Rusia Bertaruh untuk Pesawat Tiltrotor Tanpa Awak

Press Photo
Pada pameran udara MAKS 2015 lalu, Rusia menampilkan beberapa konsep proyek pesawat yang terbang menggunakan konfigurasi tiltrotor (dengan mesin baut berputar yang memungkinkan pesawat melakukan pendaratan dan lepas landas secara vertikal, melakukan penerbangan horizontal berkecepatan tinggi, dan mampu melayang di satu tempat).

Dalam pameran tersebut, Russian Helicopters menyajikan pesawat tanpa awak multiperan baru yang menjanjikan dengan baling-baling miring, memutuskan untuk membangun kembali pesawat yang pernah dikembangkan Soviet sebelumnya.

Pada awal 1970-an, insinyur Soviet mulai mengerjakan proyek Mi-30, yang memiliki kapasitas lima ton. Rancangan tersebut juga termasuk dalam program Pengembangan Senjata Periode 1986-1995. Namun, karena kesulitan ekonomi, proyek ini tak pernah mencapai tahap riset dan pengembangan.

Saat ini, Russian Helicopters tengah menyempurnakan teknologi yang kritis tersebut, terang rilis pers perusahaan. Berdasarkan rancangan itu, seluruh lini pesawat, baik yang berawak maupun tak berawak, dapat dibuat. Tak ada detil lebih lanjut yang disampaikan mengenai proyek ini.

Pengembangan pesawat tiltrotor lain yang menjanjikan juga ditampilkan di MAKS. Kronstadt Group of Companies (divisi aviasi, ditempatkan di bawah manajemen terpisah setelah reorginasi Transas Group of Companies) menampilkan kendaraan tanpa awak berkecepatan tinggi, Frigate, yang juga dapat dikategorikan sebagai tiltrotor, karena memiliki mesin yang bisa berputar.

Pesawat Amerika Bell V-22 Osprey

Satu-satunya tiltrotor yang sudah diproduksi secara berseri adalah pesawat Amerika Bell V-22 Osprey, yang mengudara pertama kali pada 1989, namun hanya digunakan hingga 2005. Pesawat tersebut membutuhkan pilot dan digunakan sebagai pesawat transportasi militer, dalam operasi anti-kapal selam, serta misi pencarian dan penyelamatan.

Menurut perancang Frigate, pesawat ini mampu melakukan pendaratan dan lepas landas secara vertikal maupun seperti pesawat biasa. Pesawat ini dapat digunakan kala tak ada landasan yang layak untuk menjadi lahan pendaratan atau lepas landas. Frigate dapat mengangkut satu hingga 1,7 ton kargo, tergantung dari metode lepas landas. Ia juga dapat bertahan di udara hingga sepuluh jam. Selain itu, Frigate mampu melaju dengan kecepatan yang jauh melampaui bagi helikopter biasa - 600-700 km/jam. Pesawat ini dirancang untuk mengangkut kargo dan perangkat mata-mata udara.

Perwakilan Kronstadt mengumumkan bahwa seri produksi Frigate akan dimulai pada 2022, dan pendanaan akan disediakan oleh Advanced Research Foundation (ARF) serta Bank untuk Pengembangan dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri (VEB).

Dalam beberapa tahun terakhir, rencana untuk menciptakan pesawat tiltrotor tanpa awak terus bergaung di Rusia. Pada awal Februari 2015, mereka memulai uji coba kendaraan tanpa awak Rusia Era-50 yang dirancang sebagai pesawat tiltrotor.

Menurut Razroev, perwakilan dari perusahaan Kazan Aeroks, pengembang Era-50, dengan menggunakan konfigurasi aerodinamis tiltrotor, mereka dapat mengabaikan kebutuhan untuk memekanisasi komponen sayap dan ekor pesawat.

Era-50 berbobot lima kilogram dan dapat mengangkut beban seberat 1,5 kilogram. 'Kakaknya', Era-100, yang akan diuji coba dalam beberapa bulan mendatang, akan berbobot 20 kilogram dan dapat mengangkut beban 2,5 kilogram. Kedua pesawat merupakan tiltrotor, yang mampu terbang dan mendarat secara vertikal, mengendalikan kecepatan tinggi dalam penerbangan horizontal, dan melayang di titik yang diinginkan.

Aeroks Company menyebutkan, pembeli potensial teknologi baru ini bisa berupa masyarakat sipil maupun militer, yang telah menandatangani kesepakatan awal sebelumnya.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.