalankan Rusia hanya sebatas membantu negara yang tertinggal di bidang teknologi antariksa. Ada pula kemitraan gabungan. Pada April 2015, Moskow dan Beijing mengumumkan proyek gabungan untuk mendirikan stasiun Rusia-Tiongkok di Bulan. Mengingat kemampuan Rusia dan kemakmuran Tiongkok, hal itu sepertinya mungkin terealisasi.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.