Lima Hal yang Dapat Dipelajari dari Pameran Senjata Rusia RAE 2015

Bulan ini, merupakan bulan terakhir pameran Russia Arms Expo ke-10 yang digelar di kota Nizhny Tagil, Ural. RBTH menyorot lima hal utama dari salah satu pameran senjata terbesar di dunia tersebut.

1. Rekor jumlah pengunjung

Menurut penyelenggara pameran, dalam tiga hari pameran tersebut dikunjungi oleh 50 ribu orang dari 65 negara, termasuk Turki, Korea Selatan, Prancis, Yordania, dan termasuk Indonesia.

2. Ketertarikan terhadap kendaraan lapis baja Rusia meningkat

Dalam pameran ini diumumkan bahwa Rusia menandatangani kontrak dengan India untuk memasok suku cadang bagi tank T-72, serta bepartisipasi dalam program modernisasi armada BMP-2 milik tentara India. Selain itu, jumlah negara Timur Tengah tertarik memiliki sistem untuk memodernisasi tank yang telah mereka miliki, dan mengubah mereka menjadi kendaraan pendukung tempur untuk tank BMPT-72. Tank T-72 saat ini sudah dimiliki oleh Irak, Iran, Suriah, dan Yaman.

3. Armata dan ranpur tanpa awak BMP kini sudah siap dipesan

Untuk pertama kalinya, para tamu asing dapat melihat tank T-14 dan BMP T-15 yang dibuat berdasarkan Armata dari dekat. Menurut Wakil PM Rusia Dmitry Rogozin, ekspektasi Rusia terhadap potensi ekspor kendaraan lapis baja yang dibuat berdasarkan Armata tersebut, cukup tinggi.

Traktorniye Zavody Concern memamerkan kendaraan tempur terbaru mereka, Derivatsiya dan Dragun yang dirancang berdasarkan BMP-3. Derivatsiya dan Dragun memiliki modul tempur kendali jarak jauh, yang dilengkapi dengan meriam otomatis 57 mm AU-220M dan meriam 100 mm 2A70.

Hal baru lainnya adalah ranpur tanpa awak BMP. Ranpur tersebut sama seperti BMP-3 namun dengan sistem Vityaz baru. Dengan sistem tersebut, BMP dapat dikendalikan dari jarak jauh dan terlibat dalam operasi “network-centric”.

Myanmar dan Maroko mengajukan aplikasi untuk mendapatkan BMP-3 versi dasar.

4. Rusia harus mencari substitusi impor dan tak boleh mengisolasi diri

Topik diskusi utama dalam pameran tersebut ialah peran kompleks industri militer Rusia dalam cengkraman sanksi Barat. Peserta diskusi menyimpulkan bahwa meski sanksi tersebut juga berdampak positif terhadap industri pertahanan, Rusia tak boleh mengisolasi diri dari substitusi impor. Rusia perlu bekerja sama dengan negara lain, khususnya wilayah Asia Selatan, untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kompetisi di pasar dunia.

5. Pencitraan senjata Rusia

Banyak diskusi didedikasikan untuk pencitraan produksi militer Rusia. Menurut beberapa peserta diskusi, sebuah citra industri pertahanan bukan sekadar elemen pemasaran, namun juga elemen soft power. Oleh karena itu, pencitraan produksi militer harus diberi perhatian khusus.

Efektif, dapat diandalkan, dan sederhana untuk digunakan adalah kelebihan utama senjata Rusia, dan sifat inilah yang akan dipakai untuk mempromosikan teknologi Rusia ke luar negeri.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.