Senjata Rusia Hadapi Tembok Ekonomi Barat

Tank T-90.

Tank T-90.

Sergey Karpov
Meski secara teknologi lebih unggul, senjata Rusia menghadapi pemboikotan virtual di Barat. Namun, hal ini sangat berbeda di Asia.

Senjata Rusia cukup baik bagi Tiongkok dan India — negara-negara yang mampu membeli senjata terbaik di dunia — namun dunia Barat sepertinya memboikot senjata tersebut secara tak tertulis. Kecuali Yunani dan Siprus, tak ada negara Barat yang melirik sistem pertahanan Rusia.

Ada semacam diskriminasi ekonomi terhadap Rusia. Jauh sebelum Barat meluncurkan sanksi, perusahaan Rusia telah berjuang keras melawan boikot tak tertulis atas produk mereka. Hanya segelintir pencinta senjata di AS yang mengimpor senjata Rusia seperti senapan Kalashnikov, dan jelas mereka tak membeli dalam jumlah banyak.

Peran yang disematkan Barat terhadap Rusia adalah menjadi pelengkap bahan mentah bagi ekonomi Dunia Pertama. Menurut Leonid F. Fitunin, Direktur Pusat Studi Strategis dan Global yang berbasis di Moskow, “Alasan untuk hal ini bukan hanya ketidakmampuan Rusia memproduksi benda berteknologi tinggi untuk bersaing di pasar Barat karena kualitasnya yang dianggap lebih inferior. Tantangan politik, administratif, serta birokratik di Eropa dan Amerika membuat produsen Rusia kesulitan mendukung produsen lokal mereka untuk mengimpor komoditi Rusia yang secara teknis lebih unggul (senjata, turbin, perangkat militer, dan lain-lain). Hal itu kerap dilihat sebagai ancaman keamanan. Bahkan mengimpor minyak dan gas Rusia, yang tak dipermasalahkan pada masa Perang Dingin ketika Rusia masih menjadi negara kuat dan adidaya, kini dilihat sebagai instrumen dominasi dan ketergantungan terhadap Rusia.”

Pelanggan Rusia

Sebaliknya, Rusia menjadi importir utama di Tiongkok dan India, khususnya di bidang persenjataan dan perangkat militer. Tiongkok, yang memiliki cadangan dana tiga triliun dolar AS, lebih memilih teknologi Rusia. Bos-bos besar di Beijing bukan orang bodoh, mereka penguasa masa depan. Mereka tak hanya ingin mempertahankan kekuatan Tiongkok menggunakan perangkat Rusia, tapi juga menyadari bahwa sistem persenjataan Rusia lebih unggul dari perangkat buatan Barat.

Akuisisi terbaru Tiongkok termasuk pesawat pengembom-tempur generasi ke-4++ Su-35 dan sistem pertahanan udara Triumf S-400. Gairah Tiongkok untuk memiliki senjata Rusia juga didorong oleh keinginan untuk menyerap teknologi pertahanan canggih yang tak mereka miliki.

Sebagai contoh, Tiongkok saat ini bergantung terhadap mesin Rusia bagi jet siluman J-20 dan J-31 mereka. Pengamat industri militer dapat melihat kesulitan yang dihadapi insinyur Tiongkok saat berupaya memiliki teknologi AS. Pesawat tempur siluman Tiongkok banyak yang berbasis teknologi siluman AS yang diakses oleh peretas Tiongkok, dan desainer Tiongkok memproduksi pesawat tersebut sebelum Amerika berhasil menyempurnakan pesawat tempur siluman F-35 mereka sendiri.

Di sisi lain, mesin Rusia terbukti sulit untuk diutak-atik. Kebutuhan untuk mengintip mesin Su-35 merupakan salah satu alasan Tiongkok menghabiskan miliaran dolar AS untuk mendapatkan 24 pesawat canggih tersebut.

Anda dapat gambarannya — teknologi Rusia jauh lebih rumit daripada yang dianggap para pengamat Barat. Dengan terus “disuapi” rilis pers Pentagon dan kadang bekerja sebagai reporter di medan perang, kebanyakan jurnalis Barat tak mampu memberi penilaian yang informatif. Mereka juga sadar, mereka tak boleh mengigit tangan yang memberi mereka makan. Jika Anda bekerja di perusahaan Amerika, Anda tak bisa menulis apapun yang menggambarkan perangkat pertahanan Amerika bukan teladan unggul. Hasilnya, objektivitas pun terlupakan.

Pemikiran yang tertutup itu juga bisa merusak diri mereka sendiri, karena hal itu menghalangi masyarakat dan pengamat membandingkan kekuatan dan kelemahannya secara objektif. Hanya saat perang berakhir masyarakat akan tahu bagaimana efisiensi senjata Barat dibanding musuh terlatih. Musuh semacam itu tak akan seperti Irak yang diserang oleh lebih dari 40 negara dan tak memiliki militer yang bersemangat. Jika AS harus melawan Tiongkok, Vietnam, atau India, baru mereka akan menghadapi perlawanan nyata. Jelas, saat itu sudah terlambat untuk mengubah desain senjata.

India menginvestasikan 25 miliar dolar AS untuk proyek pesawat tempur siluman Rusia PAK-FA. Mereka juga membeli Sukhoi-30 Flanker, tank T-90, dan kapal tempur siluman. India mengalokasikan lebih dari seratus miliar dolar AS untuk perangkat militer dalam dekade ini dan sebagian besar dari dana tersebut ditujukan bagi pembelian senjata Rusia. Meski industri pertahanan Barat juga membuka cabang di New Delhi dan ingin menjajakan pesawat, kapal selam, dan misil mereka, India tetap bertahan dengan Rusia karena pengalaman medan tempurnya menggunakan senjat Rusia telah terbukti positif.

Realitanya adalah senjata Rusia memang ditujukan untuk beroperasi — mereka adalah kuda pekerja. Bahkan pada masa awal Perang Dingin saat Moskow kesulitan mengejar Barat di bidang persenjataan, kualitas senjata Rusia telah dikenal di Barat. Saat itu kepetingan perusahaan dan jurnalisme Barat belum ternodai. Pada 1958, majalah TIME menulis, “Senjata Rusia secara umum memiliki desain yang lebih sederhana dan lebih dinamis. Selama ini Barat menganggap Soviet membuat senjata sederhana karena mereka tak mampu membuat senjata kompleks. Kini Barat sadar bahwa kesederhanaan menunjukkan tingginya kecakapan rekayasa teknis.”

Kesimpulan Penting

Pertimbangan geopolitik memainkan peran kunci dalam pilihan penyedia senjata. Itu tak akan berubah. Namun faktor lain yang tak dapat diprediksi dapat mengubah rancangan pertahanan suatu negara. Sebagai contoh, pesawat tempur siluman F-35. Pesawat ini ditujukan menjadi senjata penyerang yang menjadi solusi bagi AS dan sekutunya.

F-35 seharusnya menggantikan semua pesawat tempur yang ada karena akan memainkan semua peran yang saat ini dilakukan oleh sejumlah pesawat tempur seperti F-15, F-18, F-16, dan tank pembunuh A-10. Ternyata, F-35 adalah pesawat tempur yang sungguh tak berguna yang telah menyia-nyiakan anggaran pertahanan Amerika sebesar satu triliun dolar AS.

Jepang dan Australia berencana membeli sekitar 70 buah F-35 untuk menggantikan F-15 dan F-18s mereka. Kini lupakan kelemahan pesawat seperti kurangnya daya dorong, daya tembak, dan dorongan mesin. Kekhawatiran Jepang dan Australia yang lebih besar adalah F-35 akan sangat mahal untuk dioperasikan, sehingga mereka harus memotong jumlah penerbangan latihan bagi pilot mereka. Kedua, pesawat ini akan menghabiskan puluhan jam untuk perawatan bagi tiap jam penerbangan, artinya jumlah armada yang tersedia lebih rendah. Dalam perang, ada perbedaan antara menang dan menangis.

Dengan latar belakang ini, negara-negara Asia harus bertindak lebih pintar dari Jepang dan Australia untuk memastikan mereka menghabiskan uang mereka dengan bijak.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.